
Tok Tok Tok
"Dengan ini saudara Marcho Simoncelli dan Luciana Fharcot resmi bercerai!"
Tiga ketukan palu hakim mengesahkan perpisahan antara Luciana dan Marcho. Luciana sudah menangis di pelukan Dexter, wanita itu tidak dapat lagi menahan rasa bahagianya. Akhirnya penantiannya selama ini bisa terwujud, dirinya lepas dari jeratan Marcho yang terus saja membelit jiwa serta raganya.
"Ssstt- sudah tidak perlu menangis, harusnya kau tertawa sekarang," bisik Dexter.
Pria itu tidak henti hentinya mengusap pucuk kepala Luciana. Dia membiarkan wanita itu menumpahkan semua rasa yang terpendam di hatinya selama ini. Ekor matanya sesekali melirik pada Marcho yang terlihat geram dan tengah berbicara dengan pengacaranya. Salah satu sudut bibir Dexter terangkat, dia tahu apa yang sedang Marcho lakukan pada pria yang menjadi kuasa hukumnya itu.
Marcho pasti tengah mencecar bahkan mungkin mengancam pengacaranya karena kalah dalam mempertahankan Luciana agar tetap didalam jeratannya. Tapi sayang otak jenius seorang Antonio Dexter tidak akan mudah dikalahkan begitu saja.
Rivalnya boleh saja bermain dengan hakim ketua, tapi Dexter juga memiliki cara agar hukum tetap berjalan semestinya dan tidak ada kecurangan didalamnya.
"Aku tidak tahu lagi harus berkata apa selain ucapan terimakasih. Terimakasih Tuan Dexter, karena kau sudah melepaskan ku dari jeratan pria itu. Aku- aku tidak tahu harus mengatakan a-,"
"Tenangkan dirimu oke! kita akan bicarakan semua ini saat sampai di apartemen nanti. Sekarang bersiaplah, tunggu aku sebentar karena ada hal yang harus aku bicarakan dengan mereka." Dexter meregangkan dekapannya, kedua tangan besarnya menangkup wajah Luciana sembari menyeka air matanya.
Sejenak Dexter menatap lekat pada wanita itu, tidak lama karena dia tengah berusaha mengendalikan sesuatu yang selalu meledak secara tiba tiba saat menatap atau menyentuh wanita yang ada didekatnya ini.
Aneh dan tidak biasa!
"Tunggu aku disini!" Dexter kembali memberikan perintah, pria itu bangkit dan bergegas menuju meja hakim dan jaksa.
Pria itu terlibat pembicaraan yang tidak diketahui oleh Luciana. Terlihat sangat serius, bahkan ekor mata selalu melirik ke arah Marcho yang masih berdebat dengan bawahan serta pengacaranya.
"Kau sudah menjalankan tugas mu dengan baik, sekalipun kau harus mati di tangan pria itu aku yakin Tuhan mau memaafkan semua dosa mu. Terimakasih sudah menjadi hakim yang jujur, walaupun kau memenangkan rivalku tapi aku yakin para jaksa penuntut umum dan orang orang yang hadir di persidangan ini yang akan memburumu, terlebih setelah mendengar dan melihat bukti yang kami tunjukan."
Dexter bersikap cukup tenang, dia berusaha meyakinkan pria paruh baya yang ada dihadapannya ini agar tetap tenang, walaupun dia yakin kalau Marcho tidak akan tinggal diam setelah ini.
"Kalau begitu aku permisi, semoga Tuhan mau melindungiku." pria tua itu bergegas pergi dari hadapan Dexter.
Dia amat tergesa dan Dexter tahu alasannya, Dexter berbalik- saat ini kedua matanya tertuju pada Marcho yang terlihat hendak mendekat pada Luciana. Dengan cepat Dexter bergerak juga, kedua pria itu sama sama melangkah lebar dan sayangnya Dexter yang menang.
Sang Pengacara sexy itu menghalau mantan suami sang klien, kedua matanya menatap berani pada Marcho. Dexter membiarkan tubuhnya menjadi tameng untuk melindungi dan menutupi tubuh Luciana.
"Urusan kita sudah selesai Tuan Simon, hakim sudah memutuskannya tadi- jadi menjauhlah darinya!" desis Dexter.
Pria itu menatap penuh peringatan, netra keduanya bertemu saling mengikat penuh permusuhan. Marcho mendengus dan mundur perlahan tanpa melakukan perlawanan, terlebih saat tangan kanan serta pengacaranya menariknya agar menjauh agar tidak membuat keributan di ruang sidang.
"Kau akan menyesal Luciana!" desisnya sebelum Marcho benar benar pergi.
Dan kini tinggalah Dexter dan Luciana, wanita itu bangkit dan mendekat pada sang Pengacara.
"Ayo kita pulang! ada hal yang ingin aku bicarakan dengan mu, Tuan Dexter." ajak Luciana pelan, dan kemudian berjalan mendahului pengacaranya.
MAU NGOMONG APA TUH JAHE?