My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Curiga



Tak berapa lama kemudian Ayra datang membawa minuman dan beberapa makanan bersama ibu. Ayra tampak sudah sangat dekat dengan ibunya, hal itu membuat Tristan merasa sangat senang. Ayah juga sepertinya sangat bisa menerima Ayra, hingga membuat Tristan tak khawatir lagi dan yakin jika orang tuanya pasti merestui pernikahan mereka.


"Wah calon mantu, udah cantik , baik, rajin pula. Memang pintar kamu cari istri nak." ucap Ayah menepuk bahu Tristan


"Iya, ibu juga langsung merasa cocok dan dekat dengan nak Ayra, seperti sudah kenal lama, padahal baru pertama ketemu." sahut ibu menambahi sambil tersenyum ke arah Ayra


"Ahh ayah sama ibu bisa saja, jangan terlalu memuji saya begitu." kata Ayra pelan menundukkan kepala


"Siapa yang memuji, itu memang kenyataan..." sahut kakak yang ikut bergabung duduk di sana


"Baiklah, jadi bagaimana....kita nanti berangkat bersama atau kami duluan yang ke sana, sekalian lebih mengenal dulu dengan calon besan." tanya ayah menatap Tristan dan Ayra bergantian


"Kalian berangkat saja dulu, sekalian saling mengenal dan bantu persiapan pernikahan disana. Kami akan berangkat belakangan karena dapat cuti nya mepet banget. " jawab Tristan sambil melihat ke arah Ayra yang mengangguk tanpa setuju


"Baiklah kalo begitu, berarti lusa kami harus berangkat ke sana, tapi maaf nak Ayra hanya kami saja dan tak banyak yang bisa kami bawa." kata ayah melihat ke arah Ayra


"Iya nggak apa-apa, orang tua saya juga hanya mempersiapkan pernikahan yang sederhana saja." jawab Ayra dengan santun


"Tristan memang beruntung mendapatkan calon istri seperti kamu , Ayra." ucap kakak tersenyum menatap Ayra


"Tidak kakak, dia yang beruntung punya calon suami seperti aku..." sahut Tristan menatap ke arah Ayra namun di balas dengan tatapan tajam Ayra


"Iya, kalian sama-sama beruntung karena kalian memang cocok dan serasi, semoga kalian berjodoh selamanya." ucap ibu menengahi dan tersenyum melihat reaksi Tristan dan Ayra yang saling menatap tajam


Tristan sangat senang karena Ayra memberi kesan baik di keluarganya, setelah hari sudah terlalu malam akhirnya mereka pamit pulang. Tristan mengantarkan Ayra pulang terlebih dulu, sebelum ia kembali ke rumahnya.


###


Hari ini Tristan dan Ayra masuk kantor untuk yang terakhir kalinya sebelum besok dan seminggu ke depan cuti. Dan hari ini Tristan sengaja menjemput Ayra pagi sekali di rumahnya, Ayra sangat terkejut karena tak diberitahu sebelumnya.


Setiba di kantor mereka berdua mulai bersikap layaknya sepasang kekasih yang akan segera menikah, begitu mesra hingga tak ada satupun yang curiga jika semua ini hanya pura-pura. Termasuk Dini, sahabat Ayra itu sama sekali tak curiga dan bahkan merasa sangat senang karena tom and jerry akhirnya bersatu.


"Tristan, pak Arga memanggil mu..." ucap seorang rekan kerjanya menghampiri meja Tristan


"Iya, baik..." singkat Tristan langsung beranjak


"Tris..., " panggil pelan Ayra yang merasa khawatir


"Tenang aja..." sahut lirih Tristan tersenyum lembut


"Masuklah..." kata Arga setelah mendengar ketukan pintu, dan Tristan kemudian masuk dan duduk di depan Arga


"Aku masih tetap tak percaya kalo kau benar-benar akan menikah dengan Ayra, firasat ku bilang kalian sedang membohongi ku." ucap Arga datar menatap Tristan


"Percaya atau tidak itu urusan anda, saya tak peduli." sahut Tristan menatap balik


"Apa anda tahu kalo kami akan menikah di kota asal Ayra, dan itu lumayan jauh." ucap Tristan spontan


"Aku tahu, dan itu bukan masalah bagi ku. Aku tak mau melewatkan momen penting dari wanita yang sangat aku kagumi, yang membuatku begitu terobsesi untuk memilikinya. " senyum simpul Arga membuat Tristan meradang


"Cukup, anda tidak pantas berkata seperti itu di depan saya, Ayra itu calon istri saya dan anda dengan entengnya berucap seperti itu." ucap Tristan yang nampak tak senang


"Aku cuma mengutarakan perasaan ku saja, apa yang aku rasakan pada Ayra." kata Arga tak mau menyerah


"Perasaan anda adalah masalah anda dan hati anda sendiri, tidak ada hubungannya dengan saya, jadi jika tidak ada yang penting saya permisi." Tristan mencoba tenang dan hendak beranjak


"Ingat kamu hanya bawahan ku, jadi sopan lah ..." sahut Arga keras


" Saya tahu di kantor ini dan dalam urusan pekerjaan saya memang bawahan anda, tapi anda tak berhak ikut campur dalam urusan pribadi saya." ucap tegas Tristan dan bergegas keluar ruangan


"Tristan, ingatlah aku tak mudah menyerah begitu saja dan akan ku buktikan kecurigaan ku." kata Tristan saat menatap Tristan melangkah meninggalkan ruangannya


Begitu sampai di mejanya Tristan meraih ponselnya dan mengirim pesan ke Ayra agar tak menghampirinya dulu karena Arga pasti sedang memperhatikan. Ia juga bilang bahwa Arga curiga jika semua ini hanya pura-pura saja.


Ayra membaca pesan dari Tristan, ia kemudian menatap ke arahnya penuh khawatir. Dalam hati ia merasa takut jika Arga menjadi nekat, ia benar-benar tak ingin berurusan dengannya.


"Tris, aku takut..." ucap Ayra pada Tristan mampir ke rumah saat mengantarnya pulang


"Tenanglah, semua akan baik-baik saja...aku tak akan pernah membiarkan pria itu mengusik mu." kata Tristan menatap dalam wajah Ayra yang terlihat cemas


"Tapi perasaan ku jadi tak enak, apalagi kata mu besok dia akan datang ke acara pernikahan itu." ucap Ayra lagi


"Aku berjanji pernikahan kita akan berjalan dengan lancar, tak akan ku biarkan siapapun merusaknya." Tristan berusaha menenangkan hati Ayra


"Tapi Tris..." ucapan Ayra segera terhenti


Tristan meletakkan jari telunjuknya di bibir Ayra, hingga ia diam dan tak terus cemas dan khawatir. Ayra menatap mata Tristan, merasakan ada harapan dan kenyamanan disana, ingin rasanya ia memeluk tubuh Tristan dan menumpahkan segala kegalauan hatinya.


"Sudah, jangan dipikirkan lagi...istirahatlah dan bersiap besok pagi aku akan menjemput mu, aku pulang dulu." ucap Tristan kemudian bangkit dan melangkah menuju pintu


"Tris...." panggil Ayra, Tristan pun berhenti dan membalikkan badannya


"Terima kasih..." pelan suara Ayra menatap Tristan


Tristan tak menjawab sepatah katapun, ia hanya tersenyum kecil dan berbalik melangkah keluar dari rumah Ayra. Ayra masih menatap punggung Tristan yang berjalan keluar, naik motor hingga hilang di telan gelapnya malam.


Ayra lantas menutup pintu dan berjalan menuju kamarnya, dan menghempaskan tubuhnya ke atas ranjang. Matanya memandang kosong, dan tak terasa air matanya telah menetes di kedua pipinya. Ia merasa sangat takut dan khawatir, dan untuk pertama kalinya ia merasa sangat membutuhkan kehadiran Tristan.


"Tristan,...entah kenapa aku sangat ingin kamu berada disisiku dan menemaniku dalam kegelisahan ini." lirih Ayra sambil menghapus air mata di kedua pipinya