My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 8



Mobil yang Dexter kendarai semakin mendekat, kedua mata pria itu tidak pernah lepas dari wanita yang berjalan terseok tak tentu arah.


"Nyonya Sim- Luciana!" panggilnya kencang.


Dexter segera menghentikan laju mobilnya saat melihat wanita yang berpenampilan berantakan itu menoleh, kedua matanya menyipit kala melihat lampu terang menyorot ke arahnya.


Wanita itu bersiap untuk berlari kala Dexter keluar dari mobil, tubuhnya bergetar- rasa takut masih menguasainya. Bayangan dimana pria itu menyiksanya masih terekam jelas di otak serta hatinya, rasa sakit yang dia rasakan belum hilang bahkan mungkin tidak akan pernah hilang.


"Nyonya, ini aku!" Dexter kembali bersuara kala melihat Luciana hendak berlari menghindar. Tatapan waspada dapat Dexter lihat dengan jelas di kedua mata sembabnya.


Bahkan netra nakal Dexter yang biasanya dia gunakan sebagai pemindai tubuh wanita, kini berubah dingin kala melihat penampilan kliennya.


Luciana jauh dari kata baik, rambut panjangnya begitu kusut, pakaiannya terkoyak, dan banyak luka lebam di wajahnya. Mungkin kalau wanita itu melepaskan seluruh pakaiannya, Dexter masih bisa menemukan luka di tempat lain.


"Tu-Tuan Dexter," cicitnya.


Dexter mengangguk, dia reflek merentangkan kedua tangannya, matanya menatap lekat pada Luciana yang masih bergetar hebat. Entah karena lega atau memang Luciana sedang butuh pelukan serta perlindungan seseorang, dia berjalan mendekat pada Dexter lalu memeluk tubuh kekar sang pengacara.


Tangisan Luciana tumpah, dia tidak bisa lagi menahan sesak di dalam dadanya. Bahkan dengan kencang dia meremas jaket hitam yang Dexter gunakan sebagai pelampiasan.


"Dia melakukan ini lagi padamu?" tanya Dexter datar.


Luciana mengangguk pelan, isakannya kian terdengar- bahkan wanita itu sudah sesegukan seakan semua rasa yang tertimbun didalam hatinya saat ini ingin dia tumpahkan tapi tidak bisa.


"Apa saja yang dia lakukan? kenapa pakaian mu koyak? apa dia berniat memper**kosa istrinya sen-,"


"A-aku meminta cerai darinya. Ta-pi dia ti-dak menerima dan malah me-nyeretku dan-," suaranya tercekat dan terbata.


"Oke, tidak usah dilanjutkan. Kenapa kau kembali ke rumah suami gila mu itu? bukankah kau masih punya orang tua? Tuan Fharcot masih hidup bukan, kenapa dia membiarkan pria gila itu menyiksa putrinya sendiri?" selanya cepat.


Dexter mengurai pelukannya, kedua matanya menatap lekat wajah sembab Luciana. Bahkan dengan tidak segan pria itu menyeka lelehan air mata di wajah cantik kliennya, walaupun sedikit memerah dan berantakan namun Luciana masih sangat cantik tanpa polesan apa pun.


"Ayah tidak ada. Bahkan biar pun dia ada, aku yakin Ayah tidak akan peduli itu. Aku pernah mengatakan hal ini padanya, tapi dia lebih mempercayai Marcho dan menyuruhku untuk kembali pada-,"


Dexter kembali memeluk Luciana, entah itu modus atau pun perasaan tulus seorang Serigala Gurun yang selalu merindukan oase gurun Sahara para wanita. Tapi untuk saat ini biarkan Sang Serigala Gurun bajingan ini menyelamatkan Sang Rapunzel malang yang di sakiti oleh suaminya sendiri.


Dexter segera membawa Luciana masuk kedalam mobil, pria itu memberikan jaketnya pada Luciana- menutupi bagian tubuh mulus sang Rapunzel yang terekspos. Jujur jiwa baji**ngan Dexter reflek kumat kala melihat kilauan kulit mulus Luciana yang dia lihat dari balik gaunnya yang koyak.


Luciana juga sepertinya tidak bisa menolak, dia juga sedang butuh tempat untuk sekedar memulihkan rasa lelah dan sakitnya malam ini. Jadi dengan terpaksa dia menurut dan mengikuti kemana pun sang pengacara pergi, entah kenapa walaupun baru kenal beberapa hari ini tapi Luciana yakin Dexter mampu melepaskan dirinya dari jeratan Marcho.


Mobil yang Dexter kendarai semakin menjauh dari tempat itu, jalanan menjadi sepi- bahkan Dexter dan Luciana tidak menyadari kalau sedari tadi gerak gerik dan interaksi kedekatan mereka berdua tengah di perhatikan oleh seseorang.


"Halo Boss, Nyonya di bawa pergi oleh pria yang ditemuinya tadi siang. Apa aku harus mengejar mereka dan membawa Nyonya padamu?"


Pria berkepala pelontos yang tengah menatap kepergian Dexter dan Luciana itu terlihat tenang, mulutnya tidak berhenti mengunyah permen karet yang sudah tidak ada rasanya. Dia tetap stay di tempat dan belum mengambil tindakan apa pun, pria itu menunggu perintah dari sang Boss yang tengah mengamuk di kediamannya.


'Tidak perlu, kau kembalilah! cari tahu siapa pria yang di temui Luci ku. Singkirkan dia dari Luci ku, dia juga memeluk Luci ku bukan?'


"Hm, kau melihat semuanya Boss," sahut sang anak buah.


'Fu*ck! aku tidak akan melepaskannya. Putuskan kedua tangan pria sialan itu dan berikan kepadaku!' raungnya dengan emosi yang sudah tidak terkendali.


"Sesuai perintah mu, Boss!"



PAK PENGACARA YANG BANGSAT TAPI MANIS DAN BAIK HATI



**APA OM MARCHO YANG SUKA MAEN TANGAN TAPI BIKIN SENEP LAHIR BATIN, UHH BULU NYA OM😂😂😂


HAYYOOOOO OLENG


SEE YOU MUUAAACCHH😘😘😘**