
Semenjak hari itu sikap Ayra mulai berubah, dan Tristan mulai merasakan perubahan tersebut. Namun ia sama sekali tak ingin mencurigai istri nya, ia berusaha meyakinkan hatinya untuk tetap percaya pada Ayra.
"Sayang, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Tristan saat sedang santai berdua di ruang tengah
"Tanya apa?" sahut Ayra cepat
"Apa kamu sedang ada masalah, akhir-akhir ini aku perhatikan sikap mu sedikit berubah?" tanya Tristan hati-hati tak ingin membuat Ayra tersinggung
"Berubah?....emang berubah gimana, biasa aja kok." jawab Ayra yang mulai gelisah
"Aku nggak bisa jelas kan, tapi hati ku merasakannya....apa ada masalah?" tanya Tristan lagi
"Nggak ada apa-apa, Tris....aku cuma merasa agak lelah dan nggak enak badan." jawab Ayra berusaha tenang dan tak ingin membuat Tristan curiga namun sesungguhnya ia merasa sangat bersalah
"Jangan-jangan kamu hamil, sayang....sudah di cek belum." sahut Tristan cepat sambil menatap wajah Ayra dengan senyum penuh harap
"Apa hamil?,.... ahh nggak kok, aku belum telat masih dapat rutin." ucap Ayra pelan
"Ooo, begitu...aku kira kamu hamil....sayang, aku pengin segera memberi cucu pada pada orang tua kita, usaha yuk..." ucap Tristan pelan sambil menatap serius wajah Ayra
"Apaan sih,.... aku capek..." Ayra berusaha beralasan
Tristan hanya diam dan tetap menatap istrinya, inilah salah satu perubahan sikap Ayra yang ia rasakan, sekarang Ayra lebih banyak menghindar jika di minta untuk menunaikan kewajibannya sebagai istri. Meski berusaha untuk berfikir positif, namun tak bisa dipungkiri Tristan menjadi bertanya-tanya ada apa sebenarnya dengan Ayra.
"Sayang, nanti malam kita di undang kakak ke rumah untuk makan malam, kamu ikut ya...." kara Tristan kemudian
"Benarkah, kenapa mendadak....harusnya kamu bilang dari kemarin, aku sudah terlanjur ada janji sama Dini untuk jalan." ucap Ayra beralasan
"Apa nggak bisa di tunda dulu....maaf, aku lupa kemarin mau ngomong sama kamu." sahut Tristan dengan sabar
"Nggak enak dong Tris sama Dini kalo harus dibatalkan, kamu berangkat sendiri nggak apa-apa kan?" ucap Ayra manja
"Iya-iya, aku berangkat sendiri..." sahut Tristan cemberut
"Jangan cemberut begitu dong, nanti ganteng nya hilang lho...." gumam Ayra pelan menggoda suaminya sambil mencubit kedua pipi Tristan
"Sakit, sayang ...." pekik Tristan sambil mengusap pipinya
"Masak, sini aku obati ..." sahut Ayra cepat sambil mencium kedua pipi Tristan
"Yang ini...." Tristan menunjuk bibir dan mendekatkan ke wajah Ayra
"Kalo yang ini juga pasti entar buntutnya panjang,....udah sana mandi..." sahut Ayra cepat sambil mencubit pinggang Tristan
"Ahh, kamu nggak asik sayang...." gumam Tristan sewot sambil bangkit dari duduknya dan dengan malas berjalan menuju kamar mandi
Ayra menatap punggung Tristan yang berjalan ke kamar mandi, dalam hatinya ia merasa sangat bersalah karena telah berbohong. Ia merasa bahwa dirinya begitu jahat pada Tristan, telah mengkhianati kepercayaannya namun ia juga tak rela jika harus melepas perasaannya pada Arga.
"Maafkan, aku Tris...." gumam lirih Ayra pada dirinya sendiri
Selesai mandi dan bersiap Tristan langsung bergegas berangkat ke rumah kakaknya sendiri, tanpa Ayra. Meski kecewa tapi Tristan tak ingin memaksa Ayra untuk ikut, karena ia juga salah karena tidak memberi tahu dulu sebelumnya.
"Aku berangkat, sayang..." pamit Tristan yang diantar Ayra sampai di depan rumah
"Hati-hati.... sampaikan salam dan juga maaf ku pada kakak juga ayah dan ibu." ucap Ayra dibalas dengan anggukan kepala Tristan
"Memangnya kamu nggak bilang sebelumya?" tanya kakak saat hanya berdua dengan Tristan
"Iya kak, aku lupa nggak ngomong dulu sama dia, jadi dia terlanjur ada janji sama temannya." jawab Tristan
"Temannya yang mana, apa tidak bisa ditunda dulu, begitu penting kah?" tanya kakak yang merasa penasaran
"Dini, teman dekatnya....nggak enak kalo ditunda, mungkin Dini sedang ingin curhat. " jawab Tristan beralasan
"Kau yakin dia ada janji dengan Dini?" tanya kakak yang mulai curiga
"Maksud kakak Ayra berbohong padaku?, nggak mungkin kak..." jawab Tristan tegas
"Bukannya aku berburuk sangka padanya, tapi entah kenapa aku merasa aneh saja....ya sudahlah jangan dipikirkan, mungkin aku yang terlalu negative thinking. " ucap kakak kemudian mengajak Tristan kembali berkumpul dengan keluarga yang lain
Makan malam sederhana namun penuh kehangatan, terlihat mereka saling tersenyum dan tertawa penuh kebahagiaan. Namun ada sedikit kegalauan di hati Tristan setelah mendengar ucapan kakaknya yang meragukan Ayra.
"Kamu mau langsung pulang, nak?" tanya ibu saat melihat Tristan memakai jaketnya
"Iya bu, kasihan Ayra dirumah sendiri....dia pasti sudah pulang saat ini." jawab Tristan
"Hati-hati, ini sudah malam....jangan ngebut." pesan ayah pada Tristan
"Iya, Yah...." sahut Tristan sambil mencium tangan kedua orang tuanya
"Tris, bawalah ini untuk istri mu..." ucap kakak sambil menyerahkan rantang makanan pada Tristan
"Terima kasih, kak....Jadi repot ya..." sahut Tristan menerimanya
"Ah nggak lah, nggak repot....hati-hati di jalan." kata kakak ikut mengantar sampai ke depan
Tristan pun bergegas meninggalkan rumah kakaknya dan berkendara dengan santai. Saat tiba di separo perjalanan ia teringat jika pulsa ponselnya habis, ia lalu berhenti di sebuah counter pulsa. Tak di sangka disana ia malah bertemu dengan Dini.
"Din, nggak nyangka ketemu disini....sudah pulang ya, gimana jalan nya seru pasti..." tanya Tristan pada Dini
"Iya nih Tris, kehabisan pulsa....ehh, jalan gimana maksudnya, pulang dari mana?" tanya balik Dini yang tak mengerti dengan pertanyaan Tristan
"Bukannya kamu tadi jalan sama Ayra, pulang jam berapa..." jawab Tristan
"Nggak kok, aku dari rumah emang sengaja ke sini mau beli pulsa...." jawab Dini heran
"Jadi kamu nggak pergi jalan sama Ayra, kamu nggak janjian sama dia?" tanya Tristan yang mulai tak enak hati
"Enggak....memangnya kenapa?" tanya balik Dini lagi tambah bingung
"Ya sudah, nggak apa-apa Din....aku pergi dulu..." ucap Tristan buru-buru
"Tris tunggu,...." sahut Dini cepat
"Ada apa, Din?" tanya Tristan tak jadi melangkah
"Apa ada masalah dengan Ayra?, soalnya beberapa hari yang lalu aku juga melihat Ayra keluar dari ruangan Arga dengan wajah sembab seperti habis nangis, tapi saat aku tanya ia mengelak dan berpesan agar tak cerita ke kamu dan segera bergegas ke toilet, maaf jika aku kepo..." kata Dini kemudian
"Benarkah, aku akan coba tanya padanya nanti...nggak apa-apa Din, kamu kan teman dekat Ayra jadi wajar kalo mencemaskan dia, terima kasih telah memberi tahu ku, aku pulang dulu...." ucap Tristan kemudian bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut