My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Mengabaikan



"Tris, kamu mau makan apa?" tanya Ayra saat akan bergegas ke dapur


"Makan kamu aja." jawab Tristan tersenyum genit


"Aku serius , Tris..." ketus Ayra


"Iya, jangan mulai ketus lagi dong....terserah kamu, apapun yang kamu masak buatku pasti aku makan." ucap Tristan pelan sambil membelai rambut Ayra


"Tunggu sebentar, aku buat yang simple dan cepet aja ya...." sahut Ayra tersenyum manis


"Iya, sayang..." singkat Tristan berjalan menuju ruang tengah


Ayra segera bergegas menuju dapur dan mulai memasak, sementara Tristan menunggu sambil menonton Tv. Benar saja, tak beberapa lama kemudian Ayra sudah selesai menyiapkan makanan di meja makan, dan segera menyusul Tristan ke ruang tengah.


"Tris, ayo makan..." ucap Ayra menarik lembut tangan Tristan


"Iya, sayang...." sahut Tristan bangkit dan berjalan menuju ruang makan sambil memeluk manja istrinya


Makan malam yang begitu hangat dan mesra malam itu nampak membuat keduanya begitu bahagia, senyum selalu menghiasi wajah keduanya. Tristan dan Ayra seakan telah benar-benar saling jatuh cinta dan bahagia sebagai sepasang suami istri tanpa ada lagi rasa benci , terpaksa ataupun pura-pura diantara mereka.


"Mau kemana, sayang?" tanya Tristan saat melihat Ayra berjalan menuju kamarnya


"Tidur..." singkat Ayra cuek


"Tunggu,..." sahut Tristan keras lalu menghampirinya


"Kamu tetap mau membiarkan aku tidur sendiri...." ucap Tristan memeluk Ayra dari belakang


"Kalo mau ikut aja,..." sahut Ayra tersenyum kecil


"Aku mau nya kita tidur di kamar ku." kata Tristan mengeratkan pelukannya


"Nggak, di kamar ku saja..." sahut Ayra cepat


"Kamarku lebih luas dan lebih nyaman,... kalo nggak mau ya sudah tidur sana sendiri. " lanjut Ayra sewot


"Iya deh,...yang penting bobok bareng kamu..." ucap Tristan manja


"Tapi jangan nakal ya, aku capek mau bobok manis...." sahut Ayra cepat sambil mencubit pipi Tristan


"Iya, kamu diam aja biar aku yang bergerak..." kata Tristan pelan sambil menatap genit istrinya


"Tristan..." Ayra cemberut dan berusaha melepas pelukan suaminya


"Bercanda sayang,... iya-iya aku janji nggak akan ganggu kamu, kita bobok sekarang yuk...." ucap Tristan dan langsung menggendong tubuh Ayra dan membawanya masuk ke kamar


Malam itu Tristan menepati ucapannya, ia membiarkan Ayra tertidur pulas tanpa mengganggunya, ia memandangi wajah Ayra yang tertidur di pelukannya dengan senyum bahagia di bibirnya. Sesekali ia membelai lembut kepala Ayra, hingga akhirnya ia pun ikut tertidur pulas.


Matahari telah bersinar dan alarm telah berbunyi berulang kali, namun keduanya masih terlelap seakan tak ingin terbangun se pagi ini. Tristan hanya meraih alarm dan mematikannya, kemudian tidur lagi begitu pun dengan Ayra yang masih merasa sangat kantuk.


"Sayang, kita ke kantor nggak?" tanya Tristan pelan tanpa membuka matanya namun malah mengeratkan pelukannya


"Jam berapa ini?" tanya balik Ayra yang masih mendekap erat tubuh Tristan


"Jam 7, sayang..." lirih Tristan sambil melirik jam dinding di kamar tersebut


"Apa, ....kenapa nggak bangunin aku dari tadi. " sahut Ayra cepat dan berusaha bangkit


"Mau kemana?" tanya Tristan tak mau melepaskan pelukannya


"Kalo masih capek dan ngantuk, tidur aja lagi...nggak usah ke kantor." ucap Tristan pelan sambil membuka sedikit matanya


"Enak aja kalo ngomong, ayo bangun....jangan malas, ayo bangun, Tris..." kata Ayra mengguncang tubuh Tristan


"Iya-iya, kalo begitu bukan hanya aku yang bangun...bisa-bisa adikku juga ikutan bangun, sayang." sahut Tristan cuek sambil menciumi wajah Ayra


"Dasar genit, cepetan mandi sana...aku bikin sarapan dulu. " ucap Ayra segera beranjak turun dari ranjang


"Kamu saja yang mandi duluan, nggak usah bikin sarapan...biar aku yang siapkan teh hangat buat kamu, mau teh, susu apa kopi, istriku sayang...." kata Tristan mesra pada Ayra


"Trus nggak sarapan gitu?" tanya Ayra kemudian


"Kita nanti sarapan di kantin aja, keburu telat kalo harus masak dulu....jadi mau di siapin minum apa?" kata Tristan


"Iya, aku mau teh hangat saja....terima kasih suami ku sayang." sahut Ayra tersenyum manis hendak berlalu ke kamar mandi


"Eitsss, tunggu..." Tristan menahan tangan Ayra


"Apalagi?" sungut Ayra jutek


"Kamu bilang apa tadi, aku pengen dengar lagi...ulangi lagi." pinta Tristan yang nampak begitu bahagia


"Iya, Tristan....suami ku sayang..." ucap Ayra mesra sambil tersenyum manis


"Terima kasih, Ayra...tetaplah manis seperti ini, dan jangan pernah berubah...I love you...." kata Tristan pelan menatap wajah Ayra dengan penuh perhatian dan mengecup kening istrinya itu


"Mandi sana, aku buatkan teh hangat buat kamu..." lanjut Tristan dan Ayra kemudian berlalu ke kamar mandi setelah balas mencium pipi suaminya


Sejak hari itu keduanya nampak begitu kompak dan selalu tersenyum bahagia. Bahkan teman-temannya di kantor ikut senang melihat keduanya yang semakin mesra dan harmonis. Namun tidak untuk Arga, ia merasa kecewa karena beberapa hari ini Ayra selalu mengabaikannya.


Ayra tak mengangkat panggilan darinya dan tak membalas satu pun pesan darinya. Arga merasa Ayra mencoba menjauhinya, menjaga jarak darinya, hingga membuatnya sangat kecewa dan ingin berbicara langsung dengannya.


"Dini, tolong panggil Ayra ke ruangan ku sekarang juga, dan suruh bawa berkas kontrak yang aku minta tadi...." ucap Arga lewat telepon di meja Dini


"Baik pak." jawab Dini singkat dan langsung memberi tahu Ayra


"Masuk. " sahut Arga saat Ayra mengetuk pintu


"Bapak memanggil saya?" tanya Ayra begitu masuk ke ruangan Arga


"Iya, duduklah..." jawab Arga singkat


"Ini berkas kontrak yang bapak minta. " ucap Ayra sambil menyerahkan berkas saat telah duduk di depan Arga


"Kenapa kau mengabaikan ku, apa salah ku pada mu...." ucap Arga pelan saat menerima berkas dari tangan Ayra


"Maksudnya?" tanya Ayra pura-pura tak mengerti dengan maksud Arga


"Jangan pura-pura tak mengerti, beberapa hari ini kau tak mau menerima panggilan ku dan tak membalas pesanku, apa kau sedang menyiksa ku, Ayra?" kata Arga dengan raut wajah serius


"Aku sedang sibuk, hingga tak sempat..." ucap Ayra yang segera dipotong Arga


"Sibuk apa hingga tak sempat menerima telepon atau sekedar membalas pesan ku,...jangan kau siksa aku begini, Ayra...kau tahu kan jika aku sangat mencintai mu dan sikap mu ini telah melukai perasaan ku." ucap Arga pelan sambil meraih tangan Ayra dan menggenggam nya erat


"Maafkan aku, Ga....tapi seperti nya hubungan kita jangan terlalu jauh, aku dan kamu hanya sebatas atasan dan karyawan saja. " kata Ayra pelan dan ragu-ragu


"Apa, ada apa denganmu Ayra...kenapa secepat ini sikap mu pada ku berubah, apa salah ku pada mu, katakanlah Ayra..." ucap Arga menatap lembut wajah Ayra yang tampak begitu tegang dan tertekan