
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Dexter mendudukkan dirinya di sofa setelah memberikan satu kaleng minuman soda pada Luciana.
Pria itu menyandarkan tubuhnya di sofa dengan nyaman, kedua matanya menatap lekat pada wanita yang terlihat masih ragu untuk berbicara.
Bahkan saat minuman soda yang dia nikmati hampir habis setengahnya, Luciana tidak kunjung membuka suara membuat Dexter gemas di buatnya.
Pria itu menghela napas kasar, Dexter menegakan tubuhnya dan menumpukan kedua tangannya di lutut.
"Jadi, apa ada hal yang ingin kau katakan pada-,"
"Aku tidak bisa memakai jasa mu lebih dari ini, Tuan Dexter." sela Luciana cepat.
Wanita itu terlihat ragu dan tidak berani menatap pria yang selama beberapa hari ini menjadi pengacaranya, untuk bisa membantu melepaskan dirinya dari jeratan Marcho.
Dahi Dexter berkerut dalam, raut wajahnya seketika suram dan sangat datar terlihat tidak nyaman untuk di pandang. Bahkan Luciana sampai memalingkan wajahnya ke arah lain gara gara raut wajah Sang Pengacara yang seketika berubah drastis.
"Kau ingin kembali pada suami mu, Nona Fharcot?" tebaknya dengan nada tidak suka.
Tanpa sadar Dexter meremas kaleng soda yang ada di tangannya, matanya menatap tajam pada wanita yang masih terdiam membisu dihadapannya. Namun tatapan tajamnya berubah saat Dexter melihat Luciana menggeleng.
Wanita cantik itu mengangkat kepalanya, memberanikan diri untuk menatap Dexter. Luciana tidak mau pria itu menganggap dirinya enggan berpisah dari Marcho, padahal bukan itu alasannya.
"Bukan! aku sangat ingin lepas darinya, tapi-," ucapan Luciana kembali terhenti, dia melirik ke arah lemari kaca yang dipenuhi oleh mendali emas dan banyak piagam penghargaan.
Pantas saja harga sewa jasa Antonio Dexter semahal itu.
"Tapi apa?" Dexter terlihat tidak sabaran.
"Tapi aku tidak memiliki uang sebanyak yang ada di perjanjian. Maaf, uang ku tidak cukup untuk membayar mu Tuan Dexter. Marcho sudah memblok dan mengambil semua-,"
"Hanya itu?" Dexter memotong cepat.
Pria berkemeja hitam itu menaikan satu alisnya, meneguk minumannya hingga tandas tak tersisa lalu melemparkan kaleng kosong itu ketempat sampah dengan mulus.
"Jadi kau ingin aku melepaskan kasus ini hanya karena uang mu tidak cukup, begitu?"
Luciana mengangguk pelan, wanita itu menunduk dalam sembari memainkan jari jemari lentiknya yang sudah tidak terawat. Bahkan kutek kukunya sudah banyak yang lepas dan itu tidak terlewat oleh kedua mata Dexter.
"Ya, aku tidak memiliki cukup uang sekarang. Kau tahu bukan harga jasa mu sangat-,"
"Kau bisa membayarnya dengan bentuk lain, tubuh mu misalnya?"
Tubuhmu? maksudnya?
"Tubuhmu? maksudnya-,"
"Oh sorry, maksud ku kau bisa membayarnya bukan hanya dengan uang. Apa kau bisa masih bisa bekerja?"
Luciana masih belum paham, perkataan yang Dexter lontarkan tadi masih terdengar ambigu di kedua telinganya. Apa yang dimaksud dengan bisa membayarnya dengan tubuhmu? apa dirinya harus menjual harga diri? atau-
"Aku tidak bermaksud apa pun. Sorry kalau perkataan ku tadi membuat mu sedikit terkejut dan bingung. Maksudku adalah kalau kau memang tidak bisa membayar lewat uang, kau bisa membayarnya lewat tenaga- bekerjalah padaku. Kebetulan saat ini aku sedang membutuhkan seorang asisten, selain untuk mengurus apartemen ini- aku juga membutuhkannya untuk mengurusku. Maksudnya mengurus segala keperluan ku, kadang aku sering lupa untuk-,"
"Baiklah aku mau!" potong Luciana cepat.
Mulut Dexter bahkan belum selesai mengatakan hal yang masuk akan agar wanita ini tidak berpikiran macam macam padanya, walaupun didalam hati serta otak Dexter sudah bermacam macam.
"Kau mau? kau menyetujui usulanku?" tanya Dexter lagi.
Dia kembali meyakinkan Luciana, pria itu menatap serius pada wanita yang terlihat mengangguk yakin.
"Ya, aku setuju. Aku akan bekerja dengan mu asalkan kau bisa membantuku, Tuan Dexter. Aku akan merawat tempat tinggal mu dan menyiapkan segala keperluan mu, jadi kapan aku mulai bekerja?"
Dexter speechless dibuatnya, pria itu menarik salah satu sudut bibirnya mendengar penuturan Luciana. Dia kembali menghela napas, ekor matanya melirik kearah jendela kaca apartemen mewahnya, lalu kembali beralih pada Luciana.
"Setelah kau berpisah dengan suami mu. Tapi kalau kau ingin melakukannya dari sekarang itu tidak masalah, buatlah dirimu senyaman mungkin disini." tuturnya lembut.
Luciana mengembangkan senyumannya, tangannya segera meraih tangan Dexter dan menggenggamnya erat.
"Terimakasih Tuan Dexter, aku tidak akan pernah melupakan kebaikan mu ini." ucapnya tulus dan penuh harapan. Dexter yang sempat tersentak tidak dapat berbuat banyak, dia hanya mengangguk kecil sembari menipiskan bibirnya membalas senyuman Luciana.
'Sial! kenapa tangannya lembut sekali?!' umpatnya dalam hati.
TAHAN BANG TAHAN
NENG RELA JADI INEM BANG