
Dexter terus saja mengumpat sepanjang langkahnya. Pria itu terlihat terburu buru keluar dari ruang kerjanya di kantor Firma, bahkan jas mahal yang dia pakai sejak tadi sudah tidak berbentuk karena Dexter memakainya asal.
Pria itu terlihat panik setelah mendapatkan telepon dari apartemennya, lebih tepatnya dari Luciana. Luciana mengabarkan kalau ada seorang wanita datang ke sana, saat Dexter bertanya siapa yang datang Luciana tidak memberikan jawaban yang dia inginkan.
Wanita itu hanya memberitahukan kalau si wanita asing sudah menunggu dan menyuruh Dexter pulang.
"Hei Nio, kau mau kemana? astaga ini belum saatnya makan siang kenapa kau malah-,"
"Ada ja**lang datang ke apartemenku!" sela Dexter cepat.
Wajahnya terlihat semakin panik saat Kenny memblokir jalannya. Pria berambut pirang itu mengernyit, menatap heran pada rekan kerjanya yang memang agak sedikit gila pada wanita.
"Apa masalahnya? bukankah kau sudah biasa membawa ja-,"
"Ini lain Ken! kau tahu, Luciana ada di apartemen ku. Apa yang akan dia pikirkan saat melihat betina itu datang ke-,"
"Wo wo wo! sejak kapan seorang Antonio Dexter panik seperti ini? dan kenapa bisa teman ku ada di apartemenmu? jangan bilang kau memperlakukan Luci dengan buruk seperti yang kau lakukan pada klien klien mu sebelumnya. Oh Nio, aku benar benar akan menghajarmu kalau kau sampai berani menyentuh wanita lembut itu. Kau tahu aku sudah menganggap Luci seperti-,"
"Seperti apa? aku memang bajingan Ken. Tapi aku tidak suka memaksa, aku bukan pria yang suka memaksa dan menikmati percintaan panas sendirian. Jadi kau tenang saja, stok ja**langku masih banyak!"
Dexter menepuk pundak Kenny dan setelah itu berlalu pergi. Pria bermata tajam itu cukup tersinggung dengan perkataan dan kecurigaan rekannya. Walaupun tidak sepenuhnya salah, tapi Dexter masih bisa mengendalikan semuanya hingga saat ini.
Dia bukan tipe pria pemaksa, karena menurutnya percintaan panas akan semakin nikmat saat keduanya saling menginginkan.
Di tempat lain
Luciana terlihat menggenggam ponselnya. Wanita itu terlihat mondar mandir tidak karuan, setelah menyiapkan air mawar dan susu untuk berendam sang wanita asing- dia bergegas menghubungi Dexter.
Tapi entah kenapa hatinya semakin tidak tenang sekarang, padahal kan dia tidak melakukan kesalahan. Dirinya hanya melakukan hal wajar demi bisa menjaga apartemen ini.
Hampir tiga puluh menit Luciana bergerak tidak tenang, dan hampir tiga puluh menit juga wanita itu tidak keluar dari kamar Dexter. Mungkin sang wanita asing tertidur setelah berendam, Luciana sebenarnya ingin masuk dan memastikan tapi dirinya tidak berani.
Ting Tong!
Bell berbunyi, dia sedikit tersentak dan reflek menoleh. Kedua kakinya seakan bergerak sendiri mendekat ke arah pintu masuk. Lewat layar monitor dia bisa melihat seseorang dari balik pintu.
"Tuan Dexter," gumamnya.
"Tuan Dexter, ada yang men-,"
"Dimana dia?" tanyanya cepat.
Bibir Luciana mengatup, dia tidak berani menatap Dexter yang terlihat datar dan tidak bersahabat. Pria itu bahkan membuka dasinya sembarangan dan melemparkannya ke arah sofa dengan asal.
"Dia ada di kamar anda Tu-,"
'Dia marah,' gumamnya dalam hati.
Braaak!
Luciana terperanjat, kedua matanya tertutup saat melihat Dexter mendobrak kasar pintu kamarnya hingga terbuka. Pria itu melenggang masuk, rahangnya terlihat mengetat kala melihat seorang wanita dengan berani tidur diatas peraduannya tanpa izin.
"Aku bisa menuntut mu dengan pasal perbuatan tidak terpuji dengan menerobos masuk kedalam rumah orang lain tanpa izin, Nona Angelin." suara Dexter terdengar rendah.
Namun Luciana masih dapat mendengarnya, wanita itu masih berada di ambang pintu dan tidak berani untuk masuk.
"Antonio, aku sudah lama menunggumu. Eemm apa pembantu mu yang mengabari kalau aku ada disini? oh kau sangat merindukanku bukan, ayo kita bermain sebentar- tapi aku tidak ingin pembantu mu itu melihat kita bercin-,"
"Keluar! atau aku akan benar benar menuntut mu. Dan kau Anna, tetap ditempat mu jangan kemana pun!" Dexter sudah tidak tahu harus berbuat apa demi bisa mengusir wanita yang masih bergelung di bawah selimut itu.
Dia yakin dibalik kain tebal itu ada tubuh polos yang tidak ingin Dexter lihat. Entah kenapa dia malah takut dan serba salah sekarang, terlebih dia melihat Luciana masih berada di belakangnya dengan ekspresi polos seakan tidak tahu situasi apa ini.
'Sialan! aku akan terlihat buruk dimata Luciana nanti!' geramnya.
"Emm- Tuan, aku akan menyiapkan makan siang dulu untuk mu." cetus Luciana tiba tiba, dia merasa canggung dengan situasi saat ini dan Luciana akan membiarkan kedua orang yang dia sangka sepasang kekasih itu berbicara empat mata untuk menyelesaikan masalah mereka.
"Anna, aku tidak-," lidah Dexter terasa kelu, dia menghentikan ucapannya kala melihat Luciana kian menjauh, dan wanita yang ada di dalam selimut itu semakin tersenyum lebar.
CIEE YANG PANIK