
Tristan memacu motornya dengan perasaan yang campur aduk, hatinya menjadi tak tenang. Ia tak menyangka jika Ayra tega membohongi nya, bahkan mungkin mengkhianati nya. Ia ingin tiba secepatnya di rumah, dan ternyata rumah masih gelap jadi itu berarti Ayra belum pulang.
Saat tiba dirumah Ayra mengirim pesan padanya, menanyakan apa sudah di rumah. Tristan sengaja membalas pesan tersebut dengan mengatakan bahwa ia belum sampai di rumah. Tristan segera memasukkan motor nya ke dalam dan membiarkan lampu tetap mati. Dan benar saja, beberapa menit kemudian sebuah mobil berhenti di depan rumah, kemudian tampak Ayra dan Arga keluar dari mobil tersebut.
"Terima kasih untuk malam ini, Ay..." ucap lembut Arga mencium kening Ayra
"Aku masuk dulu ya...." sahut Ayra tersenyum manis
"Selamat malam, met bobok dan mimpi indah tentang aku...." kata Arga tersenyum bahagia sambil melepas genggaman tangannya
Arga masih terdiam di tempatnya berdiri sambil melihat Ayra yang melangkah masuk ke rumah. Setelah memastikan Ayra telah masuk ke dalam rumah, Arga pun masuk ke mobil dan bergegas pergi, tanpa menyadari bahwa sejak tadi Tristan memperhatikan mereka dari balik jendela.
"Tristan...." pekik Ayra kaget saat lampu tiba-tiba menyala dan Tristan telah berdiri di samping jendela
"Ka..kamu bilang belum sampai rumah..." ucap Ayra gugup
"Memangnya kenapa kalo aku belum ada di rumah?" tanya Tristan tenang sambil melangkah kemudian duduk di sofa
"Nggak apa-apa sih...." sahut Ayra cepat namun masih tampak gugup
"Kenapa Ayra, apa salah ku pada mu...." tanya Tristan pelan namun mampu menggetarkan hati Ayra
"Tris,.... maafkan aku..." ucap Ayra lirih sambil mendekati Tristan dan duduk disebelah nya
"Karena sudah kepergok, kamu minta maaf....tapi jika tidak maka seterusnya kau akan membohongi ku." kata Tristan pelan dan mencoba tetap tenang meski hatinya terasa begitu pedih
"Tris, aku akui bahwa aku telah membohongi mu....tapi aku bisa jelaskan..." ucap Ayra pelan dan menatap wajah suaminya penuh penyesalan
"Cukup Ayra, aku tak perlu penjelasan lagi....aku sudah melihat semuanya, hanya satu yang aku ingin tahu, kenapa kau tak pernah bisa mencintai ku...." ucap Tristan pelan dan terdengar begitu pilu
"Tristan, aku mencintai mu...." sahut lirih Ayra meraih tangan Tristan
"Benarkah, lalu Arga...." kata Tristan menatap wajah Ayra
"Aku....jujur aku juga sayang sama dia..., maafkan aku Tris..." jawab Ayra mulai berkaca-kaca saat mata Tristan menatapnya dalam
"Putuskan,....siapa yang akan kau pilih, atau biarlah aku yang mundur, aku rela mengorbankan perasaan ku asalkan kau bahagia..." ucap Tristan sambil berusaha melepas genggaman tangan Ayra
"Tris, ....sejujurnya aku memang masih bimbang, beri aku waktu sedikit lagi...." sahut Ayra cepat
"Buat apa mengulur waktu jika akhirnya sama-sama menyakitkan....mungkin aku akan merasa hancur, tapi lebih hancur lagi jika kau terus berkhianat di belakang ku,....bersama ku kau terlihat begitu sangat mencintai ku dan bersikap sebagai istri yang baik, namun di belakang ku kau juga bermesraan dengan Arga...." ucap Tristan lirih dan air mata mulai meleleh di kedua pipi Tristan
"Tris, maafkan aku...." isak Ayra pelan sambil berusaha menggenggam tangan Tristan
Tanpa menunggu Ayra mengucapkan kata lagi, Tristan langsung bangkit dan berjalan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Ia hempas kan tubuhnya ke ranjang, matanya menatap kosong ke atap kamar dengan mata yang semakin basah. Hatinya hancur berkeping-keping, perasaan kecewa dan marah kini menyelimuti hati nya.
Ayra pun bergegas masuk juga ke kamarnya sendiri, sama seperti Tristan ia pun menghempaskan tubuhnya dengan kasar ke ranjang. Ia merasa sangat bersalah karena telah membuat hancur hati Tristan, ia terisak sambil terus menyesali apa yang telah terjadi.
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Tristan sudah keluar rumah, ia sama sekali tak menjawab saat Ayra bertanya padanya hendak kemana. Hari minggu ini, Tristan ingin sendiri merenungi semua yang telah terjadi, nasib pernikahannya yang mungkin akan segera kandas.
"Ada apa Tris, ceritakan pada kakak..." ucap kakak yang menghampiri Tristan
Sebelumnya kakak memang sempat saling berkirim pesan dengan Tristan, ia tahu jika adiknya itu sedang tidak baik-baik saja. Dan kakak juga tahu persis dimana tempat Tristan selalu menyendiri jika sedang suntuk.
"Feeling kakak benar, dia sudah berbohong...." kata Tristan lirih sambil menundukkan wajahnya
"Maksud mu, Ayra....bohong yang seperti apa?" tanya kakak memperjelas
"Kemarin ia tak pergi bersama Dini, teman dekatnya....ia bersama Arga....dan tampak begitu bahagia." jawab Tristan pelan sambil menahan beban berat di hatinya
"Maksudnya Ayra sedang selingkuh dengan atasan mu, apa kau sudah bertanya langsung padanya?" tanya kakak lagi tak ingin salah paham
"Iya kak, aku melihat dengan mata ku sendiri jika dia begitu tampak sangat bahagia saat bersamanya....dan dia juga sudah mengakuinya saat aku bertanya. Mungkin kami akan segera berpisah, kak...." jelas Tristan pelan sambil menatap kosong ke depan
"Jadi kamu sudah menyerah,....kamu mengaku kalah dari Arga...kamu sudah tak mau melanjutkan perjuangan mu untuk mendapatkan hati Ayra. " ucap kakak menepuk pelan pundak Tristan
"Aku hanya ingin dia bahagia....jika bersamaku hanya membuat hatinya merasa terpaksa dan tertekan, maka biarlah dia bersama Arga....mungkin hanya Arga yang mampu membuatnya tersenyum bahagia setiap waktu. " ucap Tristan berusaha tetap tenang
"Apa kau sudah bertanya pada Ayra tentang perasaannya padamu?" tanya kakak diikuti anggukan kepala Tristan
"Apa katanya?" tanya kakak lagi
"Dia bilang juga mencintai ku..." jawab Tristan lirih
"Lha itu dia juga cinta, teruskan perjuanganmu....rebut hatinya dan pertahankan pernikahan kalian." kata kakak antusias
"Tidak kak, itu sudah berulang kali aku coba.....jika hanya berdua denganku, ia akan terlihat begitu mencintai ku namun jika sedang bersama Arga dia juga nampak sangat bahagia dan begitu mencintainya." ucap Tristan menjelaskan
"Ayra sedang bimbang, karena harus memilih diantara dua cinta....kalo aku jadi kamu, aku akan selalu berada dekat dengannya dan tak akan ku biarkan dia jauh meski hanya sedetik, akan ku beri dia perhatian yang lebih dan juga sentuhan yang lebih panas dan tak terlupakan, ingat kamu suaminya kalian sudah sah, itu nilai lebih kamu dari Arga....pikirkan itu." kata kakak berusaha menasehati
"Tapi kak...." sahut Tristan ragu
"Buktikan saja perkataan ku dan lihat hasilnya...." kata kakak tegas sambil menepuk pundak Tristan