
Dexter menghempaskan tubuhnya di sofa, dengan kasar dia menarik dasi yang membelit lehernya. Dadanya naik turun, wajah lelahnya begitu terlihat, bahkan saat Dexter melepaskan satu persatu benda yang membuatnya tidak nyaman itu kedua matanya terpejam erat.
Helaan napas berat serta kasarnya terdengar, pria itu tidak terlihat seperti biasanya hari ini. Apa mungkin ada hal yang membuat Dexter seperti ini, pekerjaan atau hal lainnya?
Kalau dilihat lihat sepertinya Dexter sudah jarang keluar dari apartemennya atau membawa wanita kedalamnya.
Sejak kapan?
Tepatnya sejak Luciana tinggal bersamanya, kebiasaannya mencicipi banyak oase untuk memuaskan Serigala Gurunnya kini perlahan berkurang atau bahkan tidak pernah selama ada Luciana.
Satu pencapaian yang patut untuk diapresiasi, padahal dulu sebelum Luciana hadir Dexter tidak akan pernah absen untuk menyelami berbagai bentuk oase setiap harinya. Hanya satu kali singgah dan sisanya masih sering dia coba walaupun tidak semua.
"Anda sudah pulang, Tuan Dexter?"
Suara seorang wanita mengejutkan Dexter, pria itu sontak membuka kedua matanya- terlihat sedikit sayu tapi berusaha untuk tetap terbuka sempurna.
Dexter menegakan tubuhnya, pria itu mengangguk kecil- terlihat enggan untuk membuka kedua matanya tapi keadaan tengah memaksanya sekarang. Bagaimana Dexter tidak membuka mata kalau saat ini dia melihat Luciana keluar dengan hanya memakai piyama berwarna putih.
Tidak terlalu terbuka, masih cukup sopan tapi berhasil membuat kedua mata Dexter enggan berpaling dan sesuatu yang ada dibawah sana melolong keras.
Sialan!
"Anda terlihat lelah, beristirahatlah sejenak. Aku akan membuatkan kopi untukmu dan segera kembali." tanpa menunggu persetujuan dari Dexter, wanita itu segera bergegas pergi.
Pergerakannya tidak luput dari kedua mata Sang Pengacara Panas, Dexter menatap punggung serta kaki jenjang putih yang dimiliki oleh Luciana. Tanpa sadar Dexter menelan salivanya susah payah, bagian tubuhnya yang selama ini sudah jarak di pergunakan dengan semestinya mulai meminta jatah.
Pria itu mengusap wajahnya kasar, Dexter kembali menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa dan memejamkan kedua matanya. Tapi sialnya bayangan tubuh dan senyuman Luciana semakin meracuni pikirannya, dahi Dexter mengernyit- mati matian dia menahan denyutan sialan saat bayangan Luciana kian menjelma.
"Antonio," suara panggilan itu terdengar amat jelas dikedua telinga Dexter. Tapi kedua matanya masih enggan terbuka, rasanya berat sekali. Hingga akhirnya dia merasakan sentuhan di pipinya, Dexter berusaha membuka mata kala sentuhan lembut itu kian menjadi.
Kedua matanya membelalak saat melihat Luciana tengah tersenyum ke arahnya, bahkan wanita berpiyama satin berwarna putih itu sudah merapatkan tubuh kearahnya.
"A-Anna!" bisiknya.
Luciana tidak menjawab, dia malah kian melebarkan senyumannya. Kedua matanya menatap lekat pada netra tajam Dexter, perlahan namun pasti Luciana mulai menaiki tubuh sang pengacara. Kedua kakinya menga*ngka*ngi tubuh bagian bawah Dexter.
Keduanya saling berhadapan, jari jemari lentik Luciana menyusuri rahang tegas dan berbulu milik Dexter. Perlahan turun menuju area leher, semakin turun memainkan kancing kemeja yang Dexter pakai dan melepaskannya satu persatu.
"Anna, kau-,"
"Aku menginginkanmu," sela Luciana, wanita itu berbisik tepat di depan bibir Dexter dan itu kian membuatnya tidak karuan.
Satu persatu kancing kemeja Dexter terlepas menampakan dada bidang sedikit berbulu dan perut berototnya. Kulit tan yang Dexter miliki kian menambah kesexian pria itu, bahkan kedua mata Luciana tidak dapat lagi berkedip dibuatnya.
Dia terpesona!
Tangan lentik Luciana kian meliar, setelah kancing kemeja Dexter terlepas semua kini giliran gesper serta celana bahan yang pria itu gunakan. Sedikit demi sedikit jari jemarinya melepaskan benda itu dari tubuh Dexter, dan kini sudah terlepas tinggal menunggu sesuatu yang siap untuk melolong keras.
"Anna, kau baik baik sa-,"
"Sssttt- aku baik baik saja, Sayang. Lakukan apa pun yang kau mau, aku sudah tidak tahan dan sangat menginginkan sentuhan mu, My Hot Lawyer." bisik Luciana menghentikan ocehan Dexter.
Dexter yang tadinya sedikit ragu dengan cepat mengambil alih, dia membalikan keadaan. Saat ini Luciana sudah berada didalam kukungannya, tanpa menunggu lama dia segera melahap benda kenyal yang pernah dirasakannya satu kali, dulu tapi saat Luciana mabuk. Dan kini Dexter kembali bisa menikmatinya.
Keduanya larut dalam kecapan serta pagutan, bahkan kimono yang Luciana pakai sudah tercampak entah kemana. Dexter mengganas, dia tidak memberikan jeda untuk Luciana bernapas.
"Aku akan memberikan semua yang tidak pernah aku berikan pada wanita mana pun." bisiknya.
Dexter semakin bersemangat, dia kembali menjelajah lebih dalam agar bisa menemukan oase yang belum pernah dia jamah.
Keduanya kian terlena, erangan yang Dexter keluarkan cukup keras hingga terdengar ke semua area apartemen.
"Aku menginginkan mu, Anna. Aku sangat menginginkan mu, tolong jangan pernah pergi dariku apa pun yang terjadi." racaunya.
Racauan keras itu ternyata berhasil membuat seseorang membeku diambang pintu, kedua matanya menatap lekat pada pria yang tengah mengeram keras sembari memejamkan kedua matanya.
Bahkan dia bisa melihat sesuatu dibalik celana bahan yang dipakai sang pria sudah menggembung besar dan basah.
Basah?
Orang itu menggigit bibir bawahnya, dia reflek memalingkan wajahnya ke arah lain dengan jantung berdebar hebat.
"Tuan Dexter sedang bermimpi apa? kenapa celananya sampai basah? lalu dia memanggil nama sia-,"
"AAAKHHH LUCIANA! AKU MENYUKAIMU!" erangnya keras dan itu membuat orang yang melihatnya kian terkejut.
"Tu-Tuan Dexter," lirihnya.
Dexter belum sadar sepenuhnya, napasnya terengah saat sesuatu yang ada di tubuhnya keluar dengan hebat. Dia merasa kalau ini adalah hal terhebat yang pernah dialaminya.
"Aku menyukaimu, Luciana." gumamnya lagi dan masih dalam keadaan mata terpejam serta napas terengah hebat.
HAYOLOH KETAUAN
RUN LUCI RUN😂😂😂😂