
Luciana masih terhenyak kala melihat Dexter berada di tempat ini, tubuhnya masih membeku- cekalan keras di area pergelangan tangannya masih terasa membuat gerakannya terbatas.
Namun tidak lama cekalan pria berkepala plontos itu mengendur membuat Luciana sigap melepaskan diri, lalu berlari mendekat pada Dexter yang juga semakin dekat padanya.
Luciana tidak peduli dengan Marcho, dia tahu pasti saat ini pria kejam itu tengah menahan amarahnya melihat dirinya membangkang. Tapi Luciana tidak peduli, yang penting untuknya sekarang dia bisa terbebas dari suaminya. Mungkin kalau Marcho pria lembut, baik, tidak mengkhianatinya seperti ini, Luciana pun tidak akan pernah membangkang.
Tamparan serta pukulan yang selalu dia terima masih bisa termaafkan, tapi untuk perselingkuhan mohon maaf- tidak ada kata kesempatan kedua dalam kamus hidupnya. Wanita itu sudah melihat bagaimana sakitnya di khianati, Sang Ibu pun menderita karena dikhianati Ayahnya dulu hingga ajal menjemput.
Bahkan sebelum ajal menjemput Fharcot tega membawa gundiknya menemui Sang Ibu yang masih dalam keadaan sekarat di rumah sakit.
Luciana tidak akan pernah melupakannya, walaupun dulu dirinya masih kecil.
"Kau mengenalku sangat baik rupanya, Tuan Simon?" Dexter menarik tubuh Luciana agar semakin merapat kepadanya. Senyuman tipisnya terbit kala melihat wajah tidak bersahabat yang di tunjukan oleh Marcho sekarang.
Pria bajingan yang sangat berutung itu terlihat menggeram, tatapannya menajam dan penuh perhitungan pada Dexter.
"Lepaskan tanganmu dari tubuh istriku!" suara Marcho terdengar sangat dalam dan berat.
Tangannya mengepal erat, ekor matanya melirik pada pria berkepala plontos yang masih belum melakukan apa pun karena tidak ada perintah dari Sang Tuan.
Dexter terkekeh pelan, bukannya takut dengan penekanan yang Marcho berikan, Sang Pengacara sexy itu justru semakin memepetkan tubuh Luciana, tangan besarnya merangkul pinggang ramping sang Rapunzel.
Kedua matanya menyorot tajam pada Marcho yang semakin terlihat murka namun sekuat tenaga menahannya. Dexter bisa melihat banyak urat menonjol di leher, pelipis dan juga kedua tangan rival kliennya itu.
Pemandangan yang indah bukan?
"Dia klien ku Tuan Simon, jadi aku harus melindunginya bagaimana pun caranya, dari siapa pun- termasuk kau." cetusnya tajam.
"Sekali pun kau masih suaminya. Tapi di mata ku sekarang kau tidak lebih dari seorang pria yang tidak tahu diri. Kau sudah menyiksa, menyelingkuhinya, dan kini malah mengemis memintanya untuk kembali. Kau tidak lebih dari seorang pria sampah yang-,"
"Tutup mulut mu Tuan Pengacara! sebelum peluru yang ada di dalam pistol ku melayang ke arah kepalamu!"
Pria botak yang tidak jauh dari Dexter seketika menodongkan senjatanya, ketika mendengar Sang Tuan di rendahkan. Pria bertubuh tinggi besar dan berwajah seram itu menatap tajam penuh peringatan pada Dexter, bahkan tanpa ragu dia menodongkan pistolnya pada pria yang menjadi batu penghalang bagi Bossnya.
"Turunkan senjata mu! kita tidak akan membuat keributan disini!" Marcho menekan setiap katanya, memberikan peringatan pada salah satu bawahan terbaiknya.
Kedua mata suami Luciana itu terus saja menatap tak berekspresi pada Dexter dan istrinya.
"Kita kembali! kalau kau berencana kembali padaku, pintu rumah selalu terbuka untuk mu Luci Sayang. Jangan sampai kau menyesal karena sudah mengambil keputusan yang salah, tapi tenang saja- aku akan memaafkan mu dan menerima istriku kembali nanti." Marcho memberikan senyuman misteriusnya pada Luciana.
'Sialan!' umpatnya dalam hati.
"Dan untuk kau Pengacara, aku menitipkan Luciku padamu. Jangan sampai terjadi apa pun padanya, karena akan aku pastikan dia kembali padaku!" imbuhnya.
Marcho berbalik, pria itu kembali menuju mobilnya di ikuti oleh bawahnya. Kedua pria itu saling berdampingan, lewat tatapan mata Marcho terlihat mengisyaratkan sesuatu pada si botak.
Pria botak itu mengangguk pelan, ekor matanya melirik pada Dexter sembari tersenyum misterius. Mobil hitam yang Marcho kendarai melaju cepat meninggalkan lokasi, kini hanya tersisa Luciana dan Dexter yang masih menatap kepergian mobil Marcho.
"Kenapa kau ada disini? bukankah kau ada di-,"
"Aku ingin bertemu Tuan Kenny. Tapi ternyata Tuan Kenny sedang tidak ada ditempat, jadi aku memutuskan untuk kembali. Tapi saat aku menunggu taksi, Marcho-,"
"Kenapa kau ingin bertemu Kenny? bukankah kau tidak ada urusan dengannya? kau klien ku bukan kliennya. Jadi, apa pun yang kau rasakan harusnya berbicara saja dengan ku bukan dengan siapa pun!" entah kenapa Dexter tidak terima kalau Luciana mencari rekannya itu.
Ada rasa tidak suka saat Luciana tidak hanya bergantung padanya, tapi juga pada orang lain. Yang dia inginkan Luciana hanya bergantung padanya dalam hal apa pun.
Egois? tentu saja, itu adalah salah satu sifat buruk Dexter.
"Sorry, tadinya aku hanya ingin membicarakan sesuatu dengan Tuan Kenny. Tapi setelah ku pikir lagi, sepertinya pembicaraan ini lebih cocok aku bicarakan dengan mu. Apa kau hari ini tidak sibuk, Tuan Dexter?"
Suara lembut Luciana membuat kesadaran Dexter terenggut, kedua telinganya mendadak tuli dan matanya terus saja tertuju pada wanita yang masih menggerakan bibir semerah Cheerynya.
Kenapa Dexter terus saja menatap lekat ke arah sana?
Jiwa Serigalanya memberontak, dan sialnya datang diwaktu yang tidak tepat hanya gara gara bibir sialan itu.
"Tuan Dexter, apa kau baik baik saja?" Luciana menyentuh lengan Sang Pengacara, dan itu berhasil membuat Dexter tersadar. Pria itu tersentak dan mengerjab cepat sembari mengalihkan pandangannya ke arah lain.
"Tuan Dexter, kau tidak apa apa? apa kau-,"
"It's okey, aku tidak apa apa. Mari kita bicara di tempat lain, atau ayo kita pulang ke apartemen saja!" cetusnya cepat, tangannya segera menarik lengan Luciana dan membawa gadis itu masuk kedalam mobilnya.
TAK KASIH YANG MODE INSYAF DULU, KALO TERUS TERUSAN DIKASIH SIXPACK TAKUT PADA SAWAN KALIAN 🏃🏃🏃🏃🏃