
Dexter mengedarkan pandangannya ke setiap penjuru tempat yang dia lihat, pria itu terlihat frustasi saat dirinya tidak menemukan orang yang dicarinya.
Decakan serta umpatan keluar dari bibirnya, Dexter mengigit bibir bawahnya, kedua bola matanya bergerak liar berkeliling memindai area yang dia lewati.
"Kau kemana? jangan bilang kau pergi setelah melihat- sialan! kau benar benar menjijikan Antonio!" desisnya lagi.
Kedua kaki jenjang berotot milik Dexter kembali melangkah, kini dia berjalan menuju tempat yang cukup ramai- Dexter berharap kalau Luciana ada diantara mereka yang berkeliaran disepanjang jalan.
Tapi sayang lagi lagi harapan dan keinginan Dexter musnah, diantara mereka tidak ada Luciana atau pun wanita yang mirip dengan Luciana. Dexter kian frustasi, dia menjambak rambutnya sendiri, bahkan dengan bodoh Dexter memukul udara didepannya.
Sungguh pria itu amat menyesali apa yang terjadi semalam. Kenapa dirinya sampai mengigau dan bermimpi bercinta dengan panas bersama Luciana. Dan sialnya percintaan semu yang dia lakukan menghasilkan banyak semburan calon anaknya, nahasnya Luciana melihat itu semua. Tapi yang paling membuatnya kian malu, saat dirinya menggumamkan kata kata ungkapan perasaan yang selama ini dia pendam.
Sayangnya Dexter mengungkapnya secara tidak sadar dan dalam keadaan yang tidak tepat sama sekali.
Pria itu menghela napas kasar, Dexter berbalik- raut wajah frustasinya tidak dapat dia sembunyikan. Dexter terlihat begitu kacau, langkahnya lunglai tak bertenaga. Bahkan pria yang selama ini selalu menang dalam hal apa pun itu terlihat tertunduk lesu.
"AKU TIDAK MAU! AKU DAN KAU SUDAH SELESAI MARC, JADI TOLONG JANGAN GANGGU AKU LAGI!"
Suara teriakan seseorang membuat langkah Dexter terhenti, pria itu mengangkat kepalanya, kedua matanya mengedar liar saat telinga pekanya mendengar suara seseorang yang sejak tadi dia cari.
"Luciana," gumamnya.
Dexter melangkah cepat, dia bergegas mencari dimana asal suara itu berada. Kedua bola matanya tidak berhenti bergerak, Dexter terlihat tidak sabar untuk segera menemukan pemilik suara yang sudah membuatnya hampir terkena serangan jantung.
"Kau akan tetap menjadi milikku, walaupun kita sudah bercerai. Tidak ada yang bisa memilikimu selain aku, Luciana. Tidak ada pria mana pun yang bisa memilikimu termasuk pengacara sialan itu, jangan kira aku tidak tahu kalau pengacara itu begitu menginginkanmu. Aku tahu, aku tidak buta dan aku tidak akan membiarkan dirimu dimiliki oleh-,"
BUGH!
Belum sempat orang itu menyelesaikan ucapannya, Dexter sudah terlebih dahulu memberikan pukulan telak dan keras di wajahnya. Orang itu terhuyung kesamping, seketika darah keluar dari hidung dan area mulutnya, bahkan dia terbatuk dan hampir oleng kalau saja tidak ada bawahannya yang menahan tubuhnya.
"Sudah aku katakan, JANGAN PERNAH LAGI MENGGANGGUNYA!"
Dexter mendelik, kedua matanya menatap penuh amarah pada pria yang menjadi mantan suami dari wanita yang disukainya. Dengan cepat Dexter meraih tubuh Luciana dan menyembunyikan wanita itu dibelakang tubuh besarnya.
"Dia milikku, sampai kapan pun dia akan tetap menjadi milikku! tidak ada satu pria pun yang bisa memilikinya selain-,"
"Itu dia!"
Lagi lagi ucapannya terputus, orang itu mendelik, kedua matanya menatap tajam ke arah orang orang yang mulai mendekat ke arahnya. Rahangnya mengetat saat melihat salah seorang bawahan kepercayaannya membawa beberapa orang pria berseragam rumah sakit.
"Anda harus kembali, Boss! jangan sampai orang orang ini kembali mengurung-,"
"SHUT UP!"
DOR!
Tanpa diduga satu tembakan meletup begitu saja, orang orang yang ada disana seketika menjerit dan menutup kedua telinga serta mata mereka, begitu pula dengan Luciana. Wanita itu reflek mendekap tubuh Dexter, detak jantungnya menggila saat mendengar serta melihat timah panas itu menembus tubuh salah satu pria berseragam rumah sakit.
"BAWA DIA! BERIKAN OBAT PENENANGNYA!"
Salah satu dari mereka memberikan komando, bahkan bawah orang yang menjadi pelaku penembakan itu ikut bergerak membantu untuk menangkap sang Tuan.
"MENJAUHLAH, BASS! ATAU AKU TIDAK AKAN SEGAN SEGAN UNTUK MEMECAHKAN KEPALA-,"
BUGH!
Tanpa perasaan pria berkepala pelontos itu memberikan satu pukulan keras dibelakang kepala Bossnya. Dia terlihat menghela napas dan mengisyaratkan para pria berseragam itu untuk bergerak cepat.
Dexter dan Luciana yang tidak tahu dan mengerti dengan situasi ini hanya terdiam memperhatikan tanpa ingin ikut campur. Mereka membiarkan Marcho dibawa oleh pria pria berseragam rumah sakit itu.
"Tuan Marcho ternyata memiliki gangguan pada kejiwaannya sebelum menikah dengan anda, Nyonya. Aku bahkan baru menyadarinya setelah kalian bercerai, saat ini Tuan Marcho tengah melakukan perawatan disalah satu rumah sakit jiwa. Maafkan atas kekacauan yang dilakukan Tuan Marcho, kalau begitu aku permisi!"
Pria berkepala pelontos itu sedikit membungkuk, dan kemudian berlalu begitu saja. Tapi tidak lama dia berhenti dan kembali menoleh pada Luciana dan Dexter.
"Adik tiri anda juga sudah bebas, saat ini dia tengah berada di Kanada bersama ibunya dan adik kembarnya. Sementara Fharcot, tidak tahu dimana dia berada sekarang. Semoga informasi yang aku berikan berguna untukmu!"
Setelah mengatakan hal itu Bass berlalu, dia segera menaiki mobil yang akan membawanya ke salah satu rumah sakit jiwa untuk mengobati gangguan kejiwaan Tuannya. Sedangkan Dexter dan Luciana masih terdiam ditempat, suasana mulai kembali tenang- Luciana pun sudah melepaskan pelukannya tapi sayang sebelum menjauh Dexter kembali membawanya kedalam dekapan.
"Ayo pulang! ada yang ingin aku bicarakan padamu. Ini penting dan aku mohon jangan pergi kemana pun, kau membuatku hampir gila, Anna." bisiknya lembut.
AYO SAT SET SAT SET ENTAR KEBURU DI COMOT ORANG BANG
ASYIIIAAAPP