
"What the-, jadi kau dan Luci sudah?" Kenny tidak bisa berkata apa pun lagi saat mengetahui kalau Dexter ternyata bisa mendapatkan gadis lembut seperti Luciana.
Bajingan ini sungguh beruntung, Kenny tidak percaya di buatnya. Dia sampai bingung kenapa Luciana sudi menerima si Serigala Gurun yang suka berenang di oase tanpa adanya hubungan resmi, pacaran atau pun menikah.
"Kau pasti sudah membohongi wanita malang itu, astaga Nio- kau jahat sekali. Wanita baik dan polos itu pasti tidak tahu kalau pria yang menjadi kekasihnya ini adalah seorang casanova yang suka berganti selang*kangan wanita setiap-,"
"Shut up!"
Kenny terkekeh melihat Dexter marah dan kesal, pria bajingan yang ternyata bisa mendapatkan wanita baik didalam hidupnya itu bahkan melemparkan asbak ke arahnya, tapi tidak berhasil mengenainya.
"Kau banyak bicara sekali, Ken! sudahlah aku akan pulang, kekasihku pasti menunggu di apartemen." dengan nada sombong Dexter memamerkan status yang dia miliki saat ini.
Bahkan Kenny hampir muntah dibuatnya, pria berambut pirang itu melempar Dexter dengan berkas yang ada di tangannya saat pria bajingan itu semakin menampilkan kesombongannya.
"AKU HARAP LUCIANA TAHU KALAU KAU SEORANG SERIGALA LIAR, NIO!"
Dexter tidak menyahut, dia hanya menunjukan jari tengahnya pada Kenny dan berlalu pergi dari gedung Firma itu.
Pria berjas licin itu mengendarai mobilnya cukup kencang, dia terlihat tidak sabaran untuk menemui Luciana hari ini. Seharian dia tidak menerima kabar apa pun dari sang kekasih.
Kekasih?
Sudut bibir Dexter terangkat, senyuman kebahagian terpancar di wajahnya. Dia bahagia akhirnya bisa mendapatkan wanita yang selama ini memporak porandakan hidupnya, wanita yang entah mengapa sangat dia inginkan.
Padahal sebelumnya banyak wanita yang mendekat dan memberikan semua yang dia mau, tapi sayang Dexter hanya menikmati madunya saja- setelah cukup bosan ya selamat tinggal. Dia dan para wanita itu hanya melakukan having se*x karena kebutuhan semata, bukan karena cinta dan perasaan.
Sebagai pria dewasa normal dan hidup di negara bebas, Dexter merasa hubungan badan antara wanita dan pria dewasa bukan lagi hal tabu.
Mobil yang dia kendarai mulai memasuki area apartemen, tanpa menunggu setelah mobilnya terparkir di tempat biasa Dexter segera keluar dan bergegas menuju lantai dimana unit apartemennya berada.
Dexter terlihat gugup dan tidak sabaran saat berada didalam lift. Dia menatap pantulan dirinya di dinding, tidak ada yang salah semuanya masih sempurna. Pintu lift terbuka, kedua kaki jenjangnya berjalan cepat, senyumannya mengembang saat pintu unit apartemennya sudah terlihat.
Tanpa mengetuk dan permisi Dexter segera masuk setelah memasukan sandi di pintu, senyumannya terus saja terpatri, kedua matanya mengedar mencari sosok wanita yang dia rindukan sejak tadi.
"Honey!" panggilnya.
Entah kenapa setelah Luciana menerimanya sebagai kekasih, Dexter malah terlihat lebay dan bersikap layaknya seorang remaja laki laki yang tengah puber.
Pria itu melemparkan jasnya, melonggarkan dasi lalu melepasnya begitu saja. Bahkan Dexter membuka beberapa kancing kemeja hitam yang di pakainya hingga membuat dada bidang sedikit berbulunya itu terlihat jelas.
Kedua kakinya berjalan menuju area dapur, dan benar saja orang yang sejak tadi dia cari tengah sibuk mencuci sesuatu. Tanpa menunggu lama Dexter mendekat lalu memeluk tubuh kecil itu dari arah belakang, sang pemilik tubuh tersentak.
Tapi saat dia tahu siapa yang memeluknya saat ini helaan napas leganya terdengar.
"Kau sudah pulang?" tanyanya lembut.
Wanita itu membilas tangannya lalu mengeringkannya dan berbalik menghadap pria yang saat ini tengah mendekapnya.
Senyuman tipisnya terpatri, kedua mata teduhnya menatap Dexter lekat. Luciana menghirup napasnya dalam lalu menghembuskannya pelan. Satu tangannya terulur mengusap rahang tegas berbulu milik pria yang sudah menjadi kekasihnya ini.
Ini bukan bagian dari rencananya, dulu Luciana berencana pergi setelah bercerai dengan Marcho. Pergi sejauh mungkin sampai tidak ada satu orang pun yang dia kenal kembali menemukannya. Tapi ternyata Tuhan berencana lain, dia malah kembali terjebak dengan pesona sang pengacara panas yang beberapa bulan ini dia kenal.
"Kau sudah makan siang?" tanyanya lagi.
Masih dengan tatapan lekat, bahkan saat bertanya Luciana sama sekali tidak berkedip sedikit pun. Dia sedang memindai atau bahkan mengagumi wajah tampan pria yang tengah memeluk pinggangnya ini.
"Ayo kita menikah!" Dexter tidak menyahuti ucapan Luciana, dia malah mengajak wanita itu untuk menikah, dengan wajah serius dan tatapan lembut.
Perlahan Dexter menyapu wajah cantik Luciana, jari jemari besarnya menyusuri lekuk tubuh wanita itu tanpa canggung.
"Ayo kita menikah, dan kita buat keluarga kecil. Aku tidak sabar untuk melihat anak anak kita nanti, Anna. Bisakah kau melihat kesungguhan ku saat-,"
"6 bulan!"
Bibir Dexter mengatup, kedua matanya menatap lekat pada wanita yang tengah menajamkan kedua mata kearahnya.
"Berikan aku waktu satu bulan. Kau tahu bukan alasannya, aku tidak trauma dengan pernikahan- hanya saja aku trauma dengan siapa aku akan menikah. Aku tidak mau kalau-,"
"Kau bisa membunuhku dengan cara apa pun kalau sampai aku bersikap bajingan seperti mantan suamimu itu. Tapi aku juga menghargai keputusanmu, 6 bulan- ya aku akan menunggunya sampai kau siap, Anna." putus Dexter, walaupun hatinya berat menyetujuinya tapi demi bisa meyakinkan Luciana dia rela menunggu selama 6 bulan.
Hanya enam bulan!
'Berpuasalah kau didalam sana selama enam bulan, sobat.' lirih Dexter sembari menatap prihatin pada Serigala Gurunnya.
Sementara ditempat lain
Seorang wanita hanya bisa menghela napas kasar kala melihat pria yang dirawatnya enggan memberikan respon baik.
Pria itu menatap tajam ke arah perawatnya, kedua tangan berotot yang terborgol itu mengepal saat melihat senyuman sang suster.
"Aku akan meninggalkanmu sendiri kalau kau tidak mau ku bersihkan, Tuan Simon. Ayo menurutlah! tidak akan lama, setelah itu kau bisa melakukan apa pun la-,"
"Termasuk menikmatimu!" tukasnya tajam.
Sang suster mengatupkan bibirnya mendengar ucapan pasiennya, dia tersenyum tipis dan tertawa kecil namun tertahan.
"Sayangnya tidak! aku tidak tertarik dengan mu. Menurutlah agar pekerjaan ku cepat selesai! jadilah pria baik dan bermoral untuk kali ini, Tuan Marcho!" Latisya mulai jengah, dia memunguti satu persatu pakaian milik Marcho dan mendekat ke arah pria itu.
Tatapan Latisya yang dalam membuat Marcho sedikit beringsut dan perlahan menjauh tapi sayang dia tidak bisa melakukan apa pun sekarang karena borgol yang mengikat lengannya.
"Aku akan memandikan mu. Ayo, kau akan terlihat tampan setelahnya." rayunya dengan senyuman manis.
**KAYAKNYA BANG DEX SAMA NENG LUCI BAKALAN TAMAT BENTAR LAGI, SI MARCHO MAU DIBIKIN CERITANYA GAK? KAYAKNYA SERU KALO BIKIN LAPAK SENDIRI YA 😘😘😘
KOMEN AJA OKE😘😘**