
"Arga, justru aku tak ingin melukai hati mu lebih dalam lagi jika kita tetap dekat, terima kasih telah mencintai ku..." ucap Ayra pelan
"Kenapa kau berubah secepat ini, bukankah kemarin kita sudah membahas tentang hubungan ini, apa kemarin kau hanya memberiku harapan palsu...." kata Arga menatap dalam mata Ayra
"Bukan begitu juga,...kemarin kan aku bilang ingin meyakinkan hati ku..." sahut Ayra pelan dan hati-hati
"Jadi sekarang kau sudah yakin ingin menjauhi ku, menjaga jarak dari ku....apa kau lebih memilih suami pura-pura mu itu dari pada aku." kata Arga dengan raut wajah kecewa
"Ayra, aku mohon pada mu jangan pernah menjaga jarak dari ku, aku mencintaimu dan aku juga tahu kamu juga merasakan hal yang sama. Tatap mataku Ayra, dan katakan jika kau tak menginginkan ku..." lanjut Arga dengan lembut menatap wajah Ayra dan menggenggam erat tangannya
"Arga,...aku....tolong jangan mempersulit keadaan ku." sahut Ayra pelan tak berani menatap mata Arga dan menundukkan wajahnya
"Kenapa Ayra, kau merasakan juga kan...kau juga mencintaiku, jangan membohongi perasaan mu sendiri." kata Arga sambil mengangkat wajah Ayra hingga kini mereka saling menatap
"Aku tak ingin mengecewakan orang tua ku, aku tak mau mereka sedih jika tahu tentang pernikahan ku yang awalnya hanya pura-pura, aku ingin membina rumah tangga yang serius dengan Tristan, dia pria yang baik..." ucap Ayra berusaha menjelaskan
"Apa kau mencintai Tristan?, bukankah kau bilang kau masih membencinya?" tanya Arga pelan dan penuh penasaran
"Aku belajar untuk menerimanya, ...aku yakin dia pria yang baik. " sahut Ayra singkat
"Apa aku bukan pria yang baik,...Ayra, aku akan menerima mu apa adanya meski kamu sudah menyerahkan semuanya pada Tristan, jangan kau korban kan perasaan cinta mu padaku....aku mohon hiduplah bersama ku , Ayra." kata Arga yang mulai basah matanya memohon dengan penuh ketulusan
"Arga, jangan seperti ini....hati ku perih melihat mu begini, belajarlah untuk melupakan ku...." sahut Ayra lembut sambil menghapus air mata yang mulai menetes dari mata Arga
"Tidak Ayra, sampai kapanpun aku tetap mencintaimu....kenapa takdir tak pernah berpihak padaku, dulu aku kehilangan istri dan calon anakku hingga membuatku begitu terpuruk, kini di saat aku mulai membuka hati ku lagi setelah sekian lama, ...." Arga tak sanggup melanjutkan ucapannya
"Arga, ....aku mohon jangan seperti ini, aku tak sanggup melihat mu begini." sahut Ayra lembut sambil bangkit dan kini berdiri disebelah Arga yang terduduk lesu di kursi dan mengusap pelan kepalanya
Entah mengapa Ayra benar-benar tak sanggup melihat Arga yang tampak begitu hancur, hatinya terasa pedih dan teriris melihatnya. Hatinya menjadi goyah lagi, kini ia kembali mempertimbangkan perasaan nya pada Arga, padahal sebelumnya ia begitu yakin untuk memilih Tristan.
"Ayra, aku mohon jangan pernah tinggalkan aku....aku butuh kamu, Ayra." pinta Arga yang terdengar begitu pilu sambil memeluk erat tubuh Ayra yang berdiri di sebelahnya
Ayra mengusap lembut kepala Arga yang berada diperut nya, tengah memeluknya erat. Ia dapat merasakan perutnya yang menjadi basah karena air mata Arga, ia sama sekali tak menduga jika pria seperti Arga bisa begitu mellow hingga ia merasa pilu melihatnya.
"Berjanjilah Ayra, ...kau tak akan pernah melepaskan cinta mu pada ku, kita akan selalu bersama, aku akan selalu menunggu mu...." ucap Arga menatap lembut wajah Ayra dan menggenggam erat tangan nya
"Arga, ini menjadi sulit untukku ...." sahut lirih Ayra
"Ayra, please... aku rela jadi yang kedua untukmu." pelan Arga bangkit dari kursi dan berdiri tepat dihadapan Ayra sambil menatap penuh harapan
"Arga, beri aku waktu lagi..." lirih Ayra masih bisa berfikir jernih saat bibir keduanya sudah saling bersentuhan dan Ayra buru-buru menarik mundur wajahnya
"Ayra, sampai kapan kamu akan menggantung ku begini....aku takut kau benar-benar meninggalkan ku demi dia." sahut Arga kemudian
Namun belum sempat Ayra mengucapkan kata, terdengar telepon di meja Arga berdering, Ayra berusaha melepaskan pelukan Arga, kemudian melangkah mundur dari dari tempatnya berdiri. Ia yang tak ingin lagi terlalu lama disana segera pamit keluar saat Arga hendak mengangkat telepon.
"Ayra, tunggu..." sahut pelan Arga namun Ayra langsung bergegas keluar ruangan tersebut
Ayra duduk bersandar di kursinya, ia kembali mengingat semua yang baru saja terjadi dan semua ucapan Arga terus saja mengiang di kepalanya. Tanpa ia sadari Tristan terus memperhatikan nya sejak keluar dari ruangan Arga tadi, dan kini mulai berjalan mendekati mejanya.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Tristan lembut yang telah berdiri di samping Ayra dan menepuk pelan bahunya
"Ah, Tris...bikin kaget saja." sahut Ayra terbangun dari lamunannya
"Kamu kenapa?" ulang Tristan lagi
"Nggak apa-apa." singkat Ayra pelan
"Jangan bohong, sejak tadi aku perhatikan kamu keluar dari ruangan Arga dengan raut wajah muram, dan kini malah bengong....ada apa." ucap Tristan pelan menatap lembut wajah Ayra yang tampak begitu tegang
"Nggak apa-apa, Tris....percayalah pada ku." sahut Ayra berusaha meyakinkan dengan sedikit tersenyum
"Bukannya aku tak percaya pada mu, namun sikap dan ekspresi wajah mu nampak ada yang aneh, apa Arga berbuat kasar padamu, apa dia menyakiti mu?" tanya Tristan yang begitu khawatir
"Tris, aku nggak apa-apa....dia tak berbuat apapun pada ku, tolong percaya pada ku." kata Ayra menggenggam erat tangan Tristan dan menatapnya lembut
"Sayang, aku ingin kita saling terbuka, aku ingin tak ada rahasia di antara kita, jadi jika ada masalah apapun tolong bicarakan dengan ku, apa kau setuju?" tanya Tristan lembut dan kini telah bersimpuh di depan Ayra yang duduk di kursinya sambil menggenggam erat tangannya
"Iya, Tris...." jawab singkat Ayra pelan
"Kita makan yuk, udah jam makan siang ini..." ajak Tristan berusaha mencairkan suasana
"Tris, pekerjaan ku banyak yang deadline, kamu saja yang keluar nanti aku dibungkus saja ya...." ucap Ayra memperlihatkan berkas yang banyak menumpuk di mejanya
"Baiklah, aku bawa makanannya ke sini, aku akan menemani mu dan kita makan di sini berdua..." sahut Tristan melepas tangan Ayra dan segera bergegas menuju kantin tanpa menunggu persetujuan dari Ayra
"Tapi, Tris...." sahut Ayra cepat namun Tristan telah berlalu