
Luciana terlihat santai memotong beberapa bahan makanan yang akan dia jadikan santap siang untuk Dexter. Wanita itu terlihat tidak terganggu sama sekali dengan kedatangan wanita asing yang dia ketahui bernama Angelina itu.
Tapi perlahan gerakan tangannya terhenti saat mendengar suara gaduh dari luar dapur. Dahi Luciana mengernyit, dia menoleh- kedua matanya menatap lurus ke arah siluet dua orang manusia.
"Keluar!" suara bass seseorang berhasil membuat rasa penasaran Luciana kian tumbuh.
"Antonio, ayolah aku yakin kau sudah lama tidak-,"
"Hentikan ocehan mu dan keluar dari apartemen ku!" suara pria itu semakin keras.
Bahkan tanpa segan dia menyeret sang wanita yang masih bergumul dengan selimut tebal miliknya. Suara teriakan itu berhasil membuat Luciana beranjak dari tempatnya, wanita itu mencuci tangannya dengan cepat dan bergegas keluar dari dapur.
"Kenapa? apa kau sudah bosan padaku? oh aku tahu, pasti karena wanita yang menjadi pembantumu itu kan. Apa yang sudah kau lakukan untuknya, dan apa yang sudah dia berikan padamu hingga kau tidak lagi membutuhkan ku, hm? apa dia lebih hebat dariku?"
Wanita yang bernama Angelina itu kian berani, bahkan tanpa ragu dia menyibakkan selimut yang membalut tubuhnya hingga tidak lagi tertutup apa pun.
"Dia tidak seperti yang kau pikirkan. Dia berbeda dengan mu Angelina, jadi jangan samakan dia dengan dirimu. Sekarang pakai baju mu dan keluar dari tempatku, sebelum aku menyeretmu!"
Dexter berbalik, dia pergi meninggalkan Angelina dalam keadaan bugil. Wanita itu berdecak kesal, bahkan meninjukan kepalan tangannya pada selimut yang tidak lagi menutupi tubuhnya. Angelina merasa terhina karena penolakan Dexter, dia sudah dalam keadaan seperti ini tapi pria panas itu sama sekali tidak tergoda.
Kenapa? bukankah biasanya Dexter tidak akan menolaknya saat dirinya sudah bertelanjang bulat seperti ini? pasti ada hal yang membuat pengacara panas dan sexy itu berubah.
"Wanita itu, siapa dia sebenarnya? tapi aku yakin pasti ja**lang itu sudah melakukan sesuatu pada Dexter, sialan!"
Disaat Angelina terus saja mengumpati Luciana, di luar Dexter terlihat gelisah dan tidak tahu harus berbuat apa. Rasa canggung mulai menghampirinya, dia bisa melihat Luciana terlihat cuek dan masa bodoh dengan kedatangan salah satu mantan klien yang pernah dia tiduri itu. Entah kenapa Dexter tidak suka melihat sikap yang Luciana tunjukan, dia berharap kalau wanita itu marah, mencecar atau bahkan memakinya karena sudah-
Ah Dexter terkekeh sembari menggelengkan kepalanya. Pria itu mendongak sembari menggigit bibir bawahnya kencang, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini. Kenapa dirinya malah bersikap seperti seorang kekasih atau bahkan suami yang berharap di cemburui oleh istrinya.
"Kau yakin ingin aku pergi?"
Suara sialan itu berhasil menghentikan kekehan Dexter. Pria itu menoleh, matanya yang tadi terlihat lembut berubah menajam dengan cepat. Raut wajah Dexter datar dan dingin, lewat sorot matanya dia menyuruh wanita itu untuk segera pergi tanpa harus mengeluarkan suara.
Dengan kesal Angelina menghentakkan kedua kakinya keluar dari apartemen Dexter, suara gaduh heels yang wanita itu pakai berhasil membuat Luciana menoleh. Dia yang sedari tadi berusaha tidak peduli akhirnya kembali penasaran, padahal Luciana bertekad untuk abai- tadi kedua kakinya sudah mendekat ke pintu kamar Dexter tapi karena takut di anggap tidak sopan akhirnya dia kembali ke dapur.
Dan sekarang sialnya rasa penasaran itu kembali hadir, bahkan menggebu lebih dari sebelumnya.
'Apa mereka bertengkar?' tanyanya dalam hati.
Luciana menggigit bibirnya, dia merasa tidak enak sekarang. Apa karena dirinya Sang Pengacara dan wanita itu bertengkar? apa wanita itu salah paham karena kehadirannya di sini? kalau memang begitu adanya berarti dirinya secara tidak langsung sudah membuat sepasang kekasih terlibat masalah.
"Aku terlihat seperti orang jahat. Semoga Tuan Dexter dan kekasihnya bisa kembali berbaikan, maafkan aku ya Tuhan karena sudah membuat mereka salah paham." gumamnya miris dan sangat khawatir.
Terlebih saat ini Luciana dapat melihat Dexter tengah mengusap wajahnya kasar, rambut klimisnya terlihat berantakan dan sangat tidak rapih. Dexter terlihat tidak baik, bahkan jauh dari kata tidak baik.
'Apa pria itu frustasi karena kekasihnya merajuk?' tanya Luciana lagi dalam hati.
AKU TIDAK PEDULI
ABANG FRUSTASI NENG, PEKA NGAPA