My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Sakit



Saat pagi menjelang, Ayra yang sudah terbangun bergegas ke kamar mandi terlebih dulu sebelum di pakai Tristan. Selesai mandi dengan masih memakai baju santai ia berjalan menuju ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Ia menghentikan langkahnya saat melihat Tristan masih tertidur di sofa, ia lantas mendekatinya.


"Tris, badan mu panas..." ucap Ayra pelan saat hendak membangunkan Tristan dan merasakan suhu tubuhnya panas


"Tris, kamu demam..." ucap pelan Ayra lagi yang kini mulai cemas


"Aku nggak apa-apa..." sahut lirih Tristan saat membuka matanya


"Tidak, kamu ini demam...tubuh mu panas sekali, aku ambilkan kompres sebentar." ucap Ayra


"Tidak perlu, bersiaplah ke kantor...hari ini aku tak ke kantor dulu, tolong sampaikan pada Arga." ucap Tristan pelan


"Baiklah kamu istirahat saja dirumah, tapi sebelumnya aku akan menyiapkan sarapan untuk mu dan juga obat untuk mu." kata Ayra langsung bergegas ke dapur


Tristan memang merasa sedikit pusing dan tubuhnya terasa sakit, mungkin efek jatuh terserempet motor kemarin. Namun ia tak ingin terlihat lemah di depan Ayra, ia berusaha seakan baik-baik saja. Tristan kembali memejamkan matanya untuk meredam rasa pusing di kepalanya.


"Tris, kita ke dokter ya....kamu harus diperiksa, mungkin ini karena kamu jatuh kemarin." ucap Ayra menghampiri Tristan dengan membawa semangkuk bubur untuk sarapan


"Tidak perlu, aku tidak apa-apa..." sahut Tristan berusaha duduk bersandar di sofa


"Wajah mu terlihat pucat dan badan mu juga masih panas, ini makanlah dulu dan minum obatnya untuk meredakan panas mu." ucap Ayra sambil menyuap bubur untuk Tristan


"Biar aku makan sendiri, berangkatlah biar tidak terlambat ke kantor." sahut Tristan tak mau membuka mulutnya


"Jangan keras kepala, seperti anak kecil saja...ayo buka mulut mu." paksa Ayra mendekatkan sendok ke mulut Tristan


"Ayra,...aku bisa sendiri, bukannya aku keras kepala tapi aku hanya tak ingin semakin tersiksa dengan perhatian mu. Pergilah, dan mulai sekarang bantu aku untuk bisa menjaga jarak dari mu, katakan segera padaku jika kau siap untuk berpisah dengan ku." kata Tristan pelan sambil mengambil mangkuk bubur dari tangan Ayra


"Tris, apa kini kau mulai membenci ku..." tanya Ayra lirih menatap wajah Tristan


"Dari dulu dan sampai kapanpun aku tak pernah sedikitpun membenci mu..." jawab Tristan sambil mulai menyuap bubur ke mulutnya


"Tris, aku..." ucapan Ayra segera dipotong Tristan


"Aku bilang pergilah ke kantor sekarang dan jangan bicara apapun lagi, ..." potong Tristan dengan nada tinggi


Ayra bangkit kemudian menatap Tristan dengan raut muka kecewa karena Tristan telah membentaknya, namun ia tak mau berdebat lagi dan melangkah pergi. Tristan menatap kepergian Ayra dengan hati teriris, ia sangat menyesal telah membentak Ayra dan membuatnya kecewa.


"Maafkan aku Ayra, aku terpaksa begini...aku tak ingin nantinya semakin berat saat harus berpisah dengan mu, aku sangat mencintai mu, Ayra." lirih Tristan berkaca-kaca


Setiba di kantor, Ayra segera menemui Arga yang sudah berada di dalam ruangan ny. Ia ingin mengatakan jika hari ini Tristan tidak masuk kerja karena sedang sakit. Dan Ayra juga minta ijin, hari ini ia ingin pulang setengah hari karena merasa sangat cemas dengan kondisi Tristan.


"Iya, tidak apa-apa Ayra....rawatlah suami mu yang sedang sakit dulu." ucap Arga saat Ayra minta ijin setengah hari


"Terima kasih, pak." sahut Ayra tersenyum lega


"Ayra, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Arga saat Ayra hendak beranjak


"Apa kau sangat mencintai suami mu?, maaf jika pertanyaan ku terlalu pribadi, aku hanya ingin tahu untuk menenangkan hati ku." tanya Arga dengan ragu


"Saya, ....iya."singkat Ayra dengan gugup


"Iya apa,.... jujur aku merasa ada yang aneh dengan sikap kalian berdua, bukannya aku mencurigai mu seperti perkataan ku dulu, namun aku hanya ingin memastikan apa masih ada harapan untuk ku." ucap Arga menatap lembut wajah Ayra


"Maaf pak, saya harus segera menyelesaikan pekerjaan yang sudah deadline." Ayra berusaha mengalihkan pembicaraan dan langsung beranjak dari duduknya


"Ayra, jika kamu butuh teman sharing, dengan senang hati aku akan menjadi pendengar yang baik. " ucap Arga saat Ayra mulai melangkah keluar


Ayra menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan Arga, ia segera menoleh dan menatap sejenak wajah Arga. Namun tanpa berkata apapun Ayra segera berpaling dan berjalan keluar dari ruangan Arga.


Ayra terduduk di meja kerjanya, tangannya sibuk mengerjakan tugas namun pikirannya terus tertuju pada ucapan Arga tadi. Ia kini menjadi bimbang, sebenarnya apa yang ia rasakan saat ini, mulai tertarik pada Arga atau mulai jatuh cinta pada Tristan.


"Hah,...kenapa dengan aku ini..." lirih Ayra pada dirinya sendiri kemudian melanjutkan pekerjaannya


###


"Tris,....Tristan..." panggil Ayra saat pulang disiang hari, karena dia sudah dapat ijin untuk pulang setengah hari


Ayra berjalan menuju sofa yang tadi pagi Tristan masih terduduk disana, namun tak ada. Ia lalu menuju kamarnya, namun tidak ada juga, kini ia mulai cemas. Sembari terus memanggil nama Tristan, Ayra mencari ke setiap ruang di rumah tersebut.


"Tristan,... kamu kenapa, ..." sahut Ayra panik saat membuka pintu kamar mandi dan melihat Tristan berdiri bersandar di dinding dengan wajah sangat pucat


Tristan hanya menoleh saat melihat Ayra masuk ke kamar mandi, tubuhnya serasa lemas tak bertenaga lagi dan hampir jatuh namun dengan cepat Ayra langsung menangkap tubuh Tristan yang hampir jatuh. Ayra membantu Tristan berjalan perlahan menuju ke kamarnya.


"Ke kamar ku saja..." lirih Tristan protes saat Ayra hendak menuju ke kamarnya


"Jangan protes, menurut saja....kamar ini lebih nyaman agar kau bisa istirahat dengan tenang." ucap Ayra tetap menuju ke kamarnya


"Berbaringlah, aku akan mengambil baju ganti untuk mu, baju mu basah..." ucap Ayra bergegas ke kamar Tristan setelah membantunya berbaring


"Ini baju ganti mu, juga makan siang untukmu,.... kamu belum makan kan?" kata Ayra yang masuk kembali ke kamarnya sambil membawa baju juga nampan berisi makanan, minum juga obat untuk Tristan


"Apa yang kamu lakukan..." ucap Tristan kaget saat Ayra mulai membuka bajunya yang basah


"Mengganti pakaian mu, ...sudah menurut saja, jadilah anak manis jangan banyak protes." ucap Ayra ketus seperti biasanya


Tristan hanya menurut saja saat Ayra mulai melepas pakaiannya yang basah dan menggantinya dengan yang baru. Ia menatap wajah Ayra yang tampak begitu cantik tepat di hadapannya, namun kemudian ia menampik tangan Ayra yang ingin menyuapinya.


"Makanlah..." ucap Ayra pelan


"Bukankah tadi pagi aku sudah bilang padamu, ...apa kau ingin menyiksa perasaan ku." kata Tristan pelan namun membuat Ayra tertegun