
Gemercik air shower menyamarkan des*ahan seorang pria yang tengah menggapai kenikmatan surga dunianya. Walaupun bermain secara solo, dia berusaha memuaskan dahaga yang sudah tidak dapat di tahan oleh Sang Serigala Gurunnya.
Padahal diluar kamar mandi tadi ada sebuah oase yang siap untuk memuaskan dahaganya, tapi entah mengapa saat dirinya mulai menyentuh bagian itu, bayangan seseorang melintas di kedua matanya.
Naf*su yang kiranya sudah berada diatas ubun ubun, kini kembali turun menuju kaki dan akhirnya hilang tersapu angin. Bahkan dia mengusir calon oasenya tanpa peduli dengan gerutuan dan makian yang perlahan mampu membuat naf*sunya kembali naik.
Terlebih saat bayangan seorang wanita kembali melintas dan kini tengah menjadi objek khayalannya.
"Aahh- A-Anna," de*sahnya kala semua beban yang sudah tidak dapat dia tahan akhirnya hilang.
Kedua tangan kekarnya menopang sisi wastafel, napasnya terengah- keringat mengucur di dahi serta area tubuh lainnya. Serigala Gurun miliknya masih berdiri tegap, sedikit berkedut saat kesadarannya mulai kembali.
"Fu*ck!" umpatnya.
Air kran menyala, dia segera membasuh wajahnya yang perlahan dingin. Padahal tadi rasanya seperti terbakar, kala dirinya tengah mengejar bayangan nakal seorang wanita yang terus saja menggodanya.
"Kau bahkan berhasil menggagalkan waktu bercintaku dengan Beatrix. Ada apa dengan mu Luciana? atau seharusnya pertanyaan itu cocok di berikan untukku?" gumamnya.
Napas pria itu masih terengah, kedua mata indah dan tajamnya terus saja menatap cermin. Salah satu sudut bibirnya terangkat kala melihat kondisinya saat ini.
Memalukan!
"Antonio Dexter, kau loser!"
Dexter keluar dari kamar mandi setelah dia puas memaki dirinya sendiri, pria yang tidak memakai sehelai benang pun itu berjalan santai menuju sofa.
Pria itu memungut boxer serta celana bahannya yang tercecer di lantai, dengan tubuh telanjang dia mendudukkan dirinya disana. Masih termenung, sampai akhirnya kesadarannya kembali saat mendengar suara dering ponselnya.
Dexter berdecak, setelah memakai celananya dengan sempurna dia bangkit dan berjalan menuju nakas. Dexter merogoh jasnya untuk mengambil benda sialan itu dari sana.
Warning!
Danger!
Luciana!
Tiga kata itu berhasil membuat Dexter mendelik. Ternyata itu bukan sebuah panggilan melainkan alarm yang sengaja Dexter buat beberapa waktu yang lalu dengan mengandalkan sensor GPS.
"Shi*it!" umpatnya.
Tanpa berpikir lagi pria itu segera meraih kemejanya, memakainya asal dan tidak lupa dengan sepatu serta perlengkapan lainnya. Jantung Dexter berdetak lebih kencang, pria itu terus saja mengumpat kala sepatu yang hendak dia pakai entah kemana.
Dia panik, khawatir dan kesal.
Sementara di tempat lain, Luciana terlihat sudah berdiri di depan sebuah pintu gerbang besar. Pintu gerbang yang melindungi sebuah rumah mewah bergaya Eropa dan bercat emas, sangat elegan.
Kedua mata wanita itu menatap lekat, terlihat kosong tapi penuh keyakinan.
"Suruh Tuan mu keluar!" ucapnya entah pada siapa.
Tapi tidak lama gerbang itu terbuka, namun Luciana tetap berdiri di tempatnya tanpa ingin masuk. Kedua matanya terus saja menatap lurus, dia terlihat tenang walaupun ada beberapa penjaga mulai mendekat ke arahnya termasuk pria botak kepercayaan suaminya.
"Selamat datang Nyonya-,"
"Suruh Tuan mu keluar! kalau dia memang menginginkan ku." selanya cepat.
Tatapan Luciana mengarah pada pria berkepala botak. Terlihat dingin dan tidak bersahabat, bahkan penuh dengan perhitungan.
"Tuan ku menunggu anda didalam, jadi anda harus-,"
"Temui aku disini atau tidak sama sekali!" selanya lagi.
Luciana kian terlihat serius, dia tidak akan pernah masuk kedalam sana. Fharcot memintanya kembali ke rumah ini, kembali bukan berarti harus masuk bukan?
Si pria botak hanya memberi perintah lewat matanya pada salah satu bawahannya. Tanpa bertanya lagi diantara mereka sigap, segera berlari menuju kawasan rumah kediaman Simoncelli untuk menjemput Sang Boss.
Cukup lama Luciana berdiri, wanita itu masih tetap di tempatnya. Dan tidak lama sebuah mobil yang biasa digunakan para pemain golf mendekat ke arahnya, membawa seorang pria yang sama sekali tidak ingin Luciana temui kalau tidak terpaksa.
"Halo Luci-ku, akhirnya kau pulang." pria itu turun, kedua kaki jenjangnya melangkah santai mendekat pada Luciana.
Kedua tangannya merentang, berharap kalau wanita yang beberapa waktu ini membangkang segera masuk kedalam dekapannya. Tapi sepertinya keinginannya tidak terkabul, wanita itu tetap diam di tempat- hingga membuat dirinya berdecak tapi berusaha mempertahankan senyumannya.
"Kau tidak merindukanku, hm?"
Luciana tetap diam, matanya menatap tak berekspresi pada Marcho yang tengah menampilkan senyuman kemenangannya.
"Baiklah, aku saja yang merindukan mu Luci sayang." lanjutnya.
Marcho terkekeh pelan, lalu mendekap Luciana tanpa izin. Mendekap erat tubuh itu, seakan enggan untuk melepaskannya. Sementara Luciana masih terdiam, membiarkan Marcho mendekap sepuasnya. Hingga tanpa mereka sadari, Dexter yang baru saja tiba melihat adegan itu.
Dexter sudah keluar dari mobil dan siap mendekat pada Luciana, tapi saat melihat interaksi Marcho dan sang klien, langkahnya berhenti begitu saja. Kedua tangannya mengepal, umpatan keluar dari bibir dan hatinya.
Sang Pengacara terlihat tidak rela, bahkan dia tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Luciana.
"Apa yang kau lakukan, Anna?!" desisnya.
Di depan sana Luciana belum melakukan apa pun. Wanita itu masih pasif, hingga tanpa di sadari oleh siapa pun termasuk Marcho- jari jemari lentiknya merogoh sesuatu di pinggang pria yang tengah mendekapnya sekarang.
'Aku yang mati, atau kau yang mati! mungkin kita berdua akan mati!' batinnya setelah dia mendapatkan benda itu, lalu menempelkannya di dada Marcho.
"Lepaskan aku, Marc! suka rela atau terpaksa!" cetusnya.
Marcho yang sadar apa yang sedang terjadi hanya terdiam, dia menunduk menatap benda dingin yang menekan dada kirinya.
Sebuah pistol dan itu miliknya sendiri.
"Luci," panggilnya dengan nada rendah.
GIMANA BANG SEHAT?
CARA TERAKHIR
LU NGESELIN SIH