My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 12



Luciana mengigit bibirnya gugup kala melihat notifikasi yang masuk ke ponselnya. Laporan pemblokiran kartu ATM, rekening dan asuransi yang dia miliki selama ini, padahal uang yang ada disana akan dia pergunakan untuk membayar jasa Sang Pengacara. Tapi kalau seperti ini ceritanya, bagaimana dia bisa membayar Dexter yang tidaklah murah itu.


Helaan napas kasar Luciana kembali terdengar, wanita bangkit- kedua kakinya terus saja bergerak tidak karuan. Dia tengah memikirkan apa yang akan terjadi kedepannya, Luciana yakin kalau semua ini ada campur tangan Marcho. Walaupun pria itu terlihat abai saat dirinya pergi dari istananya, Luciana yakin sekali kalau setiap gerak geriknya terus saja di pantau oleh pria itu lewat bawahannya.


"Aku harus bagaimana sekarang?" de**sahnya.


Luciana kembali mendudukkan dirinya di tempat tidur, kedua matanya tertuju pada jendela kaca kamar yang dia tempati saat ini. Dirinya harus melakukan sesuatu, sudah sejauh ini bukan. Tidak mungkin dia akan mundur begitu saja hanya karena semua uang yang dimilikinya menghilang dalam sekejap mata.


"Aku harus bertemu, Tuan Kenny!" tekadnya.


Saat ini hanya pria berambut pirang itu yang dia harapkan. Luciana berencana akan meminjam sejumlah uang untuk membayar jasa Dexter setelah perceraian ini.


Dengan cepat Luciana keluar dari kamar apartemen Dexter, dia sudah membulatkan tekadnya akan menemui teman lamanya itu.


Di tempat lain, Dexter tengah berbicara dengan Kenny. Kedua pria itu terlihat berbincang, tapi terkesan santai dan seolah hanya mengobrol biasa.


"Kau tahu bukan kalau calon mantan suami klien mu itu agak sedikit berbeda," Kenny mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya, membuat tanda kutip.


Pria itu tahu bagaimana perangai Marcho, dulu Kenny sempat tidak percaya kalau Luciana yang lembut, cantik, baik dan ramah bisa menikah dengan Marcho Simoncelli. Sepak terjang pria berkebangsaan Italia itu memang jauh dari kata minus, karena Marcho begitu lihai menutupinya dengan apik. Kenny tahu kalau Fharcot dan Marcho telah melakukan suatu hal hingga Luciana yang harus di korbankan.


"Aku tahu, kau jangan khawatir. Aku yakin pria gila yang sialnya beruntung itu sedang memata-mataiku sekarang," senyuman tipis Dexter terbit, ekor matanya menelisik tempat yang saat ini tengah dia datangi. Instingnya mengatakan kalau ditempat ini hidupnya tengah di pertaruhkan, nyawanya bisa hilang kapan saja tanpa ada yang tahu- dan itu semua karena pria yang bernama Marcho.


Kenny terkekeh, dia menyeruput kopi mocchaccino-nya dengan santai. Diam diam matanya ikut bergerak seperti Dexter, salah satu sudut bibirnya terangkat kala melihat pada satu titik. Tidak jauh dari mereka ada dua orang pria yang tengah berbincang, tapi Kenny dapat melihat mata mereka tertuju ke arahnya dan Dexter.


"Kau benar, dia memata-mataimu sobat!" cetus Kenny pelan.


Satu alis Dexter naik, kepalanya bergulir mengikuti kemana arah tatapan rekannya. Dahinya mengernyit kala melihat dua orang pria berkaos hitam mengangkat cangkir kopi ke arahnya.


Kenny mengedikan bahunya, pria itu kembali menikmati kopi kesukaannya tanpa khawatir. Sementara Dexter terlihat ragu untuk meraih cangkir kopinya untuk kesekian kali.


"Ayolah aku belum bersenang senang selama beberapa hari ini. Kau tidak akan membiarkan ku mati disini kan?!" Dexter kembali bersuara, kali ini terlihat kesal saat melihat Kenny hanya tersenyum mengejek menanggapinya.


"Itu tandanya kau harus segera sadar Nio, sebelum Tuhan mengambil nyawamu menikahlah dengan wanita. Jangan terus saja bermain dengan ja**lang, hemat bibit mu itu- apa kau tidak ingin melihat bibit yang kau buang percuma tumbuh menjadi Antonio Dexter Junior?"


Kenny semakin menggoda rekannya, dia sangat senang kala melihat wajah buruk yang tengah Dexter tampilkan saat dirinya membahas pernikahan.


Satu kata itu yang tidak akan pernah ada di dalam hidup Dexter. Entah kenapa Dexter memilih untuk menjalin cinta satu malam dengan banyak wanita dari pada menikah dan bercinta dengan pasangan sahnya.


"Aku pergi! kalau ada apa apa kabari saja!" Dexter bangkit, dia sudah kehilangan selera untuk melanjutkan pembicaraan ini setelah Kenny membahas kata pernikahan.


Kenny pun tidak melarang, dia membiarkan Dexter pergi dengan tenang sembari melambaikan tangannya.


"Aku harap racunnya tidak bekerja saat kau menyetir, Nio!" cetusnya dengan kekehan kecil.


Dexter tidak menanggapi, pria itu terus saja berjalan tegap keluar dari area cafe.


"Dasar pengacara mesum dan pemarah! aku berdoa kau akan menginginkan pernikahan secepatnya, tapi pernikahan itu akan sulit kau wujudkan!" gumam Kenny.



BANG DEX, POSENYA NGAJAK BOBO MULU 😭😭