My Hot Lawyer

My Hot Lawyer
MHL Bab 19



Hari yang Luciana dan Dexter nantikan akhirnya datang juga. Hari ini mereka berdua akan menghadiri sidang perceraian yang Luciana layangkan beberapa waktu yang lalu.


Wanita bergaun biru bermotif bunga bunga itu terus saja memilin jari jemarinya gugup, Luciana menunduk- dia belum berani mengangkat wajahnya.


Hari ini sidang pertamanya, dia berdoa agar Hakim ketua bisa mengabulkan gugatan cerainya tanpa uluran waktu lagi. Luciana khawatir kalau Marcho sudah melakukan sesuatu sebelum persidangan ini di mulai, pria berpengaruh itu pasti tidak akan tinggal diam dan melepaskannya dengan mudah.


Terlebih Sang Ayah masih memiliki hutang dan balas budi pada pria yang masih menjadi suami sahnya itu.


"Tenanglah, tarik napasmu lalu keluarkan secara perlahan. Jangan perlihatkan kegugupan mu di depan siapa pun, lihat Tuan Simon tengah menatapmu sekarang. Dia berusaha membuatmu tidak nyaman dan panik, kau akan semakin down kalau terus bersikap seperti ini." Dexter berbisik di salah satu telinga Luciana.


Tatapan pria itu tertuju ke depan, tapi bibirnya bergerak sensual di sisi pelipis mulus kliennya. Dexter terlihat datar, entah apa yang sedang dia pikirkan saat ini- yang jelas pria itu harus menahan napasnya sejenak saat mencium bau parfum yang menguar dari tubuh Luciana.


'Sialan! kenapa wanginya manis sekali?' jakun Dexter naik turun, dia berdehem pelan untuk menetralkan dahaga yang mulai menyerangnya. Sepertinya Serigala gurunnya mulai kehausan, sudah beberapa hari ini dia tidak pernah memberinya jatah menyelam di oase.


"Aku tidak yakin kalau-,"


"Ssttt- tenanglah. Aku akan melakukan apa pun agar kau bisa terlepas dari jeratan suami gilamu itu," sela Dexter cepat.


Luciana yang tadinya menunduk, perlahan mengangkat wajahnya dan menatap pada pria yang akan membantu membebaskannya dari jeratan pria iblis yang bernama Marcho.


"Terimakasih, aku tidak tahu harus mengatakan apa padamu Tuan Dexter. Aku harap pekerjaanku selama ini tidak mengecewakan mu, dan membuat mu rugi sangat banyak."


Lagi lagi Dexter harus menahan napasnya saat melihat Luciana tersenyum, bahkan wanita itu dengan mudahnya meraih satu tangannya lalu menggenggamnya erat.


'Sial! aku kehilangan konsentrasiku.' desa*ahnya dalam hati.


Tuk


Tuk


Palu Hakim mulai terdengar, orang yang menjadi penentu di persidangan ini terlihat sudah siap. Kedua matanya menatap tajam ke arah Luciana dan Marcho.


"Persidangan ini akan di mulai, mohon penggugat dan tergugat menyiapkan diri, berkas, dan saksi yang dibawa!"


🐺


🐺


🐺


Adu argumen tidak dapat di hindari, Dexter mulai menunjukan tarik serta cakarnya. Sang pengacara panas itu terlihat sangat serius saat menjalankan tugasnya, mulutnya terus saja menjelaskan apa yang kliennya inginkan pada Hakim.


Mulai dari bukti perselingkuhan hingga penganiayaan yang Luciana alami selama ini. Pihak Marcho masih diam, bahkan saat persidangan berjalan Dexter dan Luciana baru menyadari kalau Fharcot ada di belakang Marcho.


Kenapa pria tua itu ada disana?


"Begitulah Yang Mulia. Saya harap anda bisa segera mengabulkan gugatan cerai yang klien saya ajukan, dia bukan hanya terluka fisik namun juga batin. Saya harap Yang Mulia mengerti penderitaannya selama ini."


Dexter mengakhiri pembelaannya, pria itu melirik pada Marcho dan Fharcot yang terlihat tenang. Entah mengapa Dexter yakin kalau keterdiaman Marcho saat ini kerena pria itu tengah merencanakan sesuatu.


Luciana benar, suami gilanya itu pasti tidak akan semudah itu melepaskan wanita yang ada di sisinya saat ini.


"Dari pihak tergugat, apa ada pembelaan. Karena yang aku lihat tidak ada persetujuan bercerai, apa Tuan Simoncelli akan melakukan pembelaan disini?" tatapan Sang Hakim tertuju pada Marcho, setelah mendengarkan penuturan sang pengacara penggugat.


"Ya, saya keberatan Yang Mulia." Marcho angkat bicara.


Pria itu bangkit dan berdiri, diikuti oleh Fharcot yang bergerak maju kedepan. Lewat sorot matanya Marcho memberikan perintah pada pria tua itu, seakan berkata ' Jalankan tugasmu dengan baik!'


"Yang Mulia Hakim, mohon izinkan saya untuk memberikan kesaksian. Saya selaku Ayah kandung dari penggugat hanya ingin menyampaikan bahwa apa yang dikatakan pengacara putri saya semuanya tidak benar. Marcho tidak pernah menyiksa atau memukul Luciana, putri saya memang sedikit emosian dan melampiaskan semuanya pada tubuhnya sendiri."


Fharcot berbicara tanpa ragu sedikit pun, bahkan saat mengatakan semua itu dia sama sekali tidak menatap atau melirik pada Luciana dan Dexter.


Padahal saat ini Dexter dan Luciana tengah terkejut setengah mati mendengar ucapan bohongnya.


"A-Ayah," gumam Luciana begitu sakit.


Sebegitu tidak berharganya di mata Sang Ayah, hingga pria itu lebih rela melihatnya mati perlahan di tangan Marcho dari pada membantunya bebas.


"Saya keberatan Yang Mulia! Tuan Fharcot berdusta dan-,"


"Tidak ada yang menyuruhmu berbicara Pengacara Dexter! kau sudah diberi kesempatan, dan sekarang biarkan pihak tergugat yang berbicara. Silahkan anda lanjutkan, Tuan Fhatcot!"


Kedua tangan Dexter mengepal erat, tatapannya langsung tertuju pada Marcho yang kebetulan juga tengah menatap ke arahnya dengan seringai kecil.


"Menantu saya tidak berselingkuh, dia hanya dijebak oleh salah satu lawan bisnisnya dan kebetulan istrinya melihat hal itu, yang berakibat pertengkaran fatal hingga berakhir di ruang sidang ini!" lagi lagi Fharcot berdusta, pria tua itu bahkan mengatakannya tanpa ragu sedikit pun.


Marcho semakin melebarkan senyumannya, dia melirik pada Luciana yang terlihat tidak percaya dan semakin memucat dibuatnya.


'Kenapa Ayah?' gumamnya.


Wanita itu menunduk, kedua matanya terpejam- dia bahkan tidak percaya diri sekarang biarpun ada sang pengacara hebat mendampinginya.


"Sialan! apa yang Fharcot katakan?! apa dia sudah tidak waras?" geram Dexter.


Tidak jauh dari mereka Marcho semakin mengembangkan senyumannya, pria itu terus saja menatap Luciana dalam dan lekat.


"Sudah aku katakan bukan, aku tidak akan melepaskan mu Luci Sayang." bisik nya pelan.



BANG DEXTER DALAM MODE SOPAN DAN SERIUS



NENG INEM TERKEJOOOTTT



OM MARCHO EMANG BANDIT YA, MELEPASKAN GAK MAU TAPI DI SAKITIN, MAU LO APA BANGSUL!