
Sore itu setelah bangun dari tidurnya, Tristan bergegas untuk mandi, begitu selesai ia berjalan menuju halaman depan dan duduk termenung di kursi panjang yang ada di bawah sebuah pohon yang cukup rindang. Ia merasakan sebuah ketenangan dan kedamaian di sana, semilir angin sore membuatnya terasa sangat nyaman.
"Ngapain kamu di situ?" tanya Ayra tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya
"Menikmati suasana senja, aku merasa sangat nyaman dan damai." jawab Tristan datar
"Memangnya kamu nggak pernah tinggal di pedesaan begini?" tanya Ayra yang lalu duduk di sebelah Tristan
"Enggak, aku lahir dan besar dikota dan hingga kini pun tetap di kota, dan setelah ini aku merasa sangat senang karena di sini akan jadi rumahku juga, aku bisa merasakan ketenangan hidup di pedesaan. " ucap Tristan cuek sambil menghirup udara segar
"Jangan berharap terlalu banyak, ini untuk pertama dan terakhir kamu ke sini, kita akan tetap tinggal di kota sampai akhirnya harus berpisah..." kata Ayra membuat hati Tristan berdesir mendengarnya
"Ayra....berhentilah membenci ku." sahut Tristan sambil memegang tangan Ayra
"Apaan, lepasin..." Ayra melepas paksa tangannya
"Katakanlah padaku, apa yang membuatmu begitu benci dan jika bisa aku akan memperbaikinya. " pelan Tristan menatap lembut wajah wanita disebelah nya itu
"Aku...aku tak tahu harus menjawab apa, pokoknya sejak kamu jadi seteru ku, selalu di banding-bandingkan dengan ku, dan selalu jadi bayang-bayang ku dalam semua pekerjaan, aku benci padamu." ucap Ayra tanpa memandang ke arah Tristan
Tristan tak sempat mengeluarkan kata-kata lagi untuk mendebat ucapan Ayra, karena bapak memanggil untuk masuk. Hari memang telah menjelang gelap, jadi menurut kebiasaan disana tak baik jika masih duduk-duduk di luar rumah.
Malam itu setelah makan bersama, Tristan, Ayra dan kedua orang tuanya telah duduk berkumpul di ruang keluarga. Tristan tampak sangat cemas dan grogi, ia bingung harus mulai bicara dari mana, jangan kan untuk melamar seorang gadis pacaran saja ia tak pernah.
"Jadi, apa yang ingin kamu katakan nak...santai saja jangan canggung begitu. " ucap bapak membuka keheningan
"Maaf pak sebelumnya, saya memang tak pandai berkata-kata. Singkatnya tujuan saya datang kesini ingin melamar Ayra, anak bapak. Dan saya ingin segera menikah dengan dia. " akhirnya Tristan berhasil mengucapkan meski dengan gemetar dan keringat dingin di sekujur tubuhnya
"Kalo bapak sih terserah Ayra saja,...Memangnya kamu sudah yakin memilih anak bapak sebagai pendamping hidupmu, apa kamu benar-benar mencintainya, jangan sampai menyesal di kemudian hari karena pernikahan itu kalo bisa sekali dalam seumur hidup." ucap bapak menatap ke arah Tristan
"Iya pak, saya sangat mencintai Ayra dan saya sangat yakin dengan keputusan saya ini." jawab mantap Tristan
Ayra merasa hatinya berdesir saat mendengar Tristan mengucapkan kata- kata tersebut, dan lagi Tristan mengucapkannya sambil menatap lembut ke arahnya. Terlihat ketulusan di matanya, dan dia mengucapkannya dengan begitu yakin.
"Baiklah, bapak percaya padamu dan sekarang saatnya mendengar jawaban Ayra, apa dia bersedia menerima lamaran mu ini dan menikah dengan mu. Bagaimana Ayra apa kau menerimanya...." tanya bapak menatap ke arah anak gadisnya
Ayra tak kuasa menghadapi tatapan mata Tristan yang sejak tadi menatapnya penuh harapan, dan dengan pelan ia menganggukkan kepalanya saat menjawab pertanyaan bapak.
"Jawablah nak jangan hanya mengangguk begitu." ucap bapak tak cukup puas
"Iya pak, Ayra menerimanya." jawab Ayra pelan sambil menundukkan kepala dan merasakan jantungnya yang berdegup kencang
"Iya pak, saya akan berusaha sebaik mungkin dan semoga Ayra memang jodoh saya satu untuk selamanya." ucap Tristan menatap wajah calon istrinya itu
Ayra tertunduk tak berani membalas tatapan matanya, entah mengapa ia merasa Tristan begitu tulus seakan semua ini bukan hanya akting saja seperti kenyataannya. Padahal semua ini terpaksa mereka lakukan untuk menghindari Arga yang terus mengganggunya.
"Jadi minggu depan kalian akan menikah disini atau dikota?" tanya bapak memastikan
"Kalo saya inginnya di sini pak." jawab Tristan
"Di kota saja pak." jawab Ayra hampir bersamaan dengan jawaban Tristan
"Kalian ini bagaimana sih, baru nentuin tempat nikah saja sudah nggak kompak. Biar bapak putuskan, minggu depan kalian menikah disini dan setelah itu silahkan menetap dikota." ucap bapak menggelengkan kepala
"Iya saya setuju pak." sahut Tristan merasa senang
Sedang Ayra tampak kecewa, sebenarnya ia ingin menikah dikota agar tidak terlalu baper. Secara pernikahan ini hanya terpaksa dilakukannya, ia tak ingin orang tuanya atau bahkan saudaranya disana curiga. Namun karena bapak sudah memutuskan begitu maka ia terima saja.
"Akting mu lumayan juga, harusnya kamu ikut audisi pemain sinetron. " ucap Ayra saat menghampiri Tristan yang duduk sendiri di teras
Tristan tak menjawabnya, ia hanya menatap wajah Ayra serius. Raut mukanya nampak sedikit kecewa, karena Ayra hanya menganggapnya akting. Namun sesungguhnya Tristan merasa tulus dan sepenuh hati melakukan semua ini, ia telah yakin bahwa dirinya memang sudah jatuh hati pada wanita yang sangat membencinya itu.
"Kok diem....kenapa ?" sahut Ayra yang tak mendapat jawaban dari Tristan dan malah hanya menatapnya
Ayra kemudian duduk di sebelah Tristan, ia merasa heran dengan sikapnya. Sejak tiba di rumah orang tuanya, sikapnya menjadi aneh dan nampak sangat serius tak seperti biasanya yang cuek dan dingin.
"Jadi menurutmu aku sedang berakting?" tanya Tristan tiba-tiba saat Ayra telah duduk di sebelahnya
"Iya lah, apalagi....dari awal semua ini kan hanya pura-pura saja, kita terpaksa melakukannya karena tingkah Arga si buaya darat tua itu. " jawab Ayra seakan rak peduli dengan perasaan Tristan saat ini
Tristan hanya bisa menghela nafas panjang, ingin rasanya ia membantah kata-kata Ayra, namun ia sedang tak ingin berdebat. Bakal panjang urusannya kalo saat ini Ia harus bilang bahwa ia sungguh- sungguh telah jatuh cinta pada Ayra, bukan karena sekedar pembuktian pada Arga.
"Terserah kamu, apapun kata mu asal kau puas..." lirih Tristan yang berdiri dan berjalan masuk ke dalam rumah
"Hey, kamu ini kenapa...dasar aneh." sahut Ayra ketus menatap Tristan yang berlalu meninggalkannya begitu saja sendiri di teras
"Tristan..." panggil Ayra sebal, berdiri dan hendak mengejar Tristan
"Aku..." saat berbalik badan Tristan sangat terkejut karena Ayra telah berada tepat di hadapannya dan sangat dekat
"Aku ngantuk, mau tidur..." ucap Tristan segera memalingkan pandangannya dari wajah Ayra, ia tak kuasa menahan gejolak di hatinya saat begitu dekat dengan Ayra