
Di jam istirahat siang Tristan pergi keluar, rupanya ia ingin mencari tempat kos. Tristan sudah membuat keputusan jika mulai saat ini ia akan tinggal terpisah dari Ayra, apalagi saat ia tadi melihat Ayra keluar dari ruangan Arga dengan tersenyum bahagia, ia sudah merasa yakin jika kini saatnya untuk mulai menjauh dari Ayra.
Tak terlalu sulit mencari tempat kos pria, Tristan memilih sebuah rumah kos yang tak terlalu jauh dari rumahnya. Bukannya tak bisa jauh dari Ayra, ia hanya berjaga-jaga bila keluarganya atau keluarga Ayra datang, ia bisa segera pulang. Untuk sementara ia memang belum mau mengatakan keadaan yang sebenarnya antara dia dan Ayra pada kedua keluarga.
"Tris, kamu dari mana...tadi di kantin nggak ada?" tanya Ayra saat melihat Tristan kembali berjalan ke mejanya
Namun Tristan sama sekali tak menjawabnya, ia terus berlalu begitu saja ke mejanya. Ayra merasa sedikit jengkel dengan sikap dingin dan angkuh Tristan seperti dulu lagi.
"Aku tanya kenapa hanya diam saja?" tanya Ayra yang menyusul ke meja Tristan
"Emangnya penting kamu tahu aku kemana, jangan sok perhatian...." jawab Tristan cuek tanpa melihat ke arah Ayra
"Tris, apa maksud ucapan mu tadi?" tanya Ayra duduk di depan Tristan
"Mulai nanti aku tak akan pulang ke rumah, aku sudah dapat tempat kos. Mungkin hanya mampir sebentar untuk membawa beberapa pakaian saja...." jawab Tristan tanpa menatap Ayra
"Tris, apa kamu sudah yakin dengan keputusan mu?" tanya Ayra lagi kini sambil meraih tangan Tristan
"Sangat yakin, apalagi setelah melihat mu tampak begitu bahagia setelah keluar dari ruangan Arga. " jawab Tristan menarik tangannya
"Apa maksudmu....kamu cemburu?, kamu salah paham Tris..." ucap Ayra pelan namun terlihat ragu
"Aku akan menjauh dari mu, demi kebahagiaan mu...." sahut Tristan cuek sambil membuka berkas
"Tris, aku ingin bicara lagi dengan mu...nanti saat ke rumah jangan langsung pergi." ucap Ayra pelan kemudian bangkit dan melangkah menuju mejanya kembali
Tristan menatap kepergian Ayra dengan hati teriris, sejujurnya hatinya menangis saat ini. Namun ia tak ingin Ayra selalu merasa tak nyaman bila bersamanya, jika memang Arga bisa membuatnya bahagia maka ia akan mencoba ikhlas.
Sore itu Tristan pulang lebih dulu dari Ayra, begitu tiba di rumah ia kemudian mulai berkemas. Hanya beberapa pakaian saja yang ia bawa, tak lupa ia membawa foto pernikahan nya dengan Ayra yang setiap malam selalu ia peluk erat saat tidur.
"Tunggu dulu, aku ingin bicara..." ucap Ayra saat bertemu di depan pintu saat Tristan hendak pergi dan kebetulan ia baru datang
"Apa yang masih ingin kau bicarakan?" sahut Tristan ketus
"Tris, aku mohon...duduklah dulu." ucap Ayra menarik tangan Tristan dan mengajaknya duduk di sofa
"Tris, kenapa kau tidak tinggal di sini saja?" tanya Ayra pelan
"Aku ingin mulai menjauh dari mu, jika masih di sini akan terasa sangat sulit untuk ku ..." jawab Tristan tanpa melihat Ayra
"Tatap aku, Tris....dan jawab pertanyaan ku. " lanjut Ayra kini menatap dalam wajah Tristan
"Untuk apa aku selalu mengulanginya, kamu sudah tahu bagaimana perasaan ku padamu,.... namun aku sadar diri dan akan berusaha mundur teratur membiarkan mu hidup bahagia sesuai keinginan mu." ucap Tristan pelan menatap wajah Ayra sekilas
"Apa kau tak mau memperjuangan cinta mu dan mempertahankan aku?" tanya Ayra serius
"Apa masih kurang perjuangan ku, dan buat apa lagi jika yang aku perjuangkan lebih memilih yang lain, dan buat apa di pertahankan jika hanya membuatmu makin membenci ku." kata Tristan nampak tegar padahal hatinya menangis
"Tris, aku belum memutuskan apapun....sesungguhnya aku masih bimbang dengan apa yang aku rasakan saat ini, beri aku waktu lagi." ucap Ayra tetap menatap wajah Tristan
"Sudahlah Ayra, jangan bimbang lagi...lupakan semua tentang aku dan mulai lah bersama Arga, bukankah kau mencintainya?" kata Tristan sudah tak bisa menahan hatinya yang ingin meraung keras hingga hendak beranjak
"Setelah semua yang kita lalui bersama, ..." Ayra berusaha menahannya namun segera Tristan memotong ucapan Ayra
"Bukankah semua tak ada artinya bagimu, tetap lah membenci ku seperti dulu....itu akan lebih mudah untuk mu melupakan semuanya. Dan maafkan aku jika terlalu jauh dan terlalu banyak mengambil dari mu...." ucap Tristan lalu beranjak pergi sambil melepas paksa tangan Ayra yang memegang tangannya
"Tris, bagaimana jika aku mulai jatuh cinta padamu... bukankah aku masih punya waktu seperti kesepakatan kita." ucap Ayra sedikit keras hingga membuat Tristan menghentikan langkahnya
"Tanyakan lagi pada hatimu, aku atau Arga yang kau inginkan...." sahut Tristan tanpa menoleh dan kemudian bergegas pergi meninggalkan Ayra yang masih diam terpaku
Ayra kembali menghempaskan tubuhnya ke sofa, ia mulai terisak pelan merasakan hatinya yang merasa sangat berat setelah kepergian Tristan. Kini ia mulai merasakan ada sesuatu yang hilang saat Tristan tak ada di dekatnya.
"Tristan, kenapa kau tak memberi ku sedikit lagi waktu, aku sedang berusaha meyakinkan hati dengan apa yang sebenarnya aku rasakan saat ini. " lirih Ayra sambil tersedu
Sementara Tristan yang telah tiba di kamar kos nya, langsung menghempaskan kasar tubuhnya ke kasur. Sama dengan Ayra, ia kini merasakan matanya mulai basah dan hatinya terasa sangat sakit. Ia kemudian mengambil foto pernikahan mereka yang tadi ia bawa, menatapnya lembut dan memeluknya sambil terbaring.
"Ayra, tahu kah kamu....aku sangat mencintai mu, hati ku hancur saat ini...namun aku hanya ingin membuatmu bahagia meski hati ku harus hancur berkeping-keping. Jika berada disisi ku hanya membuatmu tak nyaman, maka aku akan berusaha ikhlas untuk melepas mu." ucap Tristan lirih dan air matanya telah mengalir di kedua pipinya
Di saat keduanya tengah meratapi sakit di hati, Arga malah merasakan semakin mencintai Ayra apalagi setelah ia tahu jika Ayra juga mulai menyukainya. Dia bisa melihatnya dari sikap dan tatapan mata Ayra, dia sangat yakin bisa memiliki Ayra. Tanpa disadari Arga merasa bahagia saat tahu Ayra sedang bertengkar dengan Tristan, mungkin terdengar begitu jahat tapi karena perasaan cintanya pada Ayra ia seperti mendapat kesempatan untuk mendapatkan nya.
"Ayra, kita pergi makan malam...aku akan segera menjemput mu." tulis Arga mengirim pesan pada Ayra
Ayra yang masih terisak di sofa, mencoba bangkit saat mendengar notifikasi dari ponselnya. Ia mengambilnya dari dalam tas dan membukanya, ternyata pesan dari Arga. Setelah membaca pesan tersebut Ayra tak langsung membalasnya, sejenak ia termenung dan setelah yakin baru membalas.
"Maaf Arga, jangan malam ini...." jawab singkat Ayra kemudian meletakkan lagi ponselnya dan beranjak dari sofa