
Luciana mengusap air matanya berkali kali, hatinya hancur saat melihat hasil persidangan cerai perdananya dengan Marcho.
Semua yang menjadi kacau, Marcho berhasil membalikan keadaan- membuat dirinya tersudut. Bahkan semua bukti yang Dexter berikan sama sekali tidak dapat membuat sang Hakim memutuskan perceraian dengan cepat.
Alhasil Dexter meminta penundaan sidang, karena kalau mereka ngotot- Marcho lah yang akan memenangkannya. Marcho dan Luciana tidak akan berpisah di meja hijau karena Hakim tidak mengetuk palu di tangannya.
"Aku takut, inilah yang aku takutkan. Marcho tidak akan melepaskan ku dengan mudah, dia akan memanipulasi semuanya. Menjadikan aku sebagai terdakwa, bahkan bisa saja kau juga akan terlibat nanti." Luciana menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
Dia tidak berani menatap sang Pengacara yang masih setia mendengarkan keluh kesahnya. Luciana tahu kalau Dexter pasti sama kecewanya, mereka berdua tidak mendapatkan apa yang diharapkan.
"Aku akan menyelesaikannya secepat mungkin. Tuan Simon memang sangat licik, aku tidak menyangka kalau dia akan memanipulasi semuanya. Bahkan Ayah mu pun ikut serta, apa dia sudah tidak waras? bukankah kau putrinya, kenapa dia malah membela orang yang sudah jelas membuat anaknya menderita." Dexter mendesis. Dia teramat kesal, baru pertama kalinya Dexter tidak dapat menyelesaikan kasus dalam sekali persidangan.
Ini cukup alot dan menyita waktu. Mungkin kalau bukan Luciana yang dia dampingi, Dexter sudah pergi dan malas untuk mengurusnya lagi.
"Tapi dia pasti akan lebih berbahaya lagi. Bahkan mungkin karir anda akan-,"
"Kau masih percaya padaku bukan?" sela Dexter cepat.
Tanpa ragu dia meraih kedua tangan Luciana. Netra keduanya bertemu, saling mengikat- disaat Dexter menatap dalam dan sarat akan sesuatu, Luciana justru terlihat gugup dan khawatir di buatnya.
"Aku takut orang baik seperti anda akan celaka hanya karena masalah ini. Aku tidak mau ada orang lain yang-,"
"Trust me okey! semuanya akan baik baik saja. Jadi sekarang berhentilah menangis, buktikan pada suami gila mu itu kalau kau bukan wanita lemah!"
Kali ini Dexter menangkup wajah Luciana, menatapnya semakin lekat. Bahkan sadar atau tidak pria itu makin mendekat dan merapat pada klien cantiknya.
"Tuan Dexter," panggil Luciana pelan.
Tubuhnya reflek mundur, kedua mata Luciana mengerjap cepat dan berusaha melepaskan kedua tangan Sang Pengacara dari pipinya.
"Jangan seperti ini! nanti kalau kekasih mu tahu dia akan semakin salah paham." lanjutnya.
Dexter yang tadinya mulai tidak sadar sontak terkejut. Pria itu mengerjap, lalu menjauhkan diri dari Luciana. Ucapan yang wanita cantik itu lontarkan berhasil menariknya dari bisikan setan yang semakin gila.
Kekasihmu? kata itu yang berhasil membuat Dexter terperangah. Dia menatap heran pada Luciana, kenapa wanita ini bisa mengatakan hal itu? memang wanita mana yang menjadi kekasihnya?
Dexter mengusap kasar wajahnya, dia menjauh dari Luciana dan bersandar nyaman di kursi pengemudi. Ekor matanya masih melirik pada wanita yang ada di sisinya, kerutan di dahinya kian dalam saat Luciana tidak kunjung menjawab.
"Kenapa kau bisa menyimpulkan kalau aku memiliki keka-,"
"Wanita yang beberapa waktu lalu datang ke apartemen, bukankah dia adalah kekasih anda? aku merasa tidak enak padanya. Pasti dia sudah mengira hal yang bukan bukan dan marah pada anda karena kehadiran ku disana. Maaf, karena sudah membuat anda dan kekasih anda salah paham. Aku harap, aku bisa bertemu dengannya dan menjelaskannya." celoteh Luciana.
Wanita itu memilin jari jemarinya, kepalanya menunduk- suaranya terdengar lirih dan penuh rasa bersalah.
Sementara Dexter, pria itu kian dibuat terperangah. Senyuman samar terbit di bibirnya, bukan hanya senyuman tapi raut tidak percaya.
"Dia bukan kekasihku!" sahutnya tegas.
Dexter menghela napasnya, dia kembali menatap kearah depan dengan pandangan lurus.
"Dia mantan klienku dulu." imbuhnya.
Luciana melirik, wanita itu bungkam dan melipat bibirnya dalam. Terlihat gugup dan tidak enak, dia merasa sedang menginterogasi pria ini, padahal niatnya hanya meluruskan bukan seperti ini.
"Jadi dia bukan kekasih anda? tapi kenapa wanita itu terlihat sudah terbiasa keluar masuk apartemen. Apa setiap klien yang anda tangani memiliki akses khusus agar dapat keluar masuk dengan mudah? apa aku juga termasuk?"
Luciana kian gencar mencecar. Raut wajahnya yang polos saat berbicara membuat Dexter kalang kabut. Terlebih wanita itu bertanya kenapa bisa Angelina berlagak layaknya tuan rumah di apartemennya waktu itu? Dexter merasa terjebak oleh ucapannya sendiri.
Tidak mungkin kan dia mengatakan pada Luciana kalau wanita itu adalah salah satu Oase untuk memuaskan Serigala Gurunnya.
'Sialan! aku harus menjawab apa?' resahnya dalam hati.
PUSING YE BANG 😂😂😂
POLOS POLOS MENGHANYUTKAN 🏃🏃🏃