
"Aku menginginkannya!"
"Aku sangat menginginkannya, Ken!" tambahnya lagi.
Kenny mengernyit dalam, pria itu menatap rekannya penuh tanya. Kenny bahkan merasa aneh melihat perilaku rekannya itu hari ini, pria berkepala tiga itu meringis dan sesekali menggelengkan kepalanya.
"Maksudmu apa, Nio?" tanyanya heran.
Dia masih belum mengerti apa yang tengah dipikirkan dan di bicarakan oleh Dexter, otak Kenny berjalan lambat setelah melihat sikap aneh yang rekannya itu tunjukan.
Tidak seperti biasanya?
"Aku menginginkannya, Ken!" cetusnya lagi.
Kali ini dibarengi dengan senyuman serta kekehan kecil yang kian membuat Kenny menggelengkan kepalanya heran.
"Sebenarnya apa yang sedang kau bicarakan? memangnya kau ini sedang menginginkan a-,"
"Aku menginginkannya, aku menginginkan Luciana!" selanya cepat.
Kali ini Dexter menatap serius pada Kenny, kedua pria yang memiliki profesi yang sama itu saling tatap. Kenny nampak terkejut dibuatnya, sementara Dexter terlihat menampilkan ekspresi yang serius.
Tapi ekspresi serius itu mendadak hilang saat Dexter mendengar kekehan keluar dari bibir Kenny, bahkan Dexter melihat pria itu tertawa geli sembari menepuk kedua tangannya.
"Astaga! apa aku tidak salah dengar? apa katamu tadi? kau menginginkan Luci? apa aku tidak salah dengar, seorang Antonio Dexter menginginkan seorang wanita?" Kenny terus saja terkekeh, bahkan sekarang dia sudah memegangi perutnya.
Sialan!
Dexter mengumpat dalam hati kala melihat respon yang ditunjukan rekan sekaligus sahabatnya itu, dia kira Kenny akan mendukungnya atau memberikan semangat untuknya setelah memberanikan diri mengungkapkan apa yang dia rasakan.
"Sejak kapan kau menginginkan seorang wanita? bukankah katanya wanita yang selalu menginginkanmu, sebenarnya apa yang terjadi dengan mu, Nio? apakah pesona seorang Luciana sudah mengalahkan sosok bajingan yang selama ini bersarang di kelaminmu? atau ada hal lain yang-,"
"Shut up, Ken!" bentaknya.
"Sudahlah lupakan! harusnya aku tahu dari awal kalau kau tidak bisa diandalkan." cetus Dexter lagi.
Dia bangkit, Dexter berlalu keluar dari ruang kerja Kenny dengan wajah datar. Bahkan saat Kenny memanggilnya dia menulikan kedua pendengarannya.
"Hei Nio, kau mau kemana hei?! bukankah kau belum selesai menceritakan semua isi hatimu itu, sobat!" Kenny semakin menjadi, kapan lagi dia menggoda seorang pengacara yang terkenal panas dan sexy untuk para klien wanita.
Sementara di tempat lain
Luciana terus saja mondar mandir di dalam kamarnya, setelah pekerjaannya beres dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Jujur sebenarnya Luciana ingin sekali pindah dan keluar dari apartemen ini, tapi dia teringat kembali dengan ucapan Dexter beberapa waktu yang lalu.
Kalau dirinya keluar dari apartemen ini diam diam, sama saja dengan kabur dan tidak tahu diri. Tapi Luciana juga tidak bisa terus menerus tinggal bersama pengacara sexy itu, apa lagi mereka sudah tidak ada urusan lagi dan hubungan apa pun.
Sepertinya Luciana harus kembali bertanya pada Dexter, kapan tepatnya waktu kerjanya berakhir? dia tidak mungkin selamanya disini bukan?
Luciana mengigit ujung kukunya gugup, wanita itu menarik napasnya berulang kali. Dia bingung harus apa, bahkan sekarang semua pekerjaan berat yang biasa dia lakukan sudah diambil alih oleh robot pembersih. Dirinya hanya mengelap meja, memasak untuk dirinya sendiri, lalu setelah itu hanya diam dan menonton televisi atau bermain ponsel.
Apa ini yang di sebut sebagai asisten rumah tangga?
Tapi entah kenapa Luciana malah merasa seperti tuan rumah, bukan pembantu di apartemen ini. Lalu apa gunanya dia disini? bahkan Dexter jarang sarapan di apartemennya, hanya sesekali dan itu berupa kopi hitam yang cepat dan mudah, bukan sarapan roti isi atau sereal dan yang lainnya.
Luciana merasa tidak berguna sedikit pun, lalu kenapa Dexter masih mempertahankannya disini? apa yang sang pengacara inginkan darinya sebenarnya?
"Aku harus bertanya saat Tuan Dexter pulang nanti!" tekadnya bulat.
HALLO DOKTER CINTA, BISA BANTU AKU?
DEXTER MAUNYA ELU KATANYA