
"Bahu anda kembali berdarah," Luciana menatap sendu pada bahu Dexter yang terlihat merah, karena perbannya kembali basah oleh darah.
Dia yakin luka sang Pengacara kembali terbuka karena kejadian tadi, bahkan Luciana terlihat lebih mengkhawatirkan kondisi Dexter dari pada dirinya sendiri.
Sementara Dexter, pria itu masih terdiam- kedua matanya terus saja menatap lekat pada wanita yang saat ini tengah mengganti perban di bahunya. Wajah sendu yang Luciana tunjukan membuat Dexter menghela napas pelan, wanita ini lebih mengkhawatirkan orang lain padahal dirinya sendiri juga terluka.
Hidung mancung nan kecil Luciana masih memerah, bahkan Dexter melihat bercak darah di sana dan juga pakaian yang Luciana kenakan sekarang.
"Apa hidungmu masih sakit?" pertanyaan itu keluar begitu saja dari mulut Dexter.
Satu tangannya terulur menyentuh wajah pucat Luciana, sepertinya wanita ini masih shock dengan kejadian yang baru saja terjadi. Sebenarnya bukan hanya Luciana yang terkejut, tapi Dexter juga tidak menyangka kalau Fharcot dan istri keduanya datang ke apartemen lalu membuat keributan, bahkan sampai menyakiti penghuninya.
"Aku baik baik saja, tadi hanya terbentur sedikit. Darahnya sudah berhenti dan tidak terlalu sakit." Luciana menjawab apa adanya. Dia berusaha menampilkan senyumannya, kemudian kembali fokus membalut bahu Dexter yang sudah hampir selesai.
"Kau tidak mau menuntut, Fharcot?" Dexter terlihat serius dengan ucapannya, pria itu menghadap pada Luciana dan menatap wanita itu dalam dan lekat.
"Aku siap membantu mu sampai mereka bisa-,"
"Aku hanya ingin anda bisa segera menyelesaikan perceraian ku dengan Marcho, Tuan Dexter. Kau tahu bukan, semua masalah yang terjadi adalah berasal darinya. Aku tidak tahu kenapa Marcho melakukan hal itu pada Rossi, karena setahu ku gadis itu tidak ada hubungan apa pun dengan masalah kami. Selama ini Rossi cukup baik, dia tidak pernah memusuhiku, dia adik yang penurut. Aku harap dia akan baik baik saja, dan kalau bisa aku ingin membantunya tanpa harus kembali pada Marcho."
Setiap kata yang Luciana lontarkan terdengar begitu serius, kedua matanya menatap penuh harap pada Dexter yang juga membalas tatapan dalam yang Luciana tunjukan.
"Aku berjanji akan segera menyelesaikan semua masalahmu dengan pria itu, tapi aku tidak bisa berjanji untuk bisa membantu lebih apa lagi membebaskan adik mu dari jeratan Tuan Simon. Itu adalah urusan mereka, entah perjanjian apa yang sudah mereka setujui hingga adik tirimu bisa menjadi korban."
Luciana tidak dapat berucap apa pun, dia menyadari dan memahami perkataan pengacaranya. Memang semua ini berasal dari sang Ayah, dan anak anaknya lah yang menjadi korban.
"Aku mengerti, Tuan Dexter." sahutnya lemah.
🐺
🐺
🐺
"Apa yang ingin kau laporkan padaku, Bass?" tanyanya.
Ekor mata Marcho melirik tajam pada pria bertubuh besar dengan kepala plontos kepercayaannya. Pria berkulit gelap itu terlihat tenang saat sang Tuan menatapnya penuh intimidasi.
"Fharcot dan istrinya mendatangi Nyonya di apartemen pengacara itu."
Marcho yang tadinya terlihat tidak peduli, kini berubah menjadi penasaran. Pria itu mengibaskan tangannya agar sang perawat segera meninggalkan mereka berdua.
"Lalu?" tanyanya lagi.
"Istri Fharcot menyakiti Nyonya. Dia berhasil membuat hidung Nyonya berdarah, walaupun pengacara itu segera menghalau agar wanita itu tidak semakin melukai Nyo-,"
"Kirimkan foto foto putri kesayangan mereka kekediaman Fharcot dan pengacara sialan itu! pastikan Luci yang menerimanya. Aku yakin dia akan berubah pikiran setelah melihat keadaan adik tirinya sekarang. Aku juga tidak sabar melihat reaksi Fharcot, beraninya dia menyakiti Luci ku dan terus saja mengulur waktu!" Marcho terlihat amat geram, dia tidak bisa lagi mentolerir apa yang di lakukan pria tua sialan itu.
Fharcot harus mendapatkan balasan karena tidak becus menjalankan perintahnya selama ini, hanya merayu Luciana untuk kembali padanya saja pria itu banyak membuang waktu, padahal selama ini sudah banyak uang yang Marcho gelontorkan untuknya.
Tua bangka sialan!
SABAR YA BANG
JAN JAHAT JAHAT BANG, ENTAR KUALAT LOH