My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Tersiksa



"Aku mohon jangan berkata seperti itu, Tris...aku tahu sikap ku selama ini telah menyakiti hatimu, dan mulai sekarang kita bisa akur dan berteman baik." ucap Ayra pelan


"Berteman baik, hanya itu...." sahut Tristan merasa kecewa


"Kalo memang begitu, setelah ini aku akan keluar dari rumah ini, tak pantas dua orang teman tinggal dalam satu atap." lanjut Tristan sangat kecewa


"Tidak, Tris...ini rumah mu, jika ada yang keluar dari sini itu adalah aku." ucap Ayra menatap wajah Tristan


"Tidak untuk saat ini, kamu masih istriku jadi tetaplah tinggal disini, nanti jika kita telah benar-benar berpisah, maka terserah kamu..." sahut Tristan tak melanjutkan makannya


"Makanlah lagi dan minum obatnya, setelah kamu sembuh kita bicarakan lagi, saat ini aku hanya ingin kamu sehat dulu." ucap Ayra merasa sakit hati nya saat mendengar semua ucapan Tristan


Tristan tak melanjutkan makannya, tapi ia meminum obatnya dan kemudian berbaring mencoba memejamkan matanya. Namun ia tak bisa tidur, pembicaraannya dengan Ayra tadi terus mengganggu pikirannya.


Ayra yang tahu jika badan Tristan masih panas segera mengambil kompres, ia duduk di samping Tristan yang sudah tertidur, sesekali ia mengganti kompres di kening Tristan. Akhirnya ia tertidur juga disamping Tristan, sambil tangannya memeluk lengan Tristan.


"Ayra, sebenarnya bagaimana perasaan mu padaku?" lirih Tristan saat membuka matanya dan melihat Ayra tertidur di sampingnya sambil memeluk lengannya


Perlahan Tristan menyentuh wajah Ayra dengan satu tangan lainnya, wajah cantik yang kini begitu sangat di cintainya. Sejujurnya ia tak ingin berpisah dari Ayra, namun ia juga tak ingin membuat Ayra tersiksa jika memang dia tak mencintai nya.


Tiba-tiba ponsel Tristan berdering, hingga membuat Ayra terbangun. Ayra menatap ke arah Tristan yang juga sedang menatapnya, mata mereka saling beradu pandang. Tristan merasakan jantungnya berdebar hebat, demikian pun dengan Ayra meskipun ia berusaha menutupinya.


"Kakak mu telepon, ini bicaralah..." ucap Ayra sambil menyerahkan ponsel Tristan yang tergeletak di meja samping ranjang


"Halo kak, ada apa?" kata Tristan membuka percakapan


"Ayah dan ibu merindukan kalian, main lah kesini....kebetulan suami kakak juga pulang, kita makan bersama." ucap kakaknya


"Kapan?" singkat Tristan


"Besok kan weekend, datanglah kesini agak pagi...kita akan piknik kecil-kecilan." jawab kakak


"Kamu sedang sakit ya, suara kamu terdengar lemah begitu..." lanjut kakak


"Nggak apa-apa, cuma demam sedikit..." sahut Tristan


"Apa Ayra ada di dekatmu, boleh kakak bicara padanya?" tanya kakak, kemudian tanpa menjawab Tristan memberikan ponselnya pada Ayra


"Ya kak, ada apa?" tanya Ayra kemudian


"Suami mu sedang sakit ya, tolong rawat dia dengan baik, maklum dia itu anak manja, biasanya jika sedang sakit ia selalu minta ditemani sama ibu." ucap kakak memberi tahu


"Baik kak, Ayra akan berusaha sebaik mungkin...ini panasnya juga mulai turun." kata Ayra


"Semoga cepat baikan, besok pagi kalian harus datang ya....Kakak dan ibu akan masak banyak dan enak pokoknya. " ucap kakak mengingatkan


"Baik kak." singkat Ayra kemudian mematikan ponselnya


Tristan tak sempat berkata apapun karena Ayra langsung berlalu dan tak lama kemudian ia kembali masuk ke kamar sambil membawa wadah berisi air hangat dan handuk kecil. Tanpa bicara Ayra segera membuka baju Tristan dan mulai membersihkan tubuhnya.


"Nggak usah, ..." Tristan meraih tangan Ayra yang sudah mulai membersihkan tubuhnya dengan handuk kecil yang telah dibasahi dengan air hangat


"Aku sedang melakukan tugas seorang istri, jadi diamlah..." sahut Ayra ketus dan terus mengelap perlahan setiap bagian tubuh Tristan


Tristan merasakan jantungnya berdebar hebat saat Ayra sedang mengusap pelan tiap bagian tubuhnya dengan handuk basah, ia berusaha keras menahan hasratnya yang telah terpancing karena sentuhan- sentuhan lembut itu.


"Kau memang sengaja menyiksa ku..." lirih Tristan menahan gejolak hasratnya sekuat tenaga


"Aku hanya..." ucapan Ayra terhenti saat tak sengaja ia melihat ke bagian bawah Tristan yang mulai menegang


"Kau senang jika melihatku tersiksa..." sahut Tristan meraih tangan Ayra yang berada di perutnya


"Apa kamu juga ingin aku melakukan tugasku sebagai istri untuk yang satu ini..." ucap Ayra pelan melirik bagian bawah Tristan


"Bukankah kamu ingin kita berpisah, jadi jangan sok jadi istri yang baik." sahut Tristan ketus tapi tetap menggenggam tangan Ayra


"Kalo nggak mau ya sudah, nggak usah ketus begitu...." ucap Ayra yang ikut ketus juga sambil hendak beranjak


"Siapa yang bilang nggak mau..." sahut Tristan menarik tangan Ayra hingga terjatuh di atas tubuhnya


"Kamu harus tanggung jawab, karena sudah membangunkan nya..." lanjut Tristan dengan suara serak dan menatap wajah Ayra yang sangat dekat dengan wajahnya


Ayra tak sempat mengucapkan sepatah katapun saat bibir hangat Tristan sudah mulai me lu mat bibirnya, dan ia kemudian membalikkan tubuhnya hingga kini Ayra telah berada di bawah kungkungan Tristan tanpa melepaskan tautan bibirnya. Tristan yang sudah tak bisa menahan hasratnya, kini tangannya mulai menjelajahi setiap inchi tubuh Ayra.


"Tris,..." de sah Ayra pelan saat kedua tangan Tristan mulai bermain di area sensitifnya bagian atas


"Jangan coba menghentikan aku,... aku benar-benar tak tahan lagi." bisik Tristan setelah melepas tautan bibir mereka


Tristan memang benar-benar sudah tak bisa menahan hasratnya lagi, ia semakin agresif memberikan sentuhan dan se sap an di setiap inchi tubuh Ayra. Ayra pun ikut terlena merasakan kenikmatan yang diberikan Tristan, ia mulai mengge lin jang hebat dan men de sah keras saat area sensitif bawahnya telah ditembus rudal besar milik Tristan.


Kini keduanya telah bermain semakin panas, keringat mengalir deras dari tubuh keduanya, diiringi nafas yang saling memburu dan detak jantung yang berdegup kencang. Bukan hanya sekali, sore itu mereka bermain selama beberapa ronde hingga membuat keduanya terkapar tak bertenaga lagi.


"Ayra, sayang...tolong pertimbangkan lagi, aku tak ingin berpisah dari mu." lirih Tristan mengecup kening Ayra saat mengakhiri permainan mereka


"Aku mencintai mu..." lanjut Tristan karena Ayra masih terdiam


"Aku..." Ayra tampak sangat ragu


"Ayra, aku janji akan berusaha menjadi suami yang baik, aku akan membuat mu selalu tersenyum dan bahagia, tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan cintaku. " kata Tristan membelai lembut wajah Ayra yang masih berada di bawah kungkungan nya


"Tapi aku tak ingin kelak membuat mu kecewa dan sakit hati, jika memang aku tak bisa mencintai mu dengan tulus..." ucap Ayra pelan dengan mata berkaca-kaca


"Beri aku waktu tiga bulan, jika aku tak bisa membuatmu jatuh cinta padaku maka aku rela melepas mu..." kata Tristan serius