My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 6



Dexter diam diam melirik Luciana yang tengah membaca berkas yang sudah di persiapkan olehnya. Sang pengacara muda itu menipiskan bibir kala melihat raut wajah serius yang tengah wanita itu tunjukan.


"Apa dengan ini aku bisa lepas dari Marcho?"


Dexter tersentak, pria itu berdehem pelan dan mengalihkan pandangannya ke arah lain sejenak sebelum dia kembali menatap Luciana.


"Aku akan memasukan kekerasan yang kau alami selama pernikahan mu. Setelah ini kita melakukan visum agar memperkuat bukti kalau pernikahan kalian berdua sudah tidak sehat." Dexter manatap dalam pada Luciana yang masih terdiam.


Wanita itu belum menyahut, namun tidak lama Luciana mengangguk setuju dan kembali membaca berkas yang ada di tangannya.


Selepas pertemuan sang pengacara dengan klien barunya, Dexter kembali ke apartemen. Hari ini sudah cukup dirinya untuk bekerja, sekarang Dexter butuh ketenangan dan sedikit pijatan.


Pria itu membuka seluruh pakaiannya dan hanya tersisa celana da**lam untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Dexter berjalan menuju kolam renang, air tenang nan jernih itu terus saja melambai memanggilnya.


Byuur!


Tanpa ragu Dexter menceburkan dirinya kedalam air, tubuh kekar berotot dengan sedikit berbulu dan berkulit tan itu meliuk liuk dibawah air. Kedua mata Dexter terpejam selama menyelam, sekian detik dia berada didalam air kedua mata pria itu sontak terbuka kala melihat bayangan seorang wanita di kepalanya.


"Sial!" rutuknya dalam hati.


Dexter keluar dari air, pria itu menyugar rambut basahnya dengan kasar. Dia meraup udara sebanyak mungkin sembari menggelengkan kepalanya pelan.


"Kenapa dia selalu saja mengikuti ku?!" des*ahnya risau.


Dexter menepi, pria itu menyandarkan tubuhnya di sisi kolam renang. Wajah sendu seorang wanita kembali hadir di dalam benaknya, berkali kali Dexter melemparnya dengan air tapi bayangan itu tidak kunjung hilang.


Hati serta otaknya semakin risau, Dexter baru pertama kali ini dibayangi oleh kliennya sendiri. Bukan bayangan bahagia melainkan raut wajah sedih yang terlihat amat tertekan.


"Baiklah Putri Rapunzel, aku berjanji akan melepaskan mu dari jeratan suami mu itu. Sekarang pergilah dan jangan ganggu aku lagi, aku bisa gila kalau kau terus saja muncul!"


Dexter kembali menggelamkan tubuhnya kedalam air. Dia berharap bayangan Luciana tidak akan menghantuinya lagi, karena kalau sampai itu terjadi Dexter tidak bisa berjanji kalau dirinya tidak akan melakukan hal nekat.


Mendatangi istri orang lain itu secara langsung atau melakukan panggilan video.


🐺


🐺


🐺


Luciana menghela napasnya saat taksi yang dia tumpangi sudah berada di depan rumah besar milik Marcho, pria yang masih menyandang sebagai suami sahnya.


Dengan ragu Luciana melangkah, ekor matanya terus saja melirik pada jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Waktu masih menunjukan pukul 5 sore, artinya Marcho belum sampai dirumah. Pria itu biasanya akan sampai malam atau selepas senja.


"Dia belum pulang? syukurlah, artinya aku bisa-,"


"Bisa apa, hm?"


Suara Luciana tercekat kala mendengar suara dari arah belakang tubuhnya. Wanita itu berbalik, kedua matanya membulat saat melihat Marcho sudah berada tidak jauh darinya. Kedua mata pria itu menatap tajam pada Luciana, kedua kaki kokohnya berjalan mendekat pada istrinya yang terlihat reflek mundur ke belakang.


"Sepertinya kau baru saja keluar dari rum-,"


"Eemm... Ya, aku baru saja dari supermarket untuk membeli pembalut," kilahnya.


Luciana kembali berbalik, dia berusaha menghindar dari Marcho yang sedari tadi terus saja menatap tak berekspresi.


"Dari supermarket ya? oh benarkah? bukannya kau baru saja pulang sehabis bertemu dengan pria tanpa seizin dariku!"


PRAANG!


Langkah Luciana terhenti kala mendengar suara benda pecah tidak jauh darinya. Kedua matanya terpejam kala mendengar hantaman untuk kedua kalinya.


"Kau sudah berani berbohong, Luci Sayang? katakan, siapa dia?! apa dia selingkuhan mu hm?" suara Marcho terdengar rendah namun penuh ancaman.


"Aku tahu apa yang kau lakukan selama-,"


"Aku juga tahu apa yang sudah kau lakukan selama dua tahun pernikahan kita. Boleh aku jujur, aku sudah lelah. Bisakah kita akhiri ini secara baik baik?"


Entah keberanian dari mana Luciana mampu mengatakan sedikit isi hatinya pada Marcho saat ini. Walaupun kesadarannya kembali membuat wanita itu ingin berlari sejauh mungkin.


"Apa maksudmu?"


Marcho kembali datar, pria itu semakin mendekat pada Luciana tapi wanitanya malah melangkah mundur dan menjauh.


"Ayo kita bercerai!" sahutnya tanpa ragu, namun didalam hati Luciana tidak memungkiri kalau dirinya tengah takut.



ADUH ADUH



SABAR YA, BENTAR LAGI PUTUS KOK😂😂