My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 26



Dexter meringis saat dokter membalut luka di bahunya, beberapa jam yang lalu dokter berhasil mengeluarkan peluru dari tubuhnya. Tidak terlalu fatal, tapi cukup untuk membuatnya tidak dapat beraktifitas beberapa waktu.


Bahkan memakai pakaian saja sepertinya Dexter tidak mampu, terlebih luka tembak yang dia alami ada di lengan sebelah kanan.


"Jangan sampai terkena air. Setelah tiga hari anda harus kontrol kemari, aku harap lukanya cepat kering dan jahitannya bisa segera di lepas. Tolong bantu Tuan Dexter ya Nona, aku yakin dia tidak bisa melakukan apa pun nanti. Tangannya harus di sangga beberapa waktu." dokter pria itu terus saja menjelaskan apa yang akan Dexter alami kedepannya.


Tidak ada kebohongan atau kerjasama licik diantara dua pria yang sudah saling mengenal itu, karena memang kondisi Dexter tidak dalam keadaan baik.


"Te-tentu saja, Dok. Aku akan merawat Tuan Dexter dengan baik." Luciana masih sedikit gugup. Dia tidak menyangka tindakan nekatnya akan membuat orang lain ikut terluka, padahal dia sendiri berharap kalau dirinya lah yang terluka disini.


"Baiklah! semuanya sudah selesai. Kau bisa istirahat sobat, ingat jangan banyak bergerak kalau kau ingin lukamu lekas membaik. Aku permisi, kalau ada apa apa panggil saja!"


Luciana mengangguk kaku, wanita itu masih terlihat gugup, shock, was was dan tidak tenang. Bahkan setelah kepergian Sang Dokter, detak jantungnya kian menggila.


Wanita itu menghela napas pelan, kedua matanya masih setia menatap ke arah pintu ruang rawat Dexter yang sudah tertutup. Demi apa pun saat ini Luciana tidak berani untuk menatap pada Sang Pengacara, rasa bersalah yang menghantuinya kian membuat nyalinya menciut.


"Kemarilah! kau tidak perlu tegang seperti itu. Aku masih hidup, tidak akan ada hal apa pun yang terjadi padamu nanti."


Suara Dexter kian membuat Luciana membatu, tapi dia berusaha menenangkan hatinya dan perlahan melirik pada pria yang bersandar di ranjang rumah sakit. Tatapannya terlihat sendu, kedua kakinya terasa kaku saat melangkah- Luciana bahkan menelan salivanya berulang kali saat Dexter terus saja menatapnya lekat.


"Maafkan aku," lirihnya.


Luciana mengigit bibir bawahnya, dia tidak tahu harus mengatakan apa. Hatinya yang tidak tenang semakin serba salah saat melihat Dexter terdiam dan hanya menatapnya dalam.


"Aku sudah membuat anda-,"


"Iya kau benar, kau salah. Dan kau harus bertanggung jawab." sela Dexter cepat.


Luciana semakin menunduk, wanita itu memilin jari jemarinya yang tidak halus dan indah seperti dulu. Tidak terawat, kasar, kusam bahkan dia yakin tidak akan ada mata pria mana pun yang mau menatap tangannya saat ini.


Sangat buruk!


"Anda benar, aku yang salah karena sudah membawa anda kedalam masalah ini. Tapi kenapa anda ada disana? kenapa anda menolong saya? harusnya anda biarkan saja saya-,"


"Sudah aku bilang aku ini pengacaramu, penanggung jawabmu, dan kenapa aku disana? karena aku seharusnya berada didekatmu dimana pun dan kapan pun. Aish sudah lah, yang penting sekarang kau harus selalu ada untukku, untuk merawatku, dimana pun dan kapan pun. Mulai dari aku bangun pagi hingga tidur, makan, berganti pakaian dan juga mandi tentunya!"


Dexter begitu ringan saat mengabsen apa saja yang harus Luciana lakukan saat dirinya sakit, bahkan tanpa Luciana sadari ada seringai kecil terbit dari bibirnya saat mengatakan kata terakhir.


Mandi?


Bibir Luciana mengatup rapat, ingin rasanya memprotes bagian terakhir yang Dexter ucapkan, tapi saat dia kembali berpikir memang pria itu tidak akan mampu melakukannya sendiri dan mau tidak mau, suka atau pun tidak suka dia harus bisa membantunya.


"Ba-baiklah, semoga kau lekas sehat Tuan Dexter. Selamat beristirahat, aku akan mengambil resep obat dulu." lirihnya.


Luciana perlahan menggerakkan kedua kakinya yang terasa kaku, berat tapi dia berusaha melangkah meninggalkan Dexter yang sudah tidak lagi terjaga. Tapi sepertinya dugaan Luciana salah, selepas kepergiannya kedua mata Sang Pengacara terbuka, sudut bibirnya terangkat tinggi. Terlihat senang seakan tengah memenangkan kasus berat di abad ini.


🐺


🐺


🐺


PRAAAANNGG!


"Sialan! kenapa Luci lebih memilih Pengacara sialan itu dari pada aku suaminya?!"


Suara Marcho begitu menggelegar, napasnya terangah, dadanya telanjangnya naik turun, mata serta wajahnya memerah menahan amarah. Tangan besarnya mencengkeram erat bingkai jendela yang terbuka lebar.


Bahkan luka di lengannya kembali berdarah saat tangan besar dan berurat itu kembali bergerak, padahal dokter yang menanganinya sudah mengatakan kalau Marcho tidak boleh melakukan aktifitas yang bisa membuat lengannya bergerak terlalu aktif.


Belum juga dokter itu pergi, luka yang dia rawat sudah kembali terbuka dan berdarah.


"Lengan anda Tuan-,"


Bibir dokter itu mengatup saat melihat Marcho mengangkat satu telunjuknya tanpa menoleh, pria bertubuh kekar dan berkulit tan itu menatap lurus ke arah depan. Mata tajamnya seakan tengah memperhatikan sesuatu, namun entah apa itu.


"Aku tidak akan bermain lembut lagi. Kau tahu apa yang aku inginkan, Bass. Lakukanlah, aku tidak ingin menerima kegagalan!" desisnya.


Kedua matanya melirik pada pria plontos yang tidak jauh darinya, pria yang memberikan satu tembakan ke arah Luciana dan malah mengenai Dexter.



BANYAK BANGET MAU LU BANG DEX



SABAR BANG SABAR, ENTAR DARAH TINGGI LO KUMAT