
Sudah beberapa hari ini Luciana bekerja sebagai asisten rumah tangga Dexter. Wanita berparas cantik dan anggun itu tidak merasa keberatan melakukan pekerjaan yang tidak pernah dilakukannya selama hidupnya.
Mulai dari menyiapkan sarapan, pakaian kerja Dexter, membereskan apartemen hingga membersihkan pakaian Sang Pengacara. Sebenarnya Luciana begitu canggung saat harus membersihkan pakaian Dexter, walaupun pria itu tidak menyuruhnya tapi demi bisa membayar jasa Sang Pengacara yang harganya tidaklah murah, dia harus bisa dan sanggup.
Dan setelah masalah ini selesai Luciana akan keluar dari apartemen Dexter, mencari pekerjaan baru lalu pergi dari kota atau bahkan negara ini. Dirinya harus bisa mengumpulkan banyak uang agar bisa keluar dari kehidupan ini.
Helaan napas Luciana kembali terdengar, ekor matanya menatap kesetiap penjuru ruangan. Sudah bersih dan rapi, hanya dirinya saja yang terlihat begitu berantakan dan lelah. Mungkin dengan mandi rasa lelahnya akan hilang dan dirinya kembali lebih segar.
Luciana meletakan peralatan tempurnya, kedua kaki telanjangnya berjalan menuju kamar, namun langkahnya terpaksa berhenti saat mendengar bell pintu apartemen berbunyi. Dahi Luciana mengernyit, dia melirik ke arah jam yang menggantung di dinding.
Waktu masih menunjukan pukul sebelas siang, dia yakin Dexter belum pulang secepat ini dari kantor Firma nya. Lalu siapa yang bertamu?
Luciana belum bergerak sedikit pun, dia ragu dan juga takut. Luciana takut kalau itu adalah salah satu bawahah Marcho yang diam diam mengintainya dan di perintahkan untuk membawanya. Karena dia tahu bagaimana perangai pria berdarah dingin itu.
Marcho pemaksa dan tidak ingin di bantah. Selama dua tahun menjadi Nyonya Simoncelli itulah yang Luciana rasakan, walaupun berat dirinya tetap bertahan hingga akhirnya menyerah karena Marcho mengkhianatinya.
Ting Tong
Bell kembali berbunyi, Luciana sudah mengigit bibir bawahnya. Detak jantungnya semakin tidak karuan, tapi dia juga penasaran siapa yang datang. Mengintip lewat monitor yang ada di pintu tidak masalah bukan? asalkan dirinya jangan membuka pintu.
Luciana meyakinkan hatinya, dia perlahan melangkah walaupun sedikit ragu. Suara bell kian mengencang dan sering, sedikit mengganggu tapi Luciana sendiri tidak bisa melarang.
Sesampainya di depan monitor, kedua mata Luciana menatap jeli orang yang ada di balik pintu. Dahinya mengernyit, sepertinya orang yang ada diluar sana bukan orang yang dia khawatirkan.
"Dia wanita? apa mungkin itu kekasihnya Tuan Dexter?" gumamnya.
Luciana belum menyentuh pintu, dia masih sibuk dengan pemikirannya. Hingga pada akhirnya bell kembali berbunyi dan Luciana melihat wanita di balik pintu itu sudah menghentakan kedua kaki berheels tingginya kelantai dengan kesal.
"Oh astaga, dia marah."
Klik!
Dengan cepat Luciana membuka pintu, dia berusaha tersenyum namun senyuman itu malah dibalas ucapan ketus si wanita asing itu.
Luciana yang masih terkejut hanya bisa diam dan merasa tidak enak. Terlebih dia berpikir kalau wanita bergaun ketat itu adalah kekasih Sang Pengacara Sexy.
'Aku sudah membuat kesalahan, bagaimana kalau wanita itu mengadu pada Tuan Dexter? apa Tuan Dexter akan memecatku?' Luciana masih sibuk dengan lamunannya.
Bahkan panggilan sang wanita asing tidak dia dengar sama sekali, Luciana masih meremas tangannya sendiri karena gugup.
"Hei! kau tuli ya?! oh astaga aku baru pertama kali ini melihat mu. Kau pembantu baru atau teman tidur barunya, Antonio?" cetus sang wanita tanpa ragu.
Luciana yang tadinya terpekur dan tersentak seketika menatap ke arah wanita yang belum dia ketahui namanya itu. Apa katanya tadi? teman tidur barunya? maksudnya wanita ini apa?
"Maksud mu, apa maksudmu?" Luciana belum mengerti, sementara wanita asing itu hanya mengedikan bahunya tak acuh dan enggan menjawab pertanyaan yang Luciana lontarkan.
"Aku akan menunggu Antonio di kamar. Lakukan pekerjaan dengan baik, ya aku sepertinya salah- mana mungkin kau menjadi teman tidurnya." cetusnya lagi, dan sekarang terdengar seperti cibiran dengan tatapan merendahkan.
Luciana semakin mengernyit, kenapa wanita itu seakan menganggapnya sebagai musuh?
"Walaupun aku akui kau cantik. Tapi tidak mungkin selera Antionio turun derajat seperti ini, astaga kepala ku pusing. Tolong bangunkan aku saat Tuan mu pulang nanti, dan siapkan aku air mawar di campur susu, aku mau berendam sebelum Antonio pulang!" titahnya tidak ingin di bantaj seakan dirinya adalah nyonya besar.
Luciana yang belum tahu apa yang sedang terjadi dan yang ada di dalam pikiran wanita asing itu, hanya termangu dan heran.
'Apa benar dia kekasihnya, Tuan Dexter?' tanyanya lagi dalam hati.
BALEK BANG DICARAIIN JA**LANG LO NOH
INEM PELAYAN IMUT