My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 21



Dexter memijat pangkal hidungnya berkali kali, hingga malam hari pekerjaannya tak kunjung selesai. Pria itu melepaskan kacamata beningnya, dia bangkit dan melirik ke arah jam yang tergantung di dinding.


Waktu sudah menunjukan pukul 11 malam. Dexter men*desah pelan, lalu dengan cepat membuka kemejanya yang lusuh dan sudah tidak sedap lagi untuk di hirup.


Suasana apartemen cukup sepi, Dexter keluar dari ruang kerjanya. Sehabis makan malam pria itu segera merampungkan pekerjaannya tanpa menunggu Luciana selesai.


Selepas kejadian pertanyaan yang menjebak dirinya sendiri saat didalam mobil kemarin, Dexter sedikit berhati hati sekarang. Bahkan dia harus beberapa kali mengalihkan perhatian Luciana agar wanita itu melupakan pertanyaan yang belum sempat dia jawab.


Bukan belum sempat, lebih tepatnya Dexter tidak tahu harus menjawab apa. Untung saja otak cerdas dan licinnya segera mencari celah untuk menghindar, Dexter kembali mengarahkan Luciana kemasalahnya dengan Marcho hingga wanita itu tidak lagi bertanya.


Dan sekarang Dexter harus menyelesaikan semuanya dengan cepat, karena dia tahu semakin lama Marcho mengulur waktu maka semakin besar kesempatan pria sialan itu untuk bisa kembali mendapatkan Luciana.


"Sialan! aku tidak akan membiarkannya!" gumam Dexter penuh emosi.


Pria itu melemparkan kemejanya ke sofa dan bergegas keluar. Kedua tungkai kokohnya berjalan menuju dapur, tenggorokannya terasa kering setelah banyak meneguk kopi hitam dan sekarang dia ingin menikmati sedikit vodkanya untuk malam ini saja.


Dexter membuka lemari es, tubuh setengah telanjangnya terekspos, hawa dingin yang keluar dari lemari pendingin tidak membuat Dexter terganggu. Justru suara langkah pelan seseorang lah yang berhasil membuatnya menoleh, tangannya sudah memegang botol vodka miliknya, sementara kedua matanya tertuju pada seorang wanita yang tengah berjalan ke arahnya sembari menggosok matanya.


Tampilannya begitu berantakan, tapi entan kenapa justru terlihat semakin sexy dimatanya.


Dexter meneguk vodkanya sembari bersandar di pantry, dia memberikan akses pada sang wanita untuk mendekat ke arah lemari es. Sepertinya wanita itu terbangun karena kehausan?


Suara tegukan yang sang wanita keluarkan berhasil membuat Dexter menghentikan gerakan tangannya, alis pria itu menukik, dahinya berkerut dan kedua matanya menatap lekat pada sesuatu yang ada di tangan wanita itu.


"Astaga, dia minum-,"


"Kenapa rasanya pahit?" gumam sang wanita memutus ucapan Dexter.


Dia mengernyit, kedua matanya yang belum terbuka sempurna hanya bisa menyipit, berulang kali dia melihatnya- namun cahaya remang tidak mampu membuatnya melihat dengan jelas.


Justru bukannya mengembalikan benda aneh itu, sang wanita justru kembali meneguknya dan kini makin banyak.


"Tidak buruk. Rasanya lebih nikmat dari sebelumnya, dan sepertinya beban yang ada di kepalaku sedikit berkurang," wanita itu terkekeh pelan dan kembali meneguknya.


Entah sudah berapa banyak yang dia minum, yang jelas semakin dirinya menikmati maka semakin ringan beban yang ada di dalam otaknya. Sementara Dexter yang masih diam memperhatikan tidak berbuat apa pun, dia membiarkan wanita itu menghabiskan vodkanya.


Dexter menghela napas pelan, dia meletakan botol vodkanya lalu mendekat pada Luciana yang mulai oleng.


"Kau sudah mabuk, jangan minum lagi!" Dexter merebut botol vodka dari tangan Luciana.


Wanita itu sempat menolak dan mempertahankan apa yang ada di dalam genggamannya. Tapi kekuatan Dexter yang lebih kuat darinya membuat Luciana kalah.


"Sedikit lagi, biarkan aku menghabiskannya!" racau Luciana.


Dexter tidak menanggapi, pria itu justru meraih tubuh yang hanya terbalut piyama tidur cukup terbuka, lalu membawanya keluar dari area dapur.


Luciana meronta, dia mencoba turun dari gendongan orang yang membawanya tapi tetap saja tidak berhasil.


"Turunkan aku! kau tidak berhak memperlakukan ku seperti ini, Marc. Aku juga butuh kebebasan, dan kau harus membebaskanku. Bukankah kau bilang kalau aku hanya gadis yang dijual karena uang, jadi tolong lepaskan aku. Kau tidak mencintaiku jadi untuk apa kau masih mengikatku seperti ini, aku lelah Marc tolong lepaskan aku!"


Luciana terus saja meracau, wanita itu bahkan memukul dada dan bahu orang yang masih membawanya tanpa beban.


Tangisannya kembali pecah saat Dexter meletakan tubuh Luciana diatas tempat tidurnya, pria itu tidak segera menjauh justru Dexter masih berada di atas tubuh Luciana. Satu tangannya terulur mengusap air mata wanita itu yang semakin mengalir.


Perlahan Dexter mendekati wajah cantik Luciana, menatapnya lekat hingga akhirnya satu kecupan dia daratkan di dahi sang wanita.


"Ssstt- don't cry! aku ada disini. Tenanglah, pria sialan itu tidak akan bisa melakukan apa pun padamu selama aku masih hidup. Tenangkan dirimu oke, izinkan aku menemanimu malam ini. Tidurlah Rapunzel, mimpi yang indah dan lupakan hal yang membebanimu selama ini." bisiknya pelan, bahkan Dexter kembali memberikan kecupan cukup lama dan dalam di dahi Luciana.


Sebenarnya kedua matanya tertuju pada bibir merah itu, tapi Dexter berusaha menahan lolongan Serigala Gurunnya yang mulai menggila.


'Tahan Nio tahan!' des*ahnya dalam hati.



MAKIN PUSING YE BANG



ADUH ADUH GIMANA GAK MELOLONG TUH SI SERIGALA GURUN😂😂😂😂