
Luciana menatap lurus ke arah lautan, gaun indah berbahan sifon nya berkibar tertiup angin. Rambut panjangnya tergerai, bergoyang mengikuti gerakan yang angin berikan. Sunset yang terlihat di ufuk barat begitu memanjakan mata, perlahan kedua sudut bibir Luciana terangkat, kepalanya menunduk, mata beningnya menatap lekat ke arah jari manisnya yang ternyata sudah terisi oleh sesuatu.
Sebuah cincin berlian mewah dengan bentuk simpel dan sangat memanjakan mata. Dia mengusapnya pelan, helaan napasnya terdengar dan Luciana kembali menatap ke arah lautan.
Hingga tidak lama tubuhnya tersentak saat dia merasakan seseorang memeluknya dari arah belakang. Kedua matanya terpejam kala Luciana merasakan hembusan napas serta kecupan ringan menerpa tengkuknya.
"I love you."
Gumaman dari arah belakang tubuhnya membuat Luciana kian tersenyum, tapi senyumannya perlahan surut saat tiba tiba kedua telinganya mendengar dering jam weker.
Luciana tersentak, dia merasa terseret ke lorong gelap dan seketika kedua matanya terbuka. Wanita itu menghela napas pelan, kedua matanya menyipit menelisik kesetiap penjuru ruangan. Ternyata dirinya ada di dalam kamar apartemen yang beberapa bulan ini di tempatinya.
Luciana menghela napas kasar, dia meraup wajahnya kasar dan bangkit. Rupanya hari sudah pagi, setelah tadi malam dia tidak bisa memejamkan kedua matanya karena memikirkan ucapan Dexter, hingga pada akhirnya rasa lelah dan kantuk menghampirinya tanpa sadar.
Kemarin, kemarin Dexter mengatakan kalau pria itu ingin menikahinya. Melamarnya secara tiba tiba, dirinya di buat shock setengah mati dan tidak dapat melakukan apa pun.
Bahkan setelah Dexter berlutut dihadapannya pun, disaksikan oleh satu orang wanita paruh baya- Luciana belum bisa memberikan jawaban. Kedua matanya menatap dalam ke arah mata tajam milik Dexter, menyelaminya dan melihat apa yang ada didalam sana.
Kesungguhan! tidak ada keraguan sedikit pun tapi itu juga tidak mampu membuat lidah Luciana mengatakan' Yes, i will'.
Wanita itu malah menghela napas pelan, lalu berkata 'Bisakah kita mengenal satu sama lain terlebih dahulu?'
Bukan menolak lamaran Dexter, dia hanya ingin menjalaninya secara perlahan bukan terburu buru seperti ini. Luciana tidak trauma dengan pernikahan, dia hanya trauma dengan pria yang belum dikenalnya lebih dalam, itu saja.
Dan bersyukurlah Dexter bukan pria egois seperti Marcho, pria itu menerima jawaban yang Luciana berikan dan sekarang hubungan keduanya lebih dekat dari sebelumnya, atau bisa dibilang sebagai pasangan kekasih.
"Kenapa aku jadi gugup seperti ini?" gumam Luciana.
Jujur pagi ini dia tidak berani keluar dari dalam kamarnya setelah menyandang status baru sebagai kekasih Dexter bukan lagi sebagai pelayan atau pembantunya.
"Apa Tuan Dexter sudah berangkat bekerja?" gumamnya lagi.
Luciana bangkit, kedua kaki telanjangnya turun dari atas tempat tidur. Dia berjalan menuju keluar kamar dengan ragu, membuka pintu perlahan dan mengedarkan pandangannya.
Sepi?
Kedua kaki telanjangnya menyusuri ruangan di dalam apartemen itu, hingga akhirnya sampai didapur. Luciana terlihat mengernyit saat melihat kondisi dapur saat ini, sepi tapi ada makanan diatas meja.
Dengan cepat dia melangkah mendekat ke arah meja bar, kedua matanya tertuju pada selembar kertas yang tertindih gelas jus yang masih segar.
"Good morning, Honey. Habiskan sarapan mu oke, hari ini aku harus berangkat pagi sekali jadi tidak bisa menemanimu sarapan."
Luciana membaca pesan yang tertulis disana, sudut bibirnya terangkat. Dia menatap jus dan roti isi daging yang sudah siap dia lahap.
Romantis sekali bukan?
Dexter mulai menunjukan sikap romantisnya saat merayu wanita. Wanita yang sudah menjadi miliknya dan akan menjadi miliknya sampai kapan pun.
🐺
🐺
🐺
"Kau tidak sedang mabuk, kan?" tanya Kenny.
Pria berambut pirang itu mengernyit, menatap heran pada rekan kerja sekaligus temannya itu.
"Ada apa? memangnya ada yang salah?" sahut Dexter santai, bahkan pria itu terkekeh kecil mendengar pertanyaan yang Kenny lontarkan.
Pria albino itu pasti belum tahu dan mungkin tidak akan tahu kalau dirinya tengah dimabuk asmara.
Dexter tidak berniat membeberkannya, dia akan membiarkan Kenny tahu dengan sendirinya nanti.
"I don't care! ada satu berita yang harus kau ketahui, Nio!" Kenny terlihat serius, dia mencondongkan tubuhnya pada Dexter.
"Kau tahu, mantan suami Luci berhasil melukai beberapa perawat yang merawatnya hingga mereka tidak ada yang mau lagi bekerja disana. Marcho menggila, semakin hari pria itu semakin tidak terkendali. Aku yakin pihak pengadilan tidak akan mengabulkan tuntutan mu dan Luci karena kejiwaannya."
Dexter terdiam, dia tidak menyahuti ucapan rekannya. Yang Dexter pikirkan saat ini adalah, kalau Marcho tidak bisa di bui itu artinya pria gila itu akan bebas?
Sialan!
Dan benar saja apa yang di katakan Kenny, didalam sebuah ruangan VIP disalah satu rumah sakit jiwa terlihat Marcho tengah termenung dengan tangan terborgol. Penampilannya jauh dari kata baik, semua yang ada didekatnya hancur tak berbentuk. Mulutnya terus saja menggumamkan satu kata, Luciana.
"Kau bisa menanganinya, Suster Latisya?" tanya Bass pada wanita yang tengah berdiri didekatnya.
Wanita berseragam perawat itu tersenyum, tanpa menatap pada pria tinggi botak yang terlihat datar dan dingin itu.
"Aku tidak yakin, tapi aku akan mencobanya. Tolong tinggalkan kami berdua, menjauhlah dan jangan berani mendekat sebelum aku yang memintanya!" cetus wanita itu.
Bass sempat ingin memprotes, tapi dia tidak bisa. Saat ini Latisya adalah satu satunya perawat yang sudi menerima pekerjaan ini, setelah Marcho berhasil melukai beberapa perawat yang merawatnya belakangan ini.
Tanpa ragu wanita itu masuk, kedua matanya menatap lekat dan memindai pria yang tidak jauh darinya.
Cukup buruk penampilannya, tapi lumayan tampan dan kekar.
"Halo Tuan Simon, perkenalkan aku perawat barumu. Senang berkenalan dengan anda, jadi sekarang kita akan bermain apa, hm?"
SENENG LO YE BANG
COWOK GILA TAPI SEXY 🏃🏃🏃