My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Pemanasan



"Benar kata suami saya,...saya hanya kecapekan saja." sahut Ayra meyakinkan


"Aku sepertinya tidak melihat kebahagiaan terpancar dari mata mu , Ayra." ucap Arga kemudian


"Apa maksud perkataan tuan?" tanya bapak yang merasa heran dengan ucapan Arga


"Iya pak, maaf saya hanya jujur dengan apa yang saya lihat. Apa bapak tak menyadarinya, jika Tristan mungkin kelihatan bahagia tapi bagaimana dengan Ayra, sedikitpun tak ada raut senang di wajahnya. " jelas Arga yang membuat Tristan meradang


"Saya bahagia dengan pernikahan ini, apa saya harus tertawa lebar untuk menunjukkan perasaan saya. Dan lagi saya tak butuh penilaian bapak,..." ucap Ayra yang mencoba tetap tenang


"Maaf pak bukan bermaksud mengusir, namun jika kehadiran anda hanya membuat suasana hati istri saya tak nyaman, lebih baik anda pulang." ucap tegas Tristan dan membuat heran seluruh keluarga


"Tristan, kenapa kamu bicara begitu pada atasan mu?" tanya ayahnya heran


"Maaf ayah, dari awal dia memang tidak suka dengan hubungan saya dan Ayra. Dan saya yakin dia datang kesini hanya untuk mengganggu acara ini." jawab Tristan keras dan mulai hilang kesabaran


"Tristan, jaga ucapan mu...Aku tahu jika ini hanya sandiwara, kalian hanya pura-pura menikah untuk mengelabuhi aku dan kamu tak ingin kehilangan pekerjaan kan." kata Arga dengan penuh arogan


"Cukup, hentikan ucapan bapak dan pergilah dari sini.... asal bapak tahu saya dan Tristan saling mencintai, kami sangat bahagia dengan pernikahan ini, jadi jangan membuat fitnah karena bapak tak mendapatkan apa yang diinginkan." ucap Ayra penuh kemarahan dan menarik tangan Tristan pergi masuk ke dalam rumah


"Ini bukan fitnah tapi kenyataan, akan ku buktikan..." Arga tak sempat menyelesaikan ucapan nya


"Maaf, sebaiknya anda segera pergi dari sini. " potong kakak Tristan yang berdiri dan sedikit mendorong tubuh Arga agar pergi


Setelah kepergian Arga, suasana jadi tampak tegang. Seluruh keluarga merasa bingung dengan kejadian ini, ibu Ayra menangis merasa sedih dengan semua ini. Acara yang semula berlangsung penuh kebahagiaan harus di akhiri dengan hal seperti ini.


"Tenang Ayra, berhentilah menangis....jangan sampai seluruh keluarga menjadi curiga." bisik Tristan du dalam kamarnya


"Tris, aku takut...Aku tak mau membuat kecewa bapak dan ibu. " sahut Ayra sesenggukan


"Makanya berhenti menangis, tunjukkan pada mereka kalo semua ucapan Arga salah." bisik Tristan lagi sambil menghapus air mata Ayra


Ayra menatap mata Tristan, hatinya merasa berdesir saat melihat ketulusan disana. Ia segera menundukkan wajahnya saat Tristan menatapnya balik, ia tak sanggup untuk beradu pandang dengannya.


"Tristan, Ayra...bisa kita semua bicara sebentar, orang tua kita sedang menunggu di luar." kata kakak Tristan yang telah masuk ke kamar mereka


"Baik kak, kami segera menyusul..." sahut Tristan menoleh ke arah kakaknya


"Ayo, kamu pasti bisa..." ucap Tristan meraih tangan Ayra dan mengajaknya keluar


"Ceritakan pada kami, ada apa sebenarnya?" tanya bapak saat Tristan dan Ayra sudah duduk


"Bapak sebenarnya..." Ayra hendak menjawab tapi Tristan meraih tangannya dan kemudian mengambil alih pembicaraan


"Bapak, Arga itu pimpinan kami, ia seorang duda yang terkenal suka mempermainkan perasaan wanita. Ia sebenarnya menaruh hati pada Ayra dan akan melakukan cara apapun untuk bisa mendapatkan Ayra. Saat mengetahui jika Ayra dan aku adalah sepasang kekasih ia tidak terima, makanya kami memutuskan untuk segera menikah. Setelah menikah aku jadi lebih bisa menjaga Ayra dengan baik, namun hal itu tampaknya semakin membuat Arga tak terima." jelas Tristan sesekali melirik Ayra


"Oh begitu, jadi ceritanya cinta segitiga ya..." sahut kakak setelah mendengar penjelasan Tristan


"Kalo begitu sebaiknya kalian harus hati-hati...dan kamu Tristan, jagalah Ayra sebaik mungkin jangan sampai pria itu mengganggu istrimu." ucap bapak diikuti anggukan kepala dari semuanya


"Iya, kalo mau pemanasan dulu juga boleh..." sahut kakak sambil tersenyum simpul menggoda adik lelakinya itu


"Kakak..." lirih Tristan menatap tajam kakaknya yang terus tersenyum


Mereka berdua kembali ke kamarnya, sedangkan orang tua mereka juga ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Hanya kakak Tristan yang masih menemani anaknya yang masih saja bermain dan tak bisa diam.


Tristan bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sementara Ayra membersihkan make up dan berganti pakaian. Ayra menatap wajahnya di cermin, tampak matanya masih berkaca-kaca karena merasa bersalah telah melakukan sandiwara ini.


"Mandi lah, biar badan mu terasa segar..." ucap Tristan saat keluar dari kamar mandi


"Tak perlu perhatian begitu, di kamar ini kita hanya berdua tak perlu lagi akting..." sahut ketus Ayra


"Ayra, cukup...tolong jaga sikap mu pada ku." ucap Tristan tegas


"Kenapa, aku harus lembut pada mu, perhatian pada mu begitu...jangan kau kira setelah apa yang kau lakukan tadi aku jadi respect pada mu, semua tetap sama dan tak akan pernah berubah, jangan berharap dan mengertilah..." kata Ayra yang ternyata masih berkeras hati pada Tristan


"Terserah kamu...Aku tak ingin berdebat." sahut Tristan yang kemudian menghempaskan tubuhnya ke ranjang


"Apa yang kamu lakukan,...kalo mau tidur di sofa itu,...Tristan kamu dengar ucapan ku tidak." Ayra mendekati Tristan yang pura-pura tidur dan tak mendengar ucapan Ayra


"Tristan bangun dan pindah ke sofa..." ucap Ayra menarik tangan Tristan


"Iya-iya, mandi sana bau asem tahu...nanti aku pindah." sahut Tristan yang masih tetap berbaring di ranjang


Ayra cemberut mendengar ucapan Tristan yang meledeknya, ia lantas bergegas ke kamar mandi. Tristan dengan berat hati harus pindah ke sofa, ia tak mau mendengar omelan wanita jutek itu lagi. Karena begitu letih, Tristan langsung terlelap meski hanya tidur di sofa.


Ayra yang selesai mandi mendapati Tristan telah pindah ke sofa, ia memandangi wajah Tristan yang sedang terlelap. Perlahan ia mendekatinya, ia merasa senang melihat wajah Tristan yang sedang terlelap tenang, namun jika bangun entah kenapa Ayra merasa sangat sebal padanya.


"Kenapa,...ganteng ya?" tiba-tiba Tristan membuka matanya membuat Ayra tersentak kaget dan mundur


"Hah, dasar bodoh...kamu pura-pura tidur ya." umpat Ayra spontan


"Nggak aku memang beneran tidur, tapi aku merasakan jika sedang ada yang mengagumi wajah ganteng ku ini." ucap Tristan datar dan kembali memejamkan matanya


"Ayra, Tristan...apa kalian masih terjaga, aku bawakan makanan dan minuman buat kalian." terdengar suara kakak memanggilnya dari luar kamar


"Tris,...bangun ada kakak ." Ayra berusaha menarik Tristan dari sofa


"Ya, buka sana kok heboh banget..." sahut Tristan belum sadar maksud Ayra


"Kamu jangan tidur disini, ntar kakak lihat..." ucap Ayra menjelaskan, baru kemudian Tristan bangkit dan membuka pintu


"Aduh, kakak ganggu ya...lagi pemanasan ya." cengir kakak sambil menyerahkan nampan berisi makanan dan minuman


"Nggak cuma pemanasan, udah ke bakar..." sungut Tristan sebal diikuti suara tertawa kakaknya