My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 27



Hari hari Luciana terlihat cukup sibuk dari pada sebelumnya. Dia harus bangun lebih awal, membereskan apartemen, menyiapkan sarapan, bahkan sampai mengganti pakaian Dexter.


Bukan hanya menggantikan pakaian Sang Pengacara sexy itu, tapi juga memandikannya. Sungguh pengalaman yang tidak biasa, selama hampir dua tahun berdekatan dengan seorang pria- Luciana belum pernah memandikan pria itu, yang tidak lain adalah Marcho. Pria yang nota bene masih menjadi suami sahnya.


Dia hanya melayani pria itu layaknya seorang istri, bahkan pakaian pun sudah di siapkan oleh para pelayan- Luciana hanya menyambut Marcho diatas tempat tidur.


Itu sebelum Marcho menunjukan sifat aslinya, setelah pria itu ketahuan menyelingkuhinya Luciana bahkan tidak sudi lagi untuk melihat wajahnya. Dulu memang dia bertahan saat Marcho menyakiti fisiknya di kala emosi, tapi kalau berurusan dengan hati dan wanita lain maaf saja Luciana tidak bisa.


Dan sekarang wanita cantik berkulit putih itu tengah sibuk memilih pakaian untuk Sang Pengacara. Dexter baru dua hari ini keluar dari rumah sakit, luka di bahunya belum sembuh dan masih basah. Pria itu duduk ditepi tempat tidur, kedua matanya terus saja terarah pada ruang ganti yang tidak jauh darinya.


Sudut bibirnya terangkat, dia kembali mengingat apa yang terjadi saat didalam kamar mandi tadi. Wajah malu malu dan merona Luciana kian membuat senyumannya melebar, terlebih saat wanita itu membersihkan tubuh telanjangnya tadi.


Dexter melihat tangan Luciana bergetar, wanita itu berkali kali menghela napas dan memalingkan wajahnya kearah lain saat berhadapan dengan Serigala Gurun miliknya.


Dalam pikiran Dexter bertanya tanya, kenapa Luciana terlihat malu malu layaknya seorang gadis perawan? bukankah dia sudah sering melihat benda itu, apakah ada yang salah? atau ada yang berbeda?


Dexter masih sibuk melamun sendiri, bahkan saat Luciana keluar dari ruang ganti pria itu belum menyadarinya. Luciana membawakan kaos tanpa lengan dan sebuah celana joger pendek, juga dala*man yang akan digunakan oleh Dexter.


Karena Dexter tidak bisa bekerja untuk beberapa waktu kedepan, jadi dia hanya memakai pakaian santai dan nyaman untuk digunakan saat bersantai.


"Pakai pakaianmu dulu, Tuan Dexter. Aku sudah mencarikan pakaian yang nyaman untukmu, karena luka di bahumu belum pulih aku memilih yang ini."


Luciana memberikan kaos tanpa lengan berwarna hitam pada Dexter, pria yang tadinya masih sibuk melamun kini terlihat menoleh, kedua matanya menatap benda yang di sodorkan oleh Luciana.


"Aku akan memakainya, tolong pakaikan!" sudut bibir Dexter berkedut saat melihat tubuh Luciana menegang, bahkan Dexter menangkap ekspresi terkejut spontan yang di tunjukan Luciana.


"Itu sudah menjadi tugasmu, lakukan saja. Apa kau tega melihat lukaku kembali terbuka dan berdarah saat aku menggerakkan-,"


"Anda bisa berdiri, Tuan Dexter?" sela Luciana cepat.


Tanpa diminta dua kali Dexter segera bangkit dari duduknya, dia terlihat pasrah saat Luciana mulai memakaikan kaos di tubuh bagian bawahnya. Begitu hati hati dan sangat pelan, terlebih saat wanita itu menyentuh lengan kanannya.


Perkara kaos sudah terselesaikan, kini saatnya membuka daerah kekuasaan Serigala Gurun. Luciana terlihat ragu saat hendak membuka lilitan handuk yang masih melingkar di pinggang kokoh Sang Pengacara.


"A-aku, aku tidak-,"


"Kau tidak akan membiarkan aku melakukannya sendiri, kan? tidak perlu gugup, anggap saja aku adalah pasienmu dan kau adalah perawat pribadiku. Kenapa kau terlihat gugup, bukankah kau pernah bahkan sering melihat keperkasaan seorang pria? apakah ada yang salah pada bentuk milikku, atau dia berbeda dengan milik orang lain yang pernah kau lihat?" Dexter berucap cukup frontal.


Dia terlalu gemas melihat Luciana. Ayolah bukankah benda kesayangannya itu memang berbeda dengan orang lain, Dexter yakin itu. Bahkan mungkin milik Marcho tidak seeksotis miliknya, itu yang tengah Dexter pikirkan saat ini.


"Tuan itu tidak sopan, anda terlalu-,"


"Ck! sudahlah biar aku saja yang memakainya sendiri, kau bisa keluar dari sini!"


Dexter meraih boxer dan celana yang ada di tangan Luciana, pria itu menurunkan handuk yang dipakainya tanpa ragu didepan Luciana. Bahkan Dexter tidak peduli saat melihat kedua mata wanita itu melotot dan hampir keluar dari tempatnya.


"Kalau bahuku bertambah sakit, kau harus bertanggung jawab. Aku hanya meminta tolong untuk dipakaikan celana, bukan memintamu memuaskannya!" cetus Dexter.


Pria itu bersusah payah memakai kedua benda itu dengan satu tangannya yang sehat, dan itu tidak luput dari pandangan Luciana. Ada rasa kasihan kian menyelimuti hati wanita itu, tapi rasa kesal, gugup dan malu juga semakin menyerangnya.


"Sssshhhh- Fu*ck!" umpat Dexter saat merasakan bahunya kembali sakit.


Luciana yang tadinya hendak keluar segera mendekat pada Sang Pengacara, tanpa babibu wanita itu mengambil alih boxer yang masih menggantung di bawah lutut Dexter dan menaikan benda itu dengan cepat.


"Biar aku saja! bahu anda kembali berdarah, Tuan Dexter." ucap Luciana, dia mengabaikan benda yang bergoyang tidak sopan di hadapannya. Baginya sekarang Dexter harus segera memakai celana dan boxernya agar benda sialan itu tidak terlihat lagi.


'Kena kau!' batin Dexter menyeringai.



LICIK BANGET LU BANG



MAU AJA DI KIBULIN NENG