
Setelah kepulangan kakaknya, Tristan mulai berfikir lagi tentang semua ucapan kakaknya. Ia seperti mendapat semangat baru untuk berjuang mendapatkan cinta Ayra, ia sangat bahagia karena kakak sangat mendukungnya. Ia pun memutuskan untuk tetap tinggal di rumahnya bersama Ayra.
Ia akan berusaha sekuat mungkin untuk bisa bertahan, meski mungkin harus merasakan sakit, kecewa, marah dan tersiksa selama berada si dekat Ayra nantinya. Apapun yang terjadi nanti, yang penting kini ia ingin berjuang demi cintanya pada Ayra.
"Ayra, ayo pulang ...emang mau lembur, kok masih bengong aja. " ucap Dini saat akan beranjak pulang sore itu
"Ehh, Dini...enggak kok, sebentar lagi aku juga pulang." sahut Ayra terbata
"Ya sudah, aku pulang duluan..." ucap Dini berpamitan dan langsung bergegas pulang
"Iya, hati-hati di jalan..." sahut Ayra cepat
Ayra juga segera berkemas dan membereskan pekerjaannya, setelah pulang ini ia berniat hendak menemui Tristan untuk melihat keadaannya, meski ia belum tahu tempat tinggal Tristan kini. Saat hendak beranjak, Arga tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya.
"Sudah mau pulang, bareng yuk..." ajak Arga berdiri tepat di depan Ayra
"Arga,...maaf Aku pulang sendiri saja karena ada urusan sebentar. " sahut Ayra pelan dan tenang
"Urusan apa, biar aku antar..." ucap Arga tak mau menyerah begitu saja
"Nggak usah, Ga...aku pergi sendiri saja, terima kasih...." sahut Ayra cepat
"Urusan Tristan pasti...." kata Arga sedikit ketus
"Ga,...Aku mohon biarlah aku selesaikan urusan pribadi ku sendiri, ini tentang Tristan atau bukan biarlah menjadi urusan ku sendiri. " ucap Ayra yang mulai tak senang dengan ucapan ketus Arga
"Maaf, tapi jika menyangkut Tristan....jujur aku menjadi cemburu, Ayra....aku mohon beri aku kesempatan dan pertimbangkan baik-baik apa yang kita bicarakan tadi." kata Arga meraih tangan Ayra dan menggenggam nya erat
"Beri aku waktu untuk memutuskan semua ini, aku ingin meyakinkan hatiku dulu..." sahut Ayra pelan
"Tentu saja, aku akan selalu menunggu mu...I love you, Ayra..." ucap Arga lembut sambil mencium perlahan tangan Ayra
"Aku harus segera pulang, takut ke sore an...." sahut Ayra cepat sambil mencoba melepaskan genggaman tangan Arga
"Iya, hati-hati...Jangan lupa untuk selalu mengabari ku, ..." ucap Arga penuh perhatian
Ayra segera bergegas menuju parkiran dan langsung menyalakan motornya, namun sebelum mulai berkendara ia melihat ponselnya tapi ternyata belum ada balasan dari Tristan. Ia tadi memang sempat mengirim pesan pada Tristan untuk menanyakan tempat tinggalnya sekarang, karena belum ada balasan Ayra pun memutuskan untuk pulang dulu ke rumah.
Setiba di rumah, Ayra mencoba mencari kunci di tempat biasa namun tak ada. Saat ia mencoba membuka pintu ternyata sudah tak terkunci, dan ia melihat ada motor Tristan di dalam. Spontan ia tersenyum kecil saat melihatnya, dan segera memeriksa ke kamar Tristan, ia langsung membuka pintu kamar tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Tristan,..." ucap Ayra senang melihat Tristan masih tertidur di kamarnya, namun karena begitu antusias ketika membuka pintu hingga membuat Tristan terbangun
"Lain kali, ketuk pintu dulu atau buka pelan-pelan saja, ganggu orang tidur aja..." omel Tristan yang baru saja terbangun
"Stop, apaan sih..." ucap Tristan ketus sambil menahan tangan Ayra
"Tris, aku cuma mau mengecek keadaan mu, Dini bilang tadi kamu ijin pulang karena masih sakit, seharian ini aku khawatir, kamu tak mengangkat panggilan atau membalas pesan dari ku." kata Ayra cepat sambil duduk di tepi ranjang Tristan
" Nggak usah sok perhatian gitu, emangnya kamu peduli sama keadaan ku....kan sedang asik pacaran. " ucap ketus Tristan yang memalingkan tubuhnya memunggungi Ayra
"Tristan, aku tahu kamu sedang cemburu..." sahut Ayra cepat dan berusaha membalikkan badan Tristan agar menghadap padanya
"Aku cemburu.... emang aku punya hak untuk itu." ucap Tristan masih saja ketus sambil berusaha sedikit bangun dan bersandar
"Tris, kenapa kamu ngomong begitu....maaf jika sikap ku membuat mu kecewa, tapi semua tak seperti yang kau lihat, dan asal kamu tahu aku benar-benar khawatir padamu. " ucap Ayra pelan terduduk di sebelah Tristan sambil menatapnya dalam
"Kamu tak perlu minta maaf atau menjelaskan apapun, karena aku tak berarti sedikitpun untuk mu selain rasa benci mu pada ku..." ucap lirih Tristan memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Ayra
"Tris, apa kau masih mencintai ku...." tanya Ayra tiba-tiba
"Buat apa kau selalu menanyakan nya, sedang kau tahu pasti jawabannya...." jawab Tristan cuek tanpa melihat ke arah Ayra
"Tris, pandang aku..." Ayra menyentuh wajah Tristan dan mengarahkan kepadanya
"Saat ini aku sedang meyakinkan hati ku, bantu aku untuk mencari tahu tentang perasaan ku saat ini ...kesepatakan kita masih berlaku kan, kamu masih memberikan waktu untuk ku." ucap Ayra menatap dalam mata Tristan
"Kamu sedang bingung, antara memilih aku atau Arga?" tanya Tristan terdengar begitu pilu menatap wajah Ayra
"Maafkan aku Tris,....sejujurnya iya." jawab Ayra lirih membuat Tristan teriris mendengarnya
"Apa yang telah dilakukan Arga hingga bisa membuatmu yang begitu benci dan takut padanya, namun kini ia sudah membuat mu jatuh cinta padanya. Sedangkan aku yang memang awalnya kau benci, namun aku berusaha untuk sabar dan berusaha menerima mu bahkan kini begitu mencintai mu, tapi tetap saja masih belum bisa membuka hati mu. Begitu buruk kah aku di bandingkan dia?" tanya Tristan terdengar begitu pilu dengan suara bergetar
"Tris, jangan berkata seperti itu.... tahukah kamu jika perkataan mu itu menyakiti hati ku. Aku tak ingin membandingkan kalian berdua, aku hanya ingin...." ucapan Ayra segera terhenti saat tiba-tiba bibir hangat Tristan telah menyentuh bibir lembutnya
Tristan memang selalu tak bisa menahan diri jika sedang berada begitu dekat dengan Ayra, ia pun mulai memejamkan matanya dan melu mat pelan bibir lembut itu, Ayra pun ikut terlena menikmati permainan bibir dan lidah Tristan yang semakin bersemangat, ia pun memejamkan matanya juga dan merasakan jantungnya berdebar hebat.
"Tris, kenapa jantung ku berdebar hebat saat ini..." lirih Ayra saat keduanya mengambil nafas sejenak
"Aku tahu jika sebenarnya kau juga menginginkan aku, hanya saja ego mu terlalu besar..." bisik Tristan lembut mulai melu mat dan menye sap lagi
Setelah puas membuat bibir Ayra bengkak, kini bibirnya mulai menyusuri leher jenjang Ayra dan tangannya mulai menjelajahi setiap inchi tubuh Ayra, hingga membuat si empunya menggeliat pelan merasakan sensasi nikmat yang di hasilkan.
"Tris, aku..." bisik Ayra yang berusaha mengatakan sesuatu namun segera di hentikan Tristan dengan se sap an kuat di leher Ayra hingga membuatnya men de sah dan meninggalkan jejak kepemilikan nya di leher jenjang itu
"Jangan bicara lagi, aku hanya ingin mendengar de sah an mu...." bisik Tristan sambil menggigit lembut telinga Ayra