
Luciana melenguh pelan, dahinya mengernyit dalam, ringisan perlahan keluar dari bibir pucat nya.
Wanita itu memegangi kepalanya yang terasa berdenyut. Rasanya sakit, pening dan berdenyut. Bahkan perutnya terasa diaduk, tapi dia tidak sanggup untuk membuka kedua matanya.
Pergerakan yang Luciana lakukan berhasil membuat orang yang tengah terbaring di sisinya terusik, pria itu mengernyit dan perlahan membuka kedua matanya. Kondisinya saat ini masih seperti tadi malam, sang pria terkejut dan reflek menjauh. Dia mengusap wajahnya kasar, perlahan bangkit berusaha setenang mungkin agar wanita yang saat ini tengah memeluknya itu tidak terusik.
Siala!
Apa jadinya kalau wanita itu terbangun terlebih dahulu, dan melihat kondisinya saat ini?
Dirinya masih setengah telanjang!
Wanita itu pasti akan berpikiran yang tidak tidak saat melihatnya, terlebih sekarang mereka berada dalam satu ruangan yang sama, di kamarnya.
Ya walaupun sebenarnya tadi malam dia melakukan hal yang cukup mesra tanpa izin, hanya sekedar mencium dahi tidak lebih! itu pun berusaha bertahan agar tidak kelepasan.
"Aku harus segera keluar! nanti akan aku pikirkan alasannya saat dia terbangun." pria itu bergumam sendiri.
Kedua matanya terus saja menatap lekat pada punggung sang wanita. Dia menjilat bibirnya yang kering berulang kali, jujur walaupun hanya sedikit melihat punggung mulus itu- tapi Serigala Gurunnya kembali melolong.
Bukan hanya karena insting alami di pagi hari, tapi juga terpancing sesuatu.
"Aku bisa gila kalau seperti ini terus!" des*ahnya frustasi.
🐺
🐺
🐺
Matahari kian naik, wanita cantik yang masih berada di dalam selimut enggan terbangun dari tidurnya.
Tapi sinar matahari yang masuk melalui celah celah gorden membuatnya sedikit terusik. Dia mendesis, kelopak matanya berkedut, ringisan dari bibirnya kembali terdengar.
Perlahan kedua matanya terbuka, mengerjab pelan dan memindai seluruh area yang saat ini dia tempati.
"Ini dimana? sepertinya ini bukan-,"
Dia terperanjat, kedua matanya melotot, denyutan di kepalanya tidak lagi dihiraukan saat menyadari dimana dirinya berada sekarang.
"A-aku? kenapa aku disini?" tanyanya lagi.
Wanita itu berjalan terseok, denyutan di kepalanya kian menjadi. Setiap langkah yang dia ambil terasa berat, bahkan rasa mual kian mengaduk perut dan rasanya sudah tidak dapat dia tahan lagi.
Kedua kaki telanjangnya berlari cepat menuju dapur, gejolak didalam perutnya semakin membuatnya tidak berdaya.
"Huueeekk!"
Sekuat tenaga Luciana mengeluarkan semua isi perutnya, kepalanya kian berdenyut hebat. Bahkan kedua lutut Luciana terasa tidak memiliki tenaga sedikit pun, tubuhnya hampir tumbang kalau saja tidak ada orang yang menopangnya.
Bisikan seseorang dari belakang tubuhnya membuat Luciana sedikit terkejut, terlebih dia merasakan pijitan lembut di tengkuknya saat ini- tapi dia tidak dapat menolaknya, Luciana membiarkan orang itu memberikan pijatan ringan dan itu mampu membuatnya sedikit membaik.
"Aku sudah membuatkan mu air lemon," ujarnya lagi.
Luciana tidak menjawab, dia masih sibuk mencuci wajahnya agar menjadi lebih segar. Napasnya terengah, kedua tangannya menopang sisi washtafel.
"A-apa aku semalam tidur di-,"
"Tidak apa! kau terlalu lelah hingga berjalan sembari tidur dan sebelumnya meminum vodka ku," sela Dexter santai.
Luciana reflek menoleh, kedua matanya yang sedikit menerah menatap tidak enak pada sang pengacara. Demi Tuhan dia tidak mengingat apa pun semalam, bahkan penyebab dirinya tidur di dalam kamar Dexter saja dirinya tidak ingat apa pun.
"Pasti aku sudah melakukan hal bo-,"
"Ssttt- it's oke. Tidak ada hal yang kau lakukan tadi malam, kau hanya sedikit lelah lalu berjalan sembari tertidur. Dan ya kau berakhir di kamarku, tapi kau tenang saja aku tidak melakukan-,"
"Aku minta maaf. Pasti Tuan Dexter merasa tidak nyaman dengan kelakuanku yang tidak sopan. Aku benar benar tidak enak padamu, maafkan aku," Luciana terlihat sangat menyesal.
Wanita itu benar benar tidak enak hati, dan rasanya ingin sekali dia menenggelamkan wajahnya didalam air kran.
Dexter tidak menyahut, pria itu hanya tersenyum, satu tangannya terulur tanpa izin mengusap wajah cantik Luciana yang sedikit pucat.
"Baiklah aku memaafkan mu, tapi dengan satu syarat." cetus Dexter.
Luciana mengerjap pelan, tatapannya terlihat begitu penasaran dengan permintaan yang Sang Pengacara berikan.
Apa yang diinginkan pria ini? jangan bilang Sang Pengacara Sexy menginginkan-
"Minum air lemon mu, lalu berendamlah agar kau terlihat segar. Wajah mu sudah mirip seekor kucing manis yang terendam air." kekeh Dexter.
Dengan gemas pria itu mencubit ujung hidung Luciana lalu berlalu pergi meninggalkan wanita itu.
Dexter masih terkekeh bahkan setelah keluar dari area dapur. Namun kekehannya perlahan surut kala dia tidak lagi terlihat oleh Luciana.
Pria itu mendesis, bahkan rahangnya mengetat, kedua tangannya terkepal erat seakan tengah menahan sesuatu.
"Sialan, aku harus berendam lagi!" desisnya.
TATAPAN MU BANG DEX MELOROTKAN KOLORKU
**SELAMAT TAHUN BARU UNTUK SEMUA PEMBACA SETIA KU, SEMOGA KALIAN SELALU SEHAT, LANCAR SELALU REZEKINYA DAN PANJANG UMUR MAKIN SUKSES😘😘😘😘
SEMOGA DI TAHUN DEPAN KITA MENJADI LEBIH BAIK LAGI AAMIIN😍**