My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 30



Luciana menatap tidak berkedip pada lembaran foto yang ada di tangannya. Foto foto itu baru saja di kirimkan oleh kurir, Luciana yang penasaran segera membukanya.


Tapi ternyata isinya lembaran kertas yang menampilkan adegan senonoh Rossi adik tirinya dengan seorang pria. Wajah pria itu tidak jelas, sementara Rossi terlihat sangat jelas tanpa mengenakan apa pun.


Dari raut ekspresi wajah yang adik tirinya itu perlihatkan, Rossi begitu menikmatinya. Luciana bukan wanita yang tidak paham, dia juga sudah berpengalaman dalam hal ranjang walaupun mungkin tidak sejago para ja*lang di luaran sana, makanya Marcho berselingkuh darinya.


Apakah selama ini dia tidak memuaskan pria itu ketika bercinta?


Entah kenapa pemikiran itu tiba tiba saja melintas di otaknya. Luciana menghempaskan tubuhnya di sofa, tangannya terulur memijat kepalanya yang pening. Wanita itu meletakan kasar foto yang sedari tadi di pegangnya, tapi kedua matanya kembali terfokus pada salah satu foto yang memiliki tulisan di belakangnya.


'Bagaimana? apa kau ingin melihat adik tiri yang satu Ayah denganmu menjadi seorang pel*acur seumur hidupnya? atau kembalilah padaku Luci. Dengan begitu aku akan melepaskan adik tirimu dan kita pergi jauh dari negara ini. Katakan, kau ingin tinggal dimana? New Zeland, Kashmir, atau negara dataran rendah lainnya? aku akan selalu siap membawamu kapan pun, Sayang. Aku tunggu keputusanmu, jangan terlalu lama! kau tahu kan kalau aku bukan tipe orang yang penyabar.'


'See you, Luci ku.'


Luciana menghela napas kasar, dia meremas tanpa ampun benda yang ada di tangannya lalu melemparkannya asal. Wanita itu menangkup wajahnya frustasi, dia menekuk kedua lututnya dan menenggelamkan wajahnya disana.


Luciana yang tengah galau hebat sampai tidak menyadari kalau Dexter baru saja keluar dari kamarnya. Pria itu terlihat membawa beberapa lembar kertas, tapi dahinya mengerut saat melihat Luciana menangkupkan kepala serta wajahnya di lutut.


Pria yang masih belum pulih sepenuhnya itu dengan cepat mendekat pada Luciana, Dexter mendudukkan dirinya di dekat Luciana, bahkan saking galau dan frustasinya wanita itu sampai tidak sadar kalau Sang Pengacara sudah mengusap pucuk kepalanya.


"Kau baik baik saja?" tanya Dexter lembut.


"Hm?"


Luciana tidak menjawab, dia hanya bergumam- lalu tanpa permisi dia menyandarkan kepalanya di bahu kekar milik Dexter yang tidak terluka. Kedua mata Luciana kembali terpejam, wajahnya terlihat begitu lelah, tapi tanpa siapa pun tahu justru hati serta otaknya pun lebih lelah dan sakit.


"Aku lelah, rasanya aku tidak sanggup untuk melanjutkannya. Apa aku boleh menyerah? aku benar benar le-,"


"Sssttt- sudah aku katakan apa pun yang kau rasakan bicaralah padaku. Aku selalu ada disini untukmu, kau tidak sendirian Anna,"


Tanpa sadar Dexter meraih tubuh ringkih itu dan mendekapnya erat, bahkan Dexter terlihat memberikan kecupan di pucuk kepala Luciana tanpa segan.


Bukan karena mencari kesempatan dalam kesedihan orang lain, tapi dia benar benar ingin memberikan kekuatan pada wanita yang ada didalam dekapannya saat ini. Mungkin kalau Luciana sama seperti klien kliennya terdahulu, bukan hanya ciuman serta kecupan di pucuk kepala saja yang Dexter berikan, tapi hentakan kasar dan cumbuan di atas ranjang yang akan menjadi acuan terakhirnya.


Tapi ini bukan mereka, ini Luciana. Wanita yang tidak pernah peka dengan segala bentuk godaan darinya, bahkan sekalipun Dexter sudah bertelanjang bulat di hadapan wanita itu.


"Tolong selesaikan cepat, aku benar benar tidak sanggup lagi." gumamnya lirih penuh harap dan kepasrahan.



JAN GITU DONG BANG DEX