My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Dilema



Tak berapa lama kemudian Tristan telah kembali membawa makanan dan juga minuman. Sambil di suapi oleh Tristan, Ayra terus saja mengerjakan pekerjaan nya. Sesekali keduanya tampak saling bercanda, tertawa bahagia dan begitu mesra.


Tanpa mereka berdua sadari, Arga selalu memperhatikan dari dalam ruangannya, hatinya terasa pedih dan cemburu sedang membakar hatinya. Namun ia berusaha untuk menahan diri, ia tak ingin Ayra menjadi benci padanya jika ia terlalu menuruti amarahnya.


Beberapa hari menahan diri ternyata membuat Arga tak sanggup lagi, hampir setiap hari ia harus menyaksikan kemesraan keduanya. Ayra sebenarnya tahu jika sikap mesranya bersama Tristan telah melukai hati Arga, namun ia juga tak berani untuk berkata yang sejujurnya pada Tristan.


"Ayra, bisa ke ruangan ku sekarang." ucap Arga saat Ayra sedang duduk bersama Tristan


"Iya, pak." sahut singkat Ayra


Ayra kemudian bangkit dan mengikuti Arga masuk ke dalam ruangannya, meski hatinya tampak begitu tegang, namun ia bersikap biasa saja saat Tristan menatapnya.


"Sayang, hati-hati..." ucap Tristan tampak sangat khawatir


"Biasa aja kali, emang mau masuk kandang singa..." sahut Ayra cepat sambil berusaha sedikit tersenyum


"Masuk dan duduklah." kata Arga pada Ayra yang berjalan di belakangnya


"Apa ada yang harus saya kerjakan, pak?" tanya Ayra saat sudah duduk tapi Arga masih berdiri di sampingnya


"Ayra, sampai kapan kau akan menyakiti hati ku...aku sudah tak sanggup lagi melihat sikap sok mesra mu bersama Tristan. " ucap Arga masih berdiri di samping Ayra


"Arga, maafkan aku...." sahut Ayra cepat


"Aku berusaha menahan cemburu yang sedang membakar hatiku, namun kini aku tak sanggup lagi, aku akan memintamu langsung pada Tristan. " ucap Arga serius


"Apa maksudmu, Ga?" tanya Ayra tak mengerti


"Aku akan minta pada Tristan untuk melepaskan mu untuk ku, apapun syarat darinya akan aku penuhi, asalkan kau bisa bersama ku." kata Arga tenang dan kini telah bersimpuh di depan Ayra


"Jangan, Ga....aku tak mau menyakiti dan mengecewakan Tristan." sahut Ayra cepat sambil menatap wajah Arga


"Kamu tak mau menyakitinya, tapi kamu menyiksa ku, menghancurkan hatiku, kamu bunuh saja aku sekalian....aku nggak sanggup lagi Ayra." ucap Arga begitu pilu menatap wajah Ayra yang berada tepat di depannya


"Jangan bicara seperti itu, ....aku mohon." pinta Ayra lembut menakup wajah Arga


"Ayra, katakan kau mencintai ku..." lirih Arga


"Iya, aku mencintai mu....tapi aku..." kata Ayra yang segera di potong Arga


"Aku tak mau ada kata tapi,....kita saling mencintai jadi tak ada salahnya jika aku akan bicara serius dengan Tristan tentang perasaan kita. " ucap Arga memotong ucapan Ayra


"Tidak Arga, ..." lirih Ayra masih menatap wajah Arga


"Kenapa?" tanya Arga pelan


"Karena aku juga mencintai nya...." jawab Ayra


"Sejak kapan rasa benci mu berubah jadi cinta, Ayra....kamu mungkin salah mengartikannya, kamu mungkin hanya kasihan pada nya atau mungkin kamu sedang berusaha mengorbankan perasaan mu demi tidak membuat kecewa orang tua mu." ucap Arga menggenggam erat tangan Ayra


"Ga, aku memang mencintainya....entah sejak kapan perasaan itu ada, tapi aku yakin jika aku memang mencintainya. " kata Ayra pelan


"Arga, aku sendiri sedang bimbang akan perasaan ku, saat ini aku sedang meyakinkan hati ku. " ucap Ayra menenangkan Arga


"Aku mohon jangan pergi dari ku, Ayra....aku sangat mencintai mu, aku tak akan bisa hidup jika kau meninggalkan aku. " kata Arga penuh perasaan


"Jangan berkata begitu,....aku yakin kamu pasti bisa mendapatkan yang jauh lebih baik dari aku, kamu pria yang baik, ganteng dan juga mapan, pasti ada wanita baik yang bisa mencintai mu setulus hati." ucap Ayra pelan dan hati-hati tak ingin membuat Arga tersinggung


"Tidak,... sampai kapanpun aku tak rela kau tinggalkan demi dia, aku akan bicara jujur padanya, biar dia yang memutuskan...." ucap Arga hendak beranjak


"Arga, jangan...aku mohon pada mu." sahut Ayra cepat sambil menahan lengan Arga


"Tapi aku tak sanggup jika harus berpisah dari mu...." ucap Arga bersikukuh


"Katakan padaku, siapa yang akan kau pilih....aku atau Tristan?" tanya Arga menatap dalam wajah Ayra


"Entahlah Ga, aku tak tahu....jujur aku menginginkan kalian berdua, tapi itu tidak mungkin....atau aku akan melepaskan keduanya. " ucap Ayra pelan tak tahu harus berbuat apa


"Apa, tidak Ayra...." sahut Arga cepat tak menyangka dengan ucapan Ayra


"Ayra, jangan menangis....aku tak mau melihat air mata mu...." lirih Arga berusaha menghapus air mata di pipi Ayra


"Maafkan aku Ga, aku tak menyangka perasaan ini menjadi begitu rumit hingga aku harus menyakiti hati kalian....aku yang plin-plan dan tak punya pendirian, aku yang bodoh sekaligus serakah, karena mencintai dua pria dalam waktu yang sama...." ucap Ayra sambil terisak


"Maafkan aku, Ayra....bukan maksudku untuk membuat mu menangis, aku mohon berhentilah menangis dan jangan sedih begitu....jika memang kau ingin aku yang mundur, maka aku bersumpah untuk seumur hidupku aku tak akan pernah menikah maupun mencintai wanita lain. Aku akan hidup bersama rasa cintaku pada mu...." ucap Arga menatap lembut wajah Ayra yang sembab karena menangis


"Kembalilah bekerja, anggaplah tak terjadi apa-apa....aku akan berusaha membunuh hati ku." ucap Arga melepaskan tangan Ayra


"Arga, ..." lirih Ayra langsung memeluk erat tubuh Arga


Arga balas mendekap tubuh Ayra, kini keduanya berpelukan begitu erat. Saling merasakan detak jantung masing-masing, hati keduanya menangis mendapati kenyataan bahwa cinta mereka berdua yang begitu kuat sangat sulit untuk di satukan. Ayra merasakan dilema yang begitu berat, haruskah ia memilih salah satu diantara mereka, padahal ia mencintai keduanya.


Saat keduanya masih berpelukan erat, terdengar pintu ruangan diketuk dari luar. Keduanya segera melepaskan pelukan, dan Ayra berusaha menghapus air matanya hingga tak membuat orang lain curiga, lantas pura-pura duduk berhadapan di meja kerja Arga.


"Masuklah." ucap Arga


"Maaf pak, perwakilan dari kantor klien ingin bertemu." ucap Dini saat telah membuka pintu dan sedikit masuk ruangan


"Baiklah, suruh masuk. " sahut Arga kemudian


"Kalo begitu saya kembali melanjutkan pekerjaan pak..." ucap Ayra cepat segera bangkit dan melangkah keluar ruangan bersama Dini


"Ayra, kamu kenapa....seperti habis nangis, apa pak Arga memarahi mu?" tanya Dini penasaran yang melihat wajah sembab Ayra


"Tidak, tolong jangan bilang Tristan....aku akan ke toilet dulu. " ucap Ayra pelan hendak bergegas menuju toilet


"Ayra, aku yakin kamu habis nangis....apa kau tak ingin cerita pada teman mu ini. " ucap Dini pelan


"Terima kasih atas perhatian mu, Din....tapi aku sungguh nggak apa-apa kok." sahut Ayra berusaha tersenyum kecil