
Luciana menghela napasnya berkali kali, wanita itu bahkan terus saja memilin jari jemarinya sepanjang perjalanan. Kedua matanya sesekali mengarah ke jalanan, lalu kembali tertuju pada jari manisnya. Disana masih tersemat sebuah cincin pernikahan yang harganya fantastis, cincin yang di pakaikan oleh Marcho saat mereka menikah di hadapan Pendeta.
Sesekali Luciana memutar benda bersejarah itu, dia kembali teringat saat pertama kalinya bertemu dengan Marcho. Pria yang di kenalkan oleh Sang Ayah, bahkan tanpa persetujuan darinya Fharcot menikahkan mereka berdua satu minggu setelahnya.
Luciana sempat menolak dan bertanya pada Fharcot, kenapa dia harus menikah dengan pria yang baru saja di kenalnya?
Farchot hanya mengatakan kalau ini demi kebaikan Luciana sendiri. Bahkan pria tua itu menjamin kalau Marcho akan memberikan apa pun yang dia inginkan nanti. Oke, awalnya Luciana memang mengakui kalau Marcho memperlakukan layaknya seorang Nyonya di kediaman Simoncelli, satu tahun- hingga dua tahun pernikahan keduanya semuanya berubah.
Marcho yang awalnya manis, lembut, penuh perhatian, kini berubah 180 derajat. Pria itu menjadi pemarah, bahkan tempramental saat Luciana bertanya kegiatannya selama seharian ini. Luciana masih bertahan dengan semua sikap kasar yang Marcho berikan, hingga puncaknya dia melihat sendiri kalau suami yang menikahinya selama dua tahun itu berselingkuh di depan kedua matanya.
Luciana bukan wanita kasar, dia tidak mampu meluapkan amarah serta rasa bencinya saat itu juga. Luciana memilih untuk pergi dan membiarkan Marcho melakukan apa pun yang diinginkannya. Sejak saat itu dia bertekad untuk mengakhiri semua drama rumah tangganya, selain luka fisik yang Luciana alami, luka batin pun mulai menggerogotinya.
Lebih parahnya lagi saat Sang Ayah lepas tangan dan tidak mau merangkulnya disaat dirinya terpuruk dan terluka seperti ini.
Sreet!
Dengan sekali tarik Luciana melepaskan cincin itu dari jari manisnya, tanpa beban dia memasukan benda itu kedalam tas kecil yang dibawanya. Tas yang di berikan oleh pengacaranya, bahkan semua yang Luciana pakai hari ini Dexter lah yang membelikannya.
"Kau akan ikut kedalam atau-,"
"Aku akan menunggu disini, kalau aku ikut pasti akan lama. Aku yakin Kenny akan memberikan banyak pertanyaan dan tuntutan padaku," Luciana menyela cepat, wanita itu menipiskan bibirnya. Senyuman tipis yang membuat Dexter tertegun, pria itu mengalihkan pandangannya ke arah lain- entah kenapa senyuman manis yang mengandung banyak luka itu semakin membuat dadanya di remas hebat.
Sebelumnya Dexter tidak pernah seperti ini pada klien kliennya yang lain, mau mereka sakit atau terluka Dexter masa bodoh, yang penting kasus itu dia menangkan. Tapi sekarang sangat berbeda, Dexter bukan hanya ingin memenangkan dan segera menyelesaikan kasus perceraian ini, tapi juga mengingkan sesuatu yang membuatnya selalu dia tidak karuan.
"Baiklah, kau tunggu di sini. Nikmati camilan mu yang ada di kursi belakang, aku akan segera kembali!"
Dexter memakai jas hitamnya, pria itu terlihat merapihkan sedikit penampilannya sebelum dia keluar dari dalam mobil. Ekor matanya masih sempat melirik pada Luciana yang hanya meresponnya lewat anggukan kecil.
Gerakan Dexter sempat terhenti, hampir saja dia berbalik dan memberikan sebuah kecupan untuk Luciana. Untung saja akal sehatnya kembali lagi, mungkin kalau tidak entah apa yang akan terjadi.
Brakk!
Dentuman pintu mobil cukup memekakan telinga, helaan napas kasar keluar dari bibir Dexter- pria itu sejenak mengusap wajahnya kasar sebelum pergi dari sana.
"Aku tidak tahu kenapa bisa seperti ini?!" Dexter terus saja bergumam.
Dia tidak mengerti kenapa dirinya bisa mengingkan sesuatu sampai seperti ini, bukankah biasanya mereka yang menginginkannya bukan dirinya yang menginginkan mereka.
πΊ
πΊ
πΊ
Fharcot meringis kala punggungnya membentur tembok sangat keras, tenggorokannya tercekik oleh sebuah tangan besar milik menantunya.
"A-aku ti-dak tahu, ka-lau Luci akan me-lakukan hal itu," Fharcot mencoba berbicara dan berusaha melepaskan cekikan Marcho.
Kedua matanya sudah memerah, karena cekikan yang menantunya berikan semakin kencang.
"Dia menggugat cerai, Luci ku menginginkan berpisah. Aku yakin kau tahu, karena dia pernah mendatangi rumah mu beberapa waktu yang lalu." desisnya.
Braak!
Tanpa hati Marcho menghempaskan tubuh Fharcot ke arah sofa, ekor mata pria itu melirik tajam pada Ayah dari sang istri. Terlihat datar namun Fharcot tahu kalau menantu kaya raya namun sedikit gilanya ini tengah merencanakan sesuatu.
"Tidak ada yang Luci katakan padaku, dia hanya mengatakan kau sudah selingkuh di hari ulang tahun pernikahan kalian yang kedua. Apakah itu salahku juga, bukankan? itu salah mu menantu, kenapa kau malah bermain secara terang terangan. Bukankah sudah aku katakan, Luci itu wanita lembut dia tidak akan suka dan rela kalau orang yang spesial dalam hidupnya mengkhianatinya!"
Fharcot mencoba membela diri, secara tidak langsung pria tua itu menyalahkan Marcho yang memang tidak bisa bermain cantik.
"Jangan panggil aku dengan sebutan menantu. Walaupun Luci adalah istriku, kau tetap bukan siapa siapa di mataku. Kau hanya pria tua yang rela menukar putri cantik mu pada pria kaya raya hanya demi sebuah kekuasaan, ah- apa mungkin kau juga akan melakukan hal yang sama pada kedua anak kembar mu itu, Fharcot? konglomerat mana yang sedang kau incar saat ini, hm?" Marcho mendekat, kedua matanya menatap tajam pada Fharcot, tangannya terulur meraih sebuah benda yang di ulurkan oleh salah satu bawahannya.
"Cari pria sialan yang sudah berani berdekatan dengan Luci-ku. Aku yakin dia adalah pengacara yang Luci tunjuk untuk bisa lepas dari ku!"
Pria berbadan besar yang ada di belakang Marcho mengangguk, dia segera bergegas keluar dari ruangan itu tanpa menunggu perintah.
"Apa yang akan kau lakukan?" Fharcot kembali bersuara.
Tatapannya terlihat tidak takut, tapi didalam hatinya dia tengah mengutuk Marcho.
"Yang pasti aku tidak akan pernah melepaskan Luciana sampai kapan pun, walaupun aku harus menyingkirkan beberapa nyawa, bukan begitu Ayah Mertua?" cetusnya diiringi dengan seringai kecil.
POSENYA BIKIN PINGIN BERENDEM BANG ππ
GAK YAKIN KALO DEXTER YANG IMANNYA SETIPIS KULIT BAWANG BISA TAHANπππ
UDAH DEH BANG MARCHO, MENDING KITA NYARI IKAN AJA NYOK DI KOLAM DARI PADA MARAH MARAHπ