
Luciana menatap datar dan dingin pada pria yang masih mendekapnya, lirikan wanita itu sangat mematikan. Perlahan Luciana melonggarkan dekapannya, todongan pistol yang dia arahkan pada dada kiri Marcho tetap pada posisinya.
Bahkan saat tubuh mereka berpisah, senjata mematikan itu terus saja membidik mangsa yang ingin Luciana lenyap kan saat ini juga. Tapi anehnya Marcho masih terlihat tenang, pria itu seakan tidak peduli dan menganggap apa yang Luciana lakukan saat ini hanya permainan anak kecil.
Tidak jauh dari mereka, Dexter hanya bisa menelan salivanya kasar. Dia tidak menyangka wanita selembut Luciana akan mengambil tindakan seberani ini. Setahunya, saat Luciana memegang pisau dapur saja tangannya bergetar- dan sekarang wanita itu dengan tegas dan tegap menodongkan senjata api yang beratnya berlipat lipat dari pisau dapur tanpa bergetar sedikit pun.
Sial! dia kecolongan lagi.
"Kau mau menembak ku?" Marcho bertanya dengan nada santai. Bahkan pria itu terlihat menipiskan senyumannya, senyum meremehkan
"Aku yakin kau tidak akan berani melakukannya, Luci Sayang. Lihat sekelilingmu, aku yakin sebelum peluru itu sampai padaku- tangan kananmu akan terlebih dahulu terluka." imbuhnya.
Marcho terkekeh, bahkan tawa gelinya terdengar. Pria itu mengarahkan pandangannya ke arah salah satu bawahnya yang terlihat sudah siaga.
"Kemarilah! kembalilah padaku. Aku akan senang hati menyambut kedatanganmu, kita akan membuat pesta kecil kecilan. Kita mengundang keluargamu, rekan kerjaku dan juga pengacaramu- ah mantan pengacaramu, right? karena setelah kita kembali bersama, dia tidak akan menjadi apa pun lagi untukmu!"
Senyuman Marcho kian melebar, bahkan pria itu terlihat merentangkan kedua tangannya. Dia siap menerima pelukan dari wanita yang masih berstatus sebagai istri sahnya. Tapi sayang, angan yang dia inginkan pupus seketika kala melihat Luciana mundur perlahan.
Tatapan wanita itu terlihat kosong, dia menurunkan senjata yang ada di tangannya. Tangannya terlihat lemas, dan itu membuat Marcho menaikan satu alisnya. Senyumannya hampir saja kembali sebelum Luciana kembali menggerakkan tangan kanannya.
Wanita cantik itu mengarahkan pistol yang ada di tangannya pada pelipisnya sendiri. Dan itu berhasil membuat Marcho serta bawahannya tercengang, tidak terkecuali Dexter.
Sang Pengacara terlihat lebih panik dari pada sebelumnya. Rahang pria itu terlihat mengeras, dia mengumpat berkali kali saat melihat tindakan nekat yang kliennya ambil.
Baru kali ini Dexter mendapatkan klien yang pikirannya tidak dapat dia perkirakan.
"Aku akan senang hati kembali padamu, tapi setelah aku menjadi mayat. Kau bisa memiliki tubuhku Marc, tapi tidak dengan jiwaku!" tukasnya.
Jari telunjuk Luciana mulai bergerak, kedua matanya menatap lekat pada Marcho yang masih mematung di tempat. Wajah pria itu memerah menahan amarah, dia tipe orang yang tidak suka dibantah, tapi sepertinya untuk saat ini dirinya harus mengalah.
"Luci, dengarkan aku. Kita bisa bicara baik baik, aku akan-,"
"Tidak ada lagi bicara baik baik dalam hidupku, kalau berurusan dengan mu dan keluarga Fharcot. Kau ingin menjual Rossi bukan? lakukan saja aku tidak peduli. Aku sudah muak dan lelah Marc, kau bisa melakukan apa pun yang kau mau setelah aku mati!"
Klek!
Baru saja Luciana hendak menekan pelatuk pistol yang ada di tangannya. Dexter berlari cepat dan menepis benda itu hingga peluru yang keluar entah menuju ke arah mana.
Dor! Dor
Dua tembakan terdengar, peluru yang Luciana letupkan dan juga peluru yang keluar dari senjata milik bawahan Marcho.
BRUKK!
Tubuh Luciana dan Dexter tersungkur di aspal, keduanya saling tindih- dan berguling di jalanan. Sementara Marcho terlihat menatap datar ke arah istri dan Sang Pengacara.
Tidak lama cairan merah keluar dari balik kemejanya, menetes melewati lengan kekarnya yang terkepal erat. Rupanya peluru yang Luciana letupkan dan berhasil di tepis oleh Dexter tepat mengenai lengan Marcho.
Sementara Dexter dan Luciana masih bergulung diatas aspal. Wanita yang ada didalam dekapan Dexter terlihat memejamkan kedua matanya, sementara Dexter sendiri terlihat meringis namun dia berusaha bangkit walaupun bahunya terasa kebas.
"Kau baik baik saja?" tanya Dexter saat melihat Luciana perlahan membuka kedua matanya.
"Tu-Tuan Dexter, a-anda- Anda berdarah!" serunya diakhir kalimat.
Luciana segera bangkit, dia terlihat panik saat melihat kemeja yang Dexter pakai basah, dan disaat dia merabanya- cairan merah menempel di telapak tangannya.
Wajah Luciana pucat, dia panik setengah mati. Berkali kali wanita itu menelan salivanya dan berusaha membantu Dexter bangkit. Dan sialnya interaksi Sang Pengacara dan klien cantiknya itu tidak lepas dari kedua mata Marcho.
Pria itu menatap tajam, rahangnya mengetat, tangannya mengepal erat. Dia tidak suka dan tidak rela saat melihat Luciana terlihat lebih mengkhawatirkan pria lain di depan matanya.
'Sial! harusnya ku bunuh Pengacara itu!' desisnya dalam hati.
**CIEE YANG DI TEMBAK
MAAF YA BARU UP BANG DEX NYA, DUA HARI INI BADAN KURANG FIT MIGRAN KAMBUH, CUMA BISA UP BANG SIMBA KEMAREN😘😘**