
Keesokan harinya Tristan berangkat ke kantor lebih dulu tanpa menunggu Ayra, ia memang sengaja karena hanya ingin menyerahkan surat resign ke kantor. Tristan telah bertekad untuk keluar dari pekerjaannya, karena merasa tak sanggup jika tiap hari harus menyaksikan kebersamaan Ayra dan Arga, nasehat kakak tak berhasil membuatnya mengurungkan niat.
"Tris, pagi sekali...Ayra mana?" tanya Dini saat bertemu di parkiran
"Nanti berangkat sendiri....Din, aku titip surat ini, tolong sampaikan ke bagian kepegawaian. Dan aku minta maaf jika selama kita bekerja bersama di sini, aku punya salah padamu secara sengaja maupun tidak, terima kasih juga telah menjadi rekan yang baik, sampai jumpa lagi." ucap Tristan tenang sambil menjabat tangan Dini setelah menitipkan suratnya
"Tunggu Tris,...apa maksudnya ini?, kamu mau resign?" tanya Dini bingung
"Iya, Din....aku pamit, sampai ketemu lagi..." jawab Tristan singkat
"Tris, tunggu dulu...ceritakan ada apa ini, kenapa kamu tiba-tiba mau resign, bagaimana dengan Ayra?" tanya Dini berusaha menahan tangan Tristan
"Maaf, Din....aku tak bisa cerita." singkat Tristan sambil bergegas pergi setelah melepas tangan Dini yang menahannya
Dini masih tampak bingung dengan keputusan Tristan, namun ia hanya bisa memandang Tristan yang bergegas pergi meninggalkan tempat tersebut. Dini sengaja menunggu kedatangan Ayra di depan kantor, ia benar-benar penasaran dengan apa yang terjadi.
"Ayra, bisa bicara sebentar?" tanya Dini sambik menarik tangan Ayra yang datang hampir bersamaan dengan Arga
"Ada apa, Din?" tanya balik Ayra yang heran dengan sikap temannya itu
"Ikut aku...." sahut Dini sambil menarik tangan Ayra
"Dini, ada apa....bicara saja langsung, atau kau memang tak ingin aku mendengarnya?" ucap Arga yang ikut heran
"Maaf pak, saya hanya ingin bicara dengan Ayra." sahut Dini cuek
"Bicara saja Din, nggak apa-apa kalo pak Arga dengar...." kata Ayra belum mengerti apa yang akan di bicarakan oleh Dini
"Jangan membantah, ikut aku sekarang...." sahut Dini keras sambil menarik tangan Ayra dan membawanya menjauh dari Arga
Arga hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat sikap Dini, ia juga belum tahu dengan apa yang terjadi. Arga pun melangkah masuk menuju ruangannya, membiarkan Ayra dan Dini bicara berdua.
"Kamu ini kenapa sih , Din?" ucap keras Ayra sambil berusaha melepas tangan Dini
"Aku yang harusnya bertanya, ada apa dengan kamu dan Tristan?" tanya Dini keras tak bisa menahan lagi
"Apa maksudmu, aku dan Tristan baik-baik saja...." jawab Ayra pelan dan tampak ragu
"Bohong....apa mungkin sudah jadi kebiasaan baru mu untuk selalu berbohong." ucap Dini keras dan mulai emosi
"Din, kenapa kamu jadi marah....ada apa sebenarnya?" tanya Ayra pelan mulai merasa ada yang aneh dengan sikap Dini
"Tristan resign..." jawab Dini pelan sambil menunjukkan surat resign yang tadi di titipkan Tristan kepadanya
Dini hanya terdiam tak menjawabnya, sementara Ayra mulai membuka surat tersebut dan membacanya. Hatinya berdesir dan air matanya telah menetes saat melipat kembali surat tersebut, ia tak percaya jika Tristan benar-benar serius dengan ucapannya.
"Kenapa kau bohongi Tristan, ada apa sebenarnya dengan mu, Ayra?" tanya Dini pelan
Ayra yang terisak mulai menceritakan pada Dini yang sebenarnya, hingga membuat Dini tersentak kaget, tak menyangka jika teman dekatnya itu telah bermain hati dengan atasannya. Entah mengapa Dini merasa jadi tak respect dengan atasan dan juga temannya itu, ia seakan mengerti dengan rasa sakit yang sedang di alami Tristan.
"Aku sungguh tak menyangka, ternyata kamu sekejam dan sebodoh itu....apa salah dan kurangnya Tristan pada mu, dia sangat mencintaimu Ayra." ucap Dini keras karena terbawa emosi
"Aku tahu, aku memang salah....aku wanita bodoh yang tak pernah bisa menghargai orang yang mencintai ku, tapi perasaan ini ada begitu saja...seandainya aku bisa meminta dan memilih, aku juga tak ingin punya perasaan seperti ini." isak Ayra yang mulai deras mengalir air matanya
"Apa kau tahu dimana Tristan sekarang?" tanya Ayra pelan pada Dini
"Tidak, dia berlalu begitu saja....sebelum semua terlambat dan kamu menyesal, selesaikan masalah ini segera." saran Dini yang kemudian meninggalkan Ayra yang masih termenung di tempatnya
Ayra meraih ponselnya dan mulai menghubungi Tristan, namun tidak aktif dan pesan pun tak terkirim. Ayra merasa sangat cemas, ia berniat untuk tidak jadi masuk kantor dan mencari Tristan, namun Arga tiba-tiba saja sudah berada tepat di hadapannya.
"Ada apa Ayra?" tanya Arga penasaran saat melihat Dini masuk ke kantor dengan raut wajah muram
Ayra hanya terdiam tak menjawab pertanyaan Arga, ia kemudian menyerahkan surat resign Tristan pada Arga. Saat membuka surat tersebut dan mulai membacanya, Arga tampak terkejut juga dan benar-benar tak menduga dengan keputusan Tristan.
"Aku harus pergi, aku akan menemuinya...." ucap Ayra pelan hendak melangkah pergi
"Ada apa sebenarnya?" tanya Arga ingin penjelasan dari Ayra
"Dia tahu jika aku telah berbohong, kemarin dia melihat semuanya....dia sudah berada di dalam rumah saat kau mengantar ku pulang." jawab Ayra lirih
"Mungkin sudah saatnya untuk kamu mengatakan pada Tristan tentang hubungan kita, lebih cepat lebih baik...." ucap Arga enteng namun membuat Ayra tersentak kaget
"Apa kamu bilang, kamu ingin aku meninggalkan suami ku demi kamu saat ini....kamu tak peduli dengan rasa sakit dan kecewa yang sedang ia rasakan saat ini, kamu egois Ga..." sahut Ayra cepat dan keras sambil menahan emosi
"Apa salahnya jujur saat ini, jika di ulur- ulur malah akan semakin menyakitkan....katakan padanya bahwa kau mencintaiku dan mintalah padanya untuk melepaskan mu." kata Arga dengan percaya diri sambil meraih tangan Ayra
"Cukup Arga, apa kau lupa jika aku juga sayang padanya....aku merasa nyaman dan tenang saat berada di dekatnya, jujur aku merasa sangat berat jika harus berpisah darinya." ucap Ayra pelan dan mencoba melepas tangan Arga
"Lalu apa mau mu sekarang, apa kau ingin keduanya....kini saatnya kamu memilih, jadi wanita jangan serakah." sahut Arga dengan nada tinggi
"Bagaimana jika aku lebih memilih mempertahankannya?" kata Ayra cepat membuat mata Arga membulat sempurna
"Apa....apa kau bercanda, lalu apa arti kebersamaan kita selama ini, apa arti kata sayang dan cinta yang kau ucapkan pada ku, apa arti perhatian dan pengertian ku selama ini." ucap Arga meledak- ledak karena tak mampu menahan emosi saat mendengar ucapan Ayra
"Biarkan aku memilih, bukankah itu berarti salah satu dari kita harus rela mengorbankan perasaannya...." sahut Ayra berusaha tetap tenang