My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 11



Marcho menghentak kuat wanita yang ada dibawah kuasanya, dengan kejam dia menjambak rambut pirangnya dari arah belakang. Pria itu mendesis kala sang wanita berteriak saat merasakan hentakan pria yang membayar jasanya.


"Shut up, Bic**ht!" hinanya.


Marcho semakin menambah temponya, amarah yang menguasai pria itu semakin membuatnya kesetanan. Jeritan wanita bayaran itu tidak lagi dihiraukannya, Marcho hanya mengejar kepuasan dirinya sendiri. Bayangan Luciana yang melintas di matanya membuat pria itu semakin beringas, bahkan saat dia mendapatkan pelepasan Marcho merasa tidak puas.


Kepalanya masih berdenyut karena seluruh nap*sunya belum tersalurkan dengan sempurna. Kedua mata Marcho tertutup erat, dadanya naik turun, dia beranjak menjauh dari sang wanita yang sudah menangis karena merasakan sakit luar biasa diarea intimnya.


Marcho membuang lateks yang membalut keperkasaannya kearah sang wanita bayaran. Salah satu sudut bibirnya terangkat saat melihat wajah tidak berdaya yang wanita itu sedang tunjukan.


Marcho senang melihatnya. Dia senang saat ada orang yang menatapnya takut atau pun minta dikasihani.


"Kau ja**lang paling buruk yang pernah ku coba." cetusnya kasar.


Pria yang sedang duduk di sofa dan tidak memakai apa pun itu menyalakan cerutunya, kedua matanya menatap rendah pada wanita yang masih menangis di atas ranjang panas mereka tadi.


"Tidak! semua ****** yang aku coba memanglah buruk, setelah Luci- ku ada. Kalian tidak akan pernah bisa sepertinya, ah sayangnya Luci-ku yang lembut dan manis sedang merajuk," lanjutnya lagi.


Kedua mata Marcho terpejam, pria itu menghisap cerutunya sembari menengadahkan kepalanya dengan santai.


"Kau tahu kenapa Luci-ku merajuk, hm?" Marcho kembali bersuara, pria itu kembali menegakan kepalanya dan menatap lekat sang wanita dengan seringai lebar yang amat mengerikan.


Wanita yang ada diatas ranjang masih sesegukan, dia menggeleng tanda tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu. Wanita itu menarik selimut yang ada di dekatnya, jujur tatapan pria tampan dan kaya raya itu sangat mengerikan.


Marcho Simoncelli terlihat seperti psikopat sekarang, wajah tampan serta tubuh sempurnanya sekarang tidak lagi menggiurkan dimana sang ja**lang.


"Dia mengetahui aku bercumbu dengan seorang ja**lang didalam mobil. Istriku yang cantik pasti cemburu, maka dari itu dia melayangkan gugatan cerai untuk ku. Dan itu semua gara gara siapa? kau mau tahu?"


Marcho mulai menggeser tubuhnya, keperkasaannya yang masih belum terpuaskan terlihat bergerak kesana kemari seiring dengan pergerakannya. Ekor matanya terus saja melirik pada wanita yang hanya membisu di balik selimut tebal berwarna krem itu.


"Semua itu gara gara, ja**lang sialan!"


DOR!


Tanpa aba aba dan perasaan Marcho menembak kepala wanita itu hingga tewas. Pria itu menyeringai, salah satu tangannya terulur menekan tombol yang tidak jauh darinya.


"Bereskan bangkai yang ada di kamar ku!" titahnya.


Marcho beranjak, pria itu melangkah menuju kamar mandi tanpa ingin melihat mayat ja**lang yang baru saja dihabisinya.


"Selain tidak berguna, kau juga terlalu banyak tahu tentang Luci-ku." gumamnya sebelum dia masuk kedalam kamar mandi.


🐺


🐺


🐺


Mimpi yang dia alami sungguh mengerikan, dimana Marcho dengan tidak punya hati membantai seluruh anggota keluarganya termasuk pria yang ada di sisinya saat ini.


Sang Pengacara.


"Kau sudah bangun? apa tidur mu nyenyak?"


Luciana menghirup napasnya pelan sebelum dia menatap Dexter yang tengah mengendalikan kemudi. Pria itu menipiskan bibirnya saat melihat Luciana mengangguk, wanita yang menjadi klien barunya ini memang tertidur saat dirinya kembali ke mobil dan Dexter tidak berniat untuk membangunkannya.


"Maaf, aku tertidur," ucapnya tidak enak hati.


Senyuman Dexter semakin melebar, terlebih saat melihat wajah malu malu Luciana saat ini.


'Kenapa istri orang ini begitu menggemaskan di matanya sekarang? bukan hanya menggemaskan, tapi juga berhasil membuatnya harus menahan sesuatu yang sudah beberapa hari ini tidak tersalurkan'


Kehangatan seorang wanita!


"Tidak apa apa, aku sudah pernah bilang padamu- buatlah dirimu senyaman mungkin!"


Luciana melipat bibirnya, wanita itu mengangguk pelan lalu mengalihkan pandangannya ke arah depan.


Sementara Dexter, pria itu memang terlihat fokus menatap jalanan tapi ekor matanya secara tidak sopan masih melirik Luciana secara diam diam.


"Berkas gugatan mu sudah sampai di pengadilan. Minggu depan kau harus sudah siap datang ke sana, siapkan hati dan mental mu. Semoga suamimu yang gila itu tidak mempersulitnya nanti!"


Dexter kembali berbicara, dia mengatakan apa yang baru saja didapatkannya. Sementara Luciana, wanita itu mengangguk dan menghirup napas dalam seakan ada beban berat yang tengah menimpa dadanya.


"Aku harap Marcho mau melepaskan ku." lirihnya.



BANG DEX JAN MACEM MACEM SAMA JAHE YA 😂😂😂



OM MARCHO CELANANYA NAIKIN DONG, KALO GAK PELOROTIN SEKALIAN 🏃🏃🏃🏃