
Waktu 6 bulan terasa cukup lama untuk Dexter, tapi pada akhirnya dia bisa melewatinya dengan baik dan penuh kesabaran.
Dexter juga dapat menahan gejolak birahi yang sudah sering dia tahan selama berdekatan dengan Luciana, bahkan sebelum dia berhasil mendapatkan wanita itu pun Dexter sudah mati matian menahannya.
Dan sekarang, malam dan hari terakhir dimana waktu yang di berikan Luciana berakhir. Saat ini keduanya tengah berasa disalah satu hotel mewah yang dijadikan tempat istimewa oleh Dexter. Pria itu sendiri yang memilihnya, karena Luciana terlihat menyerahkan semua padanya.
Keduanya terlihat begitu serius, alunan lagu jazz yang tengah di tampilkan membuat suasana kian romantis saja. Bahkan cahaya redup di tempat itu semakin membuat tubuh Dexter bergejolak. Jujur dia tidak sabar untuk mendengar keputusan yang akan di berikan oleh Luciana.
Dexter harap harap cemas.
Karena selama waktu pendekatan mereka, Luciana sama sekali tidak mengizinkannya untuk menyentuh lebih. Hanya memberikan kecupan selamat pagi di dahi, pipi dan berpelukan sewajarnya. Jujur itu bukan hubungan lazim yang biasa dilakukan oleh pasangan di negara ini.
Biasanya mereka sudah berbagi ranjang serta keringat saat sudah hidup satu atap seperti ini, tapi lain dengan Luciana. Wanita itu tidak mengizinkan Si Serigala Gurun melolong dan melepaskan dahaganya.
Sesak sekali.
"Anna, kau tahu ini adalah lamaran kedua dariku. Aku hanya memohon padamu, jangan sampai ada lamaran ketiga dariku setelah ini. Kau tidak mau kan melihat seorang pengacara tampan panas dan sexy mati bunuh diri di salah satu kamar hotel ini?" suara Dexter terdengar lemah penuh permohonan. Kedua matanya menatap lembut pada Luciana, tangan besarnya sudah menggenggam erat tangan kecil dan lentik yang di miliki oleh wanita itu.
Luciana terlihat amat cantik dengan balutan gaun hitam model Sabrina. Menampilkan baju mulus dan sexynya, bahkan kedua mata Dexter tidak berkedip saat melihat penampilan kekasihnya malam ini.
Luciana yang sedari tadi menyimak keluh kesah Dexter hanya menampilkan senyuman tipisnya. Dia sebenarnya ingin tertawa geli melihat wajah itu, selama hampir enam bulan ini dia mengamati dan mengawasi gerak gerik serta sifat yang dimiliki oleh Sang Pengacara. Luciana tahu kalau Dexter adalah seorang pemain sebelum bertemu dan berhubungan dengannya. Itu tidak masalah baginya, toh dulu mereka tidak memiliki hubungan apa pun jadi Dexter bebas melakukan semua yang diinginkannya, termasuk sering tidur dengan para wanita.
Yang paling penting untuk Luciana saat ini adalah, Dexter tidak mengkhianatinya selama mereka menjalin kasih. Dan itu sudah Dexter buktikan selama berbulan bulan, bahkan Luciana tahu kalau Pengacara Panasnya jarang atau bahkan tidak pernah lagi menikmati se*langkangan wanita setelah dirinya tinggal di apartemen.
Jangan kira dirinya tidak tahu.
"Aku menerimamu!" sahut Luciana penuh kesungguhan.
Kedua sudut bibirnya terangkat, dia menatap Dexter yang terlihat membulatkan kedua matanya. Tidak lama pria itu mengembangkan senyumannya dan nyaris melompat dari kursi kalau saja tidak melihat situasi.
Luciana menghela napasnya, dia mengangguk dan tersenyum manis pada pria yang sudah berdiri lalu mendekat ke arahnya dengan cepat. Dexter meraih tangan Luciana agar wanita itu bergegas bangkit, tanpa izin Dexter mendekapnya erat dan memberikan kecupan dalam di bibir Luciana.
"Tidak usah marah, karena minggu depan kita akan menikah! Aku tidak mau mendengar penolakan lagi darimu. Lebih cepat lebih baik, kau tahu- kau cantik dan sexy malam ini, Anna ku."
Dexter menyudahi ucapannya dengan bisikan menggoda diakhir kalimat, wajah Luciana merona- wanita itu tidak bisa membatah. Jujur pesona Dexter memang lebih menggoda dari pada Marcho dulu, tapi karena hati serta fisiknya belum yakin dengan pria panas ini, maka Luciana banyak menghindar serta mengulur waktu.
Dan mungkin sekarang dirinya berhak bahagia, terlepas dari jeratan pria yang menjadi mantan suaminya, Ayahnya yang gila jabatan serta uang, dan juga kekangan keluarganya. Bahkan sampai sekarang Luciana tidak tahu dimana Ayahnya berasa, sudah matikan? Atau masih hidup tapi menggelandang. Karena yang dia tahu hanya ibu tiri dan adik adik tirinya yang sudah pindah dari negara ini.
"Apa kita bisa menikah resmi? Secara agama dan negara? Kau tahu, aku tidak berniat untuk menikah ketiga kalinya Antonio. Aku hanya ingin menghabiskan sisa umurku dengan suami yang mencintaiku seumur hidupnya, jadi aku mohon sebelum kau mengambil keputusan itu pikirkan baik baik. Mungkin dulu aku bersyukur karena Marcho menikahiku hanya secara negara, akhirnya aku bisa berpisah dengannya. Tapi untuk kali ini aku-,"
"Sssttt- aku ingin menghabiskan umurku bersama mu, aku sudah lelah ber petualangan. Aku ingin hidup damai bersama istri dan anak anakku nanti, dan kau lah istriku calon ibu dari anak anakku. Dan ya kalau pun kita tidak di berikan anak itu akan lebih baik, karena aku akan terus memonopoli mu hingga- AAAKKHH!"
Dexter memekik saat Luciana mencubit perut berotot nya, tidak terlalu sakit sebenarnya. Dia hanya berakting dan bersikap manja pada wanita yang berhasil membuat petualangan Serigala Turunnya berakhir.
Dexter menjilat ludahnya sendiri dan dia menyadari itu.
"Apa kita bisa menyicilnya sedikit disini? Hhmm- aku rasa itu bukan ide yang buruk. Anggap saja sebagai perkenalan antara Serigala ku dan oase mu yang selalu membuatku-,"
"Aku akan pergi kalau kau terus saja berpikir mesum, Tuan Dexter. Satu minggu, tidak ada sentuhan selama satu minggu sebelum kita menikah! Deal dan deal!" tegas Luciana tidak mau di ganggu gugat.
"Baiklah, aku akan berpuasa selama satu minggu lagi. Berdoa saja Serigala ku tidak menyusut karena merajuk." lirihnya pasrah.
SENYUMIN AJA 🤣🤣