My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 7



Wanita itu berlari sekuat tenaga, satu kakinya terpincang saat pergelangan kakinya terkilir saat menuruni anak tangga tadi. Tampilannya jauh dari kata rapih, gaun yang dia pakai sudah terkoyak di bahu dan punggungnya. Bahkan ada luka merah memanjang di salah satu kaki jenjang nan putihnya.


Air mata wanita cantik itu semakin menetes kala kembali teringat dengan kejadian yang menimpanya. Setelah memberanikan diri untuk mengungkapkan sedikit isi hatinya pada Marcho, Luciana tidak langsung mendapatkan persetujuan pria itu.


Marcho malah semakin murka, bahkan saat Luciana membeberkan semua hal yang dia ketahui dan lihat termasuk perselingkuhannya di hari anniversary pernikahan mereka yang kedua, Marcho semakin tidak terkendali.


Dia mengumpat kasar dan kembali memberikan pukulan pada Luciana, memberikan kata kata kasar dan menyakitkan pada wanita itu, hingga cambukan gesper yang sudah lama tidak Luciana dapatkan kini dia mendapatkannya kembali di salah satu kaki hingga pahanya.


Bukan hanya itu, Marcho juga hendak menyetubuhi Luciana, tapi wanita itu terus memberontak- walaupun pada akhirnya bibir tipis dan merahnya berhasil Marcho kuasai. Namun sebelum pria itu melakukan hal yang lebih, Luciana terlebih dahulu mengigit bibirnya dan mendorong tubuh besar yang semakin menghimpitnya ke tempat tidur.


Robekan gaunnya adalah ulah tangan Marcho, saat ini Luciana terlihat seperti seorang gelandangan yang berjalan gontai menyusuri jalanan. Air matanya tidak lagi mengalir, kedua mata Luciana menatap nanar pada pagar rumah yang dulu pernah dia tinggali.


Luciana menelan salivanya kasar, tubuhnya bergerak mendekat ke arah pagar- namun kedua kakinya terlihat ragu untuk masuk. Kediaman Fharcot terlihat sepi, bahkan pintu gerbang yang biasanya terbuka secara otomatis itu enggan menyuruhnya masuk.


Ting!


Suara ponsel membuat atensi Luciana teralih, wanita itu menunduk- menatap satu satunya benda yang berhasil dia bawa sebelum kabur dari Marcho.


Marcho๐Ÿ“ฉ[Kau tidak akan menemukan siapa pun di rumah itu, Luci Sayang. Ayahmu dan keluarga kecilnya tidak ada disana, mereka tengah menikmati liburan yang aku berikan. Jadi sekarang pulanglah, sebelum aku menyeret mu!]


Luciana meremas ponselnya kala membaca pesan yang di kirimkan oleh suami brengseknya. Pria itu benar benar akan membuatnya mati perlahan kalau dirinya tidak segera lepas dari jeratan itu. Luciana juga tidak menyangka, kalau Ayahnya memilih untuk pergi berlibur bersama istri mudanya dan juga kedua adik tirinya.


Sementara dirinya disini hampir mati karena ulah pria pilihan Fharcot yang selalu benar dimata pria tua itu.


"Ayah benar benar membuang ku?" lirihnya.


Luciana mundur perlahan, dia menjauh dari gerbang. Kedua kaki jenjangnya melangkah gontai menyusuri jalanan Milan. Remang lampu dijalanan tidak menyurutkan langkah Luciana sedikit pun, dia tidak mau kalau Marcho tiba tiba datang dan kembali membawanya.


Walaupun dia tidak tahu harus kemana, tapi rasanya itu lebih baik dari pada kembali ke neraka ciptaan Marcho yang mampu membuatnya menderita lahir dan batin.


๐Ÿบ


๐Ÿบ


๐Ÿบ


Dexter mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Pria itu terlihat fokus menyetir, dia membiarkan wanita yang ada di bawah kakinya melakukan tugasnya sebagai ja**lang.


"Fu**ck, yeah kau melakukan tugas mu dengan baik Angelina," des**ahnya.


Tapi des**ahan itu tidak terdengar memuaskan. Dexter butuh lebih dari sekedar hisapan mulut, dia menginginkan oase segar untuk memuaskan dahaga sang Serigala di gurun Sahara.


Kedua mata Dexter mulai menyanyu, pandangannya sedikit tidak fokus kala merasakan sesuatu yang siap meledak keluar dari dalam tubuhnya.


"Yeah Bic**ht!" erangnya pelan.


Dexter belum selesai, dia masih membiarkan wanita yang bernama Angelina itu memuaskannya. Namun rasa yang udah di atas ubun ubun itu hilang kala kedua mata sayunya melihat seorang wanita tengah berjalan ringkih di jalanan gelap.


'Luciana?' batinnya.


Tanpa aba aba Dexter menghentikan mobilnya sebelum pria itu melewati wanita yang dia yakini sebagai Luciana, klien barunya.


"Keluar!" titahnya.


Dexter berujar dingin dan tanpa ingin menoleh pada wanita yang sudah menegakan tubuhnya. Wanita berambut blonde itu mengerutkan dahi, dia menyeka bibirnya sesual tanpa berkedip sedikit pun kala melihat wajah tampan dan tegas Dexter.


"Apa kita akan bermain di-,"


BRUKK!


"Ambil itu dan keluarlah dari mobilku!" suara Dexter satu oktaf lebih naik, membuat wanita itu melonjak kaget.


Dengan perasaan dongkol sang wanita keluar dari mobil setelah dia meraih uang yang di berikan oleh Dexter. Cukup banyak, walaupun mereka belum bergulat di atas ranjang, hanya pemanasan yang sedikit membuat pria itu sakit kepala.


Setelah ja**lang itu keluar, Dexter kembali menyalakan mesin mobilnya dan menyusul wanita yang sudah cukup jauh berjalan dari posisinya saat ini.


"Mau kemana dia?" Dexter terus saja bertanya dan tidak sabaran untuk membawa wanita itu masuk kedalam mobilnya.


Tidak dia suruh untuk melakukan hal menjijikan, melainkan di interogasi lebih lanjut dan mungkin bisa menjadi teman ngobrolnya malam ini, bukan.



MAEN AER MULU UDAH KAYAK SILUMAN BUAYA AE LU BANG DEX๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚๐Ÿ˜‚