
Sampai hari telah malam Tristan sama sekali tidak keluar dari kamar. Bahkan saat makan malam pun dia tetap tak mau keluar untuk makan, hingga orang tua Ayra menanyakannya karena seharian ini tak melihat Tristan.
"Ayra, ada apa dengan suami mu...seharian ini bapak tak melihatnya keluar kamar, temui dan ajaklah makan." ucap bapak saat telah duduk di meja makan
"Iya pak." sahut Ayra kemudian bergegas masuk ke kamarnya
"Tris, makanlah...bapak dan ibu sudah menunggu mu..." ucap Ayra menghampiri Tristan yang duduk bersandar di ranjang sambil menatap ponselnya
"Aku tidak lapar..." singkat Tristan tanpa melihat ke arah Ayra
"Aku tahu kamu kecewa padaku, maafkan aku...tapi jangan membuat bapak dan ibu curiga, aku tak mau mereka kecewa." ucap Ayra yang duduk di tepi ranjang
"Begitu bencikah kau padaku hingga sedikit pun tak memikirkan perasaan ku. " kata Tristan sambil meletakkan ponselnya dan menoleh ke arah Ayra
"Maaf, aku janji akan berusaha untuk berubah, tapi tolong sekarang kita keluar untuk makan dan tidak membuat orang tua ku khawatir. " ucap Ayra menatap Tristan
"Berubah seperti apa, ...dari sangat benci menjadi lumayan benci, begitukah... " sahut Tristan menatap balik Ayra dengan tajam
"Tris, jangan bicara begitu..." ucap Ayra pelan
" Kenapa, bukankah selama ini kamu juga ketus padaku dan aku tak boleh protes..." kata Tristan mendekatkan wajahnya pada Ayra
"Maaf jika aku hanya terus melukai hatimu..." pelan Ayra menundukkan wajahnya
"Ayo, katanya mau makan..." singkat Tristan langsung turun dari ranjang dan bergegas keluar kamar
Ayra mengangkat wajahnya dan berjalan keluar mengikuti Tristan di belakangnya. Hatinya berdesir atas sikap Tristan padanya kini, dia dulu lembut dan terus mengalah padanya tapi kini balas bersikap ketus seperti dirinya. Sejujurnya ia sangat senang dengan Tristan yang bersikap sabar seperti sebelumnya.
"Ayo duduklah dan makan..." ucap bapak saat Ayra dan Tristan tiba di meja makan
"Kenapa nak, seharian ini ibu tak melihat mu keluar kamar, apa kau sakit?" tanya Ibu pada Tristan kemudian
"Tidak apa-apa bu, cuma sedikit pusing..." jawab Tristan singkat
"Ayra setelah makan berikan suamimu obat, dan temani dia..." ucap bapak melihat ke arah Ayra
"Iya pak." singkat Ayra melirik Tristan yang cuek
Makan malam yang penuh keheningan akhirnya selesai, bapak dan ibu duduk bercengkerama di ruang tengah, sedangkan Tristan berjalan pelan menuju kamarnya meninggalkan Ayra yang masih membersihkan meja makan dan mencuci piring.
Tristan memang merasa sedikit pusing, mungkin karena terlalu dalam memikirkan ucapan Ayra padanya. Hatinya yang kecewa akan sikap dan pendirian Ayra, membuatnya tak bersemangat untuk melakukan apapun. Ditambah lagi sebagai seorang pria normal, dirinya sedang ingin merasakan kehangatan.
"Tris...., aku bawakan obat dan air putih, minumlah dulu." ucap Ayra menghampiri Tristan yang terbaring di sofa
Tristan hanya terdiam dan bangkit dengan malas untuk duduk, lalu mengambil obat dan air putih dari tangan Ayra. Ayra menatap Tristan yang sedang minum obat, secara tak sengaja ia melihat kearah bawah Tristan yang memang hanya mengenakan kaos dan celana boxer. Ayra merasa darahnya berdesir saat menyadari pria di depannya tengah menahan hasrat nya, sebagai seorang wanita yang telah dewasa tentu Ayra tahu tentang hal itu.
"Sini, ..." kata Ayra pelan mengambil gelas dari tangan Tristan setelah meminum obatnya
"Tris, kamu..." pelan Ayra melihat ke wajah Tristan kemudian turun ke arah boxernya
"Apa..." lirih Tristan mengikuti pandangan mata Ayra ke arah bawahnya
"Itu..." hanya satu kata yang keluar dari bibir Ayra saat spontan Tristan menutupinya dengan bantal sofa
"Apa kau ingin aku membantu mu..." kata Ayra pelan dan ragu-ragu setelah bergelut dengan hatinya
"Sungguh kau mau membantu ku,..." sahut Tristan membuka perlahan bantal yang menutupi bagian bawahnya
Ayra dengan ragu duduk bersimpuh di depan Tristan yang masih duduk di sofa, jantungnya berdebar hebat saat menatap sesuatu yang kini berada tepat di depan wajahnya. Ia tampak sangat ragu dan masih tertegun tak bergerak, Tristan melihat ekspresi wajah Ayra yang tampak begitu tegang dan tertekan.
"Sudahlah...pergilah tidur." ucap Tristan kemudian bangkit dan melangkah menuju kamar mandi
Ayra masih terdiam di tempatnya, ia hanya menatap punggung Tristan yang melangkah menuju kamar mandi. Ayra jujur memang tak sanggup jika harus membantu Tristan, namun dalam hati kecilnya ia juga merasa bersalah karena belum mampu membalas semua yang telah dilakukan Tristan untuknya sampai saat ini.
Cukup lama Tristan berada di dalam kamar mandi, kini Ayra telah bersandar di ranjang nya belum tertidur. Sesekali ia melihat ke arah kamar mandi, dan akhirnya Tristan keluar dan melangkah dengan cuek kembali berbaring di sofa, tanpa sedikitpun melihat ke arah Ayra.
"Tris,... maaf." ucap Ayra dari atas ranjang
"Lupakan..." singkat Tristan langsung memejamkan matanya
###
Hari berganti hari di lalui dengan sikap Tristan yang jadi lebih pendiam, dan Ayra sangat merasakan perubahan sikap Tristan tersebut. Namun ia tak bisa berbuat apa pun, hingga akhirnya mereka berdua harus kembali ke kota karena lusa harus kembali masuk kerja.
"Cek lagi apa ada yang ketinggalan nak, jangan buru-buru. " ucap ibu yang mengantar Ayra menuju halaman depan
"Sudah bu, ..." singkat Ayra pelan
"Hati-hati Tris, jangan ngebut santai saja berkendaranya..." pesan bapak menepuk bahu Tristan saat Ayra dan ibunya tiba
"Baik pak, kami pamit dulu..." ucap Tristan sambil mencium tangan kedua mertuanya itu diikuti Ayra
"Ayra berangkat ya Bu...." ucap Ayra memeluk erat ibunya
Setelah Ayra naik ke boncengan, Tristan mulai menyalakan mesinnya dan melaju santai. Sesuai nasehat mertuanya, Tristan melaju dengan kecepatan sedang. Kedua nya hanya terdiam, Ayra perlahan melingkarkan kedua tangannya di perut Tristan meski motornya melaju tak begitu kencang.
" Tris, berhenti di mini market depan sebentar ya..." ucap Ayra
"Iya." singkat Tristan datar
" Kamu mau minum apa, biar aku belikan..." tanya Ayra saat telah berhenti di sebuah mini market
"Terserah..." singkat Tristan
"Tris,...jangan diamkan aku begini terus, kembalikan Tristan ku seperti yang kemarin..." ucap Ayra menatap Tristan dan meraih lengannya
"Seperti yang mana, yang selalu kau rendahkan dan hanya mengalah..." sahut ketus Tristan
"Tris, ..." lirih Ayra memegang lengan Tristan dengan dua tangannya
"Cepatlah beli yang kau butuhkan, ...jangan sampai ke sore an." ucap Tristan datar
Ayra pun melepaskan tangannya dan melangkah masuk ke dalam mini market untuk membeli minum dan juga beberapa makanan ringan. Setelah keluar ia menyerahkan sebotol minuman dingin pada Tristan yang duduk di depan mini market.
"Ayo berangkat lagi, keburu sore..." ucap Tristan dingin pada Ayra