
Persidangan cerai Luciana dan Marcho bagian kedua yang Dexter tangani hanya tinggal menghitung hari, Luciana selaku sang penggugat terlihat tidak tenang sama sekali.
Terlepas dari kejadian beberapa hari yang lalu, disaat dirinya terbangun di dalam kamar Sang Pengacara Sexy, Luciana sedikit berhati hati sekarang.
Dia tidak ingin mengulang kesalahan yang memalukan itu lagi. Luciana tidak ingin membuat Dexter risih dan tidak nyaman dengan perbuatannya, walaupun tidak di sengaja.
Helaan napas keluar dari bibir tipisnya, hari ini Luciana tidak pergi kemana pun. Dexter juga menyuruh dirinya diam di apartemen selama pria itu pergi ke kantor Firma Hukumnya, pria itu beralasan kalau di dalam apartemen lebih aman untuk sang klien, karena Dexter tahu Marcho masih mengincar Luciana untuk saat ini.
"Apa yang harus aku lakukan di sini?" des*ahnya frustasi.
Semua pekerjaan rumah sudah Luciana lakukan. Tidak ada hal berguna yang mampu menyibukkannya sekarang, hanya menonton, bermain ponsel dan tidur.
Dexter juga melarangnya untuk memasak, karena pria itu tidak akan pulang siang ini. Rasa bosan yang Luciana rasakan kian berlipat ganda, sudah banyak chanel televisi yang dia ganti tapi tetap saja tidak berubah.
Wanita cantik itu merebahkan diri di sofa, kedua matanya perlahan terpejam- namun belum sempat terpejam dengan sempurna suara dering telepon membuatnya kembali terjaga.
Luciana bangkit, kedua matanya tertuju pada ponsel yang terus saja bergetar dan bersuara kencang.
"Nomor siapa itu? apa mungkin nomor ponsel Tuan Dexter? tapi bukannya-,"
Luciana menelan kembali kata katanya saat ponsel miliknya kembali berdering. Dengan cepat dia meraih benda itu, terlihat sedikit ragu untuk menerima panggilan- tapi rasa penasaran terus saja mendorongnya lebih dalam.
"Ha-hallo?"
'Akhirnya kau menjawab telepon Ayah. Luci, tolong Ayah Nak, tolong kembalilah pada Marcho! Ayah akan pastikan kalau dia tidak akan-,"
"Aku akan menutup teleponnya!" sela Luciana cepat.
Jantung wanita itu berdetak lebih cepat dari sebelumnya, tubuhnya melemas setelah mendengar suara Ayahnya di ujung telepon. Luciana menangkup wajahnya, dia terlihat tidak baik sekarang. Ucapan yang Fharcot lontarkan masih terekam jelas di dalam otaknya.
Deringan telepon kembali terdengar, masih dengan nomor yang sama. Luciana menutup kedua telinganya hingga ponsel itu berhenti bersuara.
"Apa yang Ayah inginkan sebenarnya? apa karena aku berpisah dari Marcho dia menjadi miskin lalu memintaku kembali pada pria itu? kenapa Ayah jahat sekali, bukankah aku juga putri kandungnya sama seperti Rossi?!"
Racauan Luciana kian menjadi, bahkan wanita itu sudah membenamkan wajahnya diarea lipatan lutut. Bahunya bergetar, masalah perceraiannya dengan Marcho yang berjalan alot, sungguh membuatnya tertekan.
Terlebih sekarang Sang Ayah memintanya kembali, bahkan suara pria tua itu terdengar frustasi.
Disaat panggilan masuk tidak kunjung Luciana respon, ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tadi. Luciana kian mengeratkan kedua matanya agar terpejam, dia mengabaikan dentingan ponsel yang menandakan ada pesan masuk.
Namun karena benda itu terus saja berbunyi, akhirnya wanita itu memberanikan diri untuk melihat. Luciana terlihat ragu, tapi perlahan namun pasti dia membuka ponselnya dan membaca pesan masuk.
'Tolong Ayah! adik mu Rossi akan di jual oleh Marcho kalau Ayah tidak mampu membuat mu kembali padanya. Hanya kau yang bisa membantunya, sebagai Kakak yang baik kau pasti tidak akan membiarkannya bukan?'
Salah satu pesan yang Fharcot kirimkan. Luciana mengigit bibirnya cukup kencang, dia juga meremas benda pipih yang ada di tangannya tanpa ampun.
'Marcho tidak akan pernah melepaskanmu. Kau tahu sifat pria itu bukan? satu satunya jalan agar hidupmu dan kita semua tenang adalah kembali padanya. Jangan jadi wanita bodoh Luciana! dia bisa saja membunuhmu, kita semua bahkan pengacara mu itu. Ayah hanya berharap kau bisa memahaminya, tolong berkorban sekali lagi demi kami, anggap saja sebagai balasan karena Ayah dan Ibu tirimu sudah membesarkan mu dengan baik!'
Dada Luciana semakin sesak, matanya memerah, hatinya sakit bagaikan diremas. Setiap kata yang di kirimkan oleh Ayahnya seakan terasa mematikan, dia baru tahu kalau Fharcot memang tidak menginginkannya selama ini.
Dirinya di besarkan hanya untuk menjadi tameng, bahan gadaian dan senjata untuk menghasilkan uang.
Malang sekali nasib mu Luciana!
Wanita itu terkekeh dalam luka, tubuhnya kian melemas, tatapannya sayu dan sendu. Rasanya seluruh jiwa yang menempati tubuhnya entah sudah pergi kemana.
"Mereka hanya memanfaatkan ku, mereka menjadikan ku bidak, mereka tidak pernah memikirkan nasib serta perasaan ku selama ini." gumamnya.
Luciana menarik napasnya dalam, kedua matanya terpejam- lalu perlahan kembali terbuka. Salah satu sudut bibirnya terangkat, senyuman tipisnya terbit, bukan senyuman bahagia melainkan senyuman frustasi.
"Baiklah kalau itu mau mereka. Aku akan kembali pada Marcho," ujarnya penuh penekanan.
Kedua matanya menyorot tajam kearah jendela apartemen, dia bangkit- kedua tungkai indahnya berjalan menuju ruang terbuka.
"Kembali setelah aku menjadi mayat!" imbuhnya.
BANG DEX CALON PAWANG LO FRUSTASI NOH
AKU TAK SANGGUP