
Luciana menyeka keringat yang mengalir di dahinya, dia sudah hampir menyelesaikan tugasnya membereskan apartemen Dexter. Wanita berkulit putih itu sesekali menghirup banyak udara lalu menghembuskannya pelan, sepertinya hari ini pekerjaan yang dia kerjakan cukup melelahkan, padahal setiap hari Luciana melakukan hal ini setelah tinggal bersama Sang Pengacara.
Luciana menyandarkan tubuhnya di meja, kedua matanya tertutup, dia berusaha untuk mengumpulkan tenaganya yang sudah habis terbuang. Keringat masih membasahi dahi, pelipis serta lehernya dan itu tidak lepas dari pandangan Dexter.
Pria yang masih tidak bisa bekerja di kantor firma-nya itu terus saja menatap lekat pada Luciana, sesekali dia menyesap kopi hitam yang dibuatkan oleh wanita itu. Tapi kedua matanya terus saja tertuju pada Luciana, lebih tepatnya tertuju pada leher jenjang yang basah karena keringat.
Entah kenapa Dexter lebih tertarik melihat area itu sekarang, dikedua matanya terlihat sangat sexy dan menggoda. Leher putih jenjang yang basah karena keringat itu ternyata mampu membuat jakunnya naik turun.
Sialan! begini saja dia sudah turn on, dasar Serigala murahan.
Dexter menghembuskan napasnya kasar, pria itu berusaha menahan sesuatu yang mulai memberontak dan meminta untuk di puaskan. Sudah beberapa waktu ini Dexter tidak dapat melakukan apa pun akibat luka di bahunya, jangankan mencari oase untuk menyegarkan Serigala Gurunnya, mengangkat tangan dan memakai pakaian serta dalaman saja Dexter belum bisa.
Malang sekali!
"Ck sial! disaat seperti ini aku tidak dapat menahannya!" desisnya pelan.
Pria itu berbalik, dia terlihat berjalan menuju sofa yang ada di area balkon. Dexter sepertinya ingin mendinginkan otak kotornya sejenak, jangan sampai dia menerkam kelinci lucu yang tengah beristirahat saat ini.
Dengan perlahan Dexter mendudukkan diri, sesekali dia mendesis saat merasakan sesak dibawah sana kian terasa, tapi pria itu hanya bisa memejamkan kedua matanya. Berkali kali menghirup udara, dan menghembuskannya secara perlahan.
Cukup menenangkan untuk otaknya, tapi sayang tidak untuk sang Serigala nya.
Disisi lain Luciana merasa sudah cukup beristirahat, dia kembali memulai pekerjaan yang belum terselesaikan sepenuhnya. Tapi lagi lagi ada hal yang mengganggunya, kali ini bunyi bell pintu apartemen terdengar. Gerakan tangan Luciana terhenti, wanita itu mengernyit dan masih mematung di tempat.
Siapa pagi pagi begini sudah bertamu?
Dengan ragu Luciana mendekat ke arah pintu, ekor matanya sesekali melirik untuk mencari Dexter- karena dia tahu pasti tamu yang datang ini untuk Sang Pengacara, memangnya untuk siapa lagi.
Tapi sepertinya tebakan Luciana kali ini meleset, terlebih setelah dia melihat siapa tamu yang datang di pagi ini lewat layar monitor.
"Ayah, Ibu Marline?" gumamnya.
Luciana reflek mundur, dia menjauhkan tangannya dari kenop pintu, jantungnya berdetak lebih cepat dari pada sebelumnya. Kepalanya seketika pening saat tahu siapa tamu dibalik pintu ini.
"Untuk apa Ayah datang kemari? dan dari mana Ayah tahu kalau aku-,"
Ucapan Luciana kembali tertelan saat bell itu kembali berbunyi, bahkan sekarang lebih keras dan lebih sering dari pada tadi.
"Anna!"
kali ini Luciana mendengar suara panggilan Dexter dari dalam, dia yakin kalau pria itu menyuruhnya untuk membukakan pintu. Bell ini sangat mengganggu dan memekakkan gendang telinga.
Dengan ragu Luciana kembali mendekat, satu tangannya terulur meraih kenop pintu dan memasukan sandi apartemen ini.
Pintu terbuka, perlahan Luciana membukanya, hingga akhirnya-
"KAU BENAR BENAR ANAK SIALAN! GARA GARA KAU ROSSI MENJADI KORBAN, KENAPA KAU TIDAK MAU KEMBALI PADA SUAMI MU DAN MALAH MEMILIH TINGGAL BERSAMA PRIA ASING HUH! KAU TAHU, KARENA KAU EGOIS MARCHO MENGAMBIL PUTRIKU!"
Luciana terdorong kebelakang saat Marline tiba tiba meraung, bahkan mencengkeram tubuh anak tirinya saat Luciana membukakan pintu apartemen.
Wanita paruh baya itu terlihat amat marah, dia melampiaskan semuanya pada Luciana, bahkan Fharcot membiarkan istri keduanya itu menganiaya putri kandungnya sendiri tepat di depan mata.
"HARUSNYA KAU PERGI SAJA DENGAN IBUMU! KAU HANYA ANAK SIAL, KEMBALIKAN PUTRIKU!" raungnya lagi.
Luciana yang masih shock hanya bisa menahan amukan Marline, hingga akhirnya dia merasakan sesuatu keluar dari hidungnya dan tarikan seseorang dari belakang.
"APA YANG KALIAN LAKUKAN DI APARTEMEN KU?! DAN BERANINYA MENYAKITINYA!" bentaknya keras.
Dexter segera meraih tubuh Luciana, mendekap wanita itu erat tidak membiarkan wanita gila yang tidak jauh darinya kembali mengamuk dan menyakiti Luciana.
"DIA SUDAH MEMBUAT PUTRIKU MENJADI KORBAN KEEGOISANNYA, DAN AKU AKAN-,"
"AKAN APA HUH?! KAU AKAN MELAKUKAN APA PADANYA. INGAT SEBELUM KALIAN MENYENTUHNYA LAGI, AKAN AKU PASTIKAN HARI INI JUGA KALIAN BERDUA MEMBUSUK DI PENJARA. PERGI SEBELUM AKU MEMBUKTIKANNYA SECARA LANGSUNG PADA KALIAN, TERUTAMA KAU NYONYA!"
Suara Dexter tidak kalah tinggi, matanya memerah, rahangnya mengetat, tatapannya begitu tajam dan menusuk penuh perhitungan. Bahkan saat ini bahunya kembali sakit, tapi dia tidak peduli- Dexter tetap mendekap erat Luciana yang masih menyeka cairan merah di hidungnya akibat pukulan ibu tirinya.
"Aku tidak akan melepaskan mu Luciana, camkan itu!" desis Marline sebelum dia berlalu pergi dari hadapan Dexter dan Luciana.
Sementara Fharcot, pria tua itu hanya membisu dan menatap lekat pada Luciana yang tidak mengeluarkan suara apa pun.
"Kembalilah pada Marcho, demi Rossi!" hanya itu yang dia ucapkan sebelum berlalu.
Terdengar egois bukan!
Ya sangat egois dan itu semakin membuat Dexter muak, dan ingin bertindak lebih cepat.
'Kau akan mendapatkan balasannya, Fharcot! lihat saja nanti.' desisnya dalam hati.
GAS KEUN BANG DEX
DIA EMANG LEMAH LEMBUT BEGOK BAPERAN, JADI YA PASRAH AJA LAH MUMPUNG ADA YANG BELAIN HEHE