
Tristan memacu motornya dengan kecepatan cukup tinggi, dan kebetulan weekend ini arah ke kota X tidak terlalu ramai. Meski dengan jantung yang terus berdebar, Tristan berusaha fokus berkendara. Dengan jarak tempuh yang lumayan jauh, beberapa kali mereka berhenti sejenak untuk sekedar melepas lelah.
" Kok, berhenti lagi..." tanya Ayra saat Tristan berhenti di sebuah mini market untuk kedua kalinya
" Aku haus, dan mau buang air sebentar." jawab Tristan yang sebenarnya ingin meredam perasaan deg-deg an karena baru kali ini ia sedekat ini dengan Ayra
"Dasar..." sewot Ayra yang ditinggal sendiri karena Tristan bergegas ke toilet
Saat kembali dari toilet, Tristan memandang Ayra dari kejauhan. Dia duduk didepan mini market sambil minum dari botol minuman kemasan, dan terlihat begitu menawan. Tristan kini yakin jika ia benar-benar merasa telah jatuh hati beneran pada wanita seterunya itu.
"Hah, jangan terlalu banyak berharap Tristan, kelak jika kecewa rasa sakitnya akan menghancurkan hati mu." gumam lirih Tristan pada dirinya sendiri, dan mulai melangkah mendekati Ayra dan duduk disampingnya
"Kamu ini, kalo berhenti terus kapan sampainya. Dasar lambat, udah berangkat kesiangan sekarang berhenti-berhenti melulu." oceh Ayra sebal pada Tristan
"Iya, ayo berangkat lagi...kamu enak tinggal duduk manis." sahut Tristan berjalan menuju motornya diikuti Ayra
" Oh gitu ya, oke biar aku yang didepan kamu duduk diam saja....Dasar pria lemah." gerutu Ayra membuat Tristan kali ini hilang kesabaran
"Sudah diam, bisa nggak sih tidak terus-terusan mengumpat ku begitu, aku juga punya hati. Karena aku hanya diam, kau kira orang sabar nggak ada batas nya. " sahut Tristan tak bisa lagi menahan kesal dan menatap tajam Ayra
"Ma...maaf, habis kamu..." pelan suara Ayra
"Cepat naik, katanya pengin cepat sampai." Tristan menyalakan motornya dan Ayra telah naik kembali ke boncengan
Tristan menarik gas dan melaju kencang, mau tak mau membuat Ayra berpegangan sangat kuat pada tubuh Tristan. Ayra merasakan kemarahan pada Tristan, ia sangat menyesal karena tak dapat mengendalikan ucapan nya hingga menyinggung perasaan Tristan.
Jadilah di sisa perjalanan ini penuh ketegangan diantara keduanya, namun karena Tristan memacu motornya dengan kecepatan cukup tinggi, tak terlalu lama akhirnya mereka telah tiba di tujuan. Motor mereka telah memasuki sebuah pekarangan rumah yang cukup luas, meski rumahnya tak terlalu besar dan berkesan sederhana namun terlihat begitu asri dan nyaman.
"Ayra, ibu dan bapak sudah menunggu mu sejak tadi, kirain nggak jadi pulang." ucap ibu saat menyambut kedatangan mereka berdua
"Ayo-ayo masuk,...pasti kalian sangat capek, biar ibu siapkan makanan dan minuman untuk kalian." lanjut ibu
"Tidak usah repot-repot ibu, ..." kata Tristan tersenyum ramah
"Nggak apa-apa, duduklah dulu. " sahut bapak menepuk pundak Tristan
Tristan kemudian duduk diteras depan, sedang Ayra masuk ke dalam rumah bersama ibu. Tristan meluruskan tubuhnya yang terasa pegal, berkendara dalam keadaan ngambek memang membuat tubuh terasa sangat tegang dan letih.
"Capek ya, kenapa tidak naik kereta atau bus saja?" tanya bapak yang duduk di sebelah Tristan
"Ah iya pak, penginnya biar cepet sampai soalnya tadi berangkatnya agak kesiangan." jawab Tristan sambil tersenyum kecil
"Dasar anak muda kota, nggak bisa bangun pagi ya." ucap bapak tersenyum juga
"Saya yang bangun kesiangan, pak...soalnya semalam harus lembur dulu sampai lewat tengah malam, ada pekerjaan yang harus diselesaikan." jelas Tristan memberi alasan
"Oh ya, kamu pasti sangat capek...kalo begitu setelah ini kamu istirahat dulu, tidurlah dulu nanti sore setelah badan kamu segar kembali baru kita lanjutan pembicaraan. " ucap bapak mengerti dengan rasa lelah yang dirasakan Tristan
"Sudah nggak usah canggung begitu, anggap saja rumah sendiri, bukankah sebentar lagi kita juga jadi keluarga." kata bapak kemudian
"Ini minum nya..." ucap cuek Ayra sambil meletakkan gelas berisi air dingin
"Ayra, kenapa bicara mu begitu....bagaimanapun juga dia calon suami mu, mulai lah menghargainya. " sahut bapak terlihat tak suka dengan sikap anak gadisnya pada Tristan
"Nggak apa-apa pak, biasa saja kok." ucap Tristan sambil meminum air dingin tersebut
"Nggak bisa begitu, bapak nggak suka dengan sikap kamu itu, Ayra. Sebagai seorang calon istri bukan begitu sikapnya, bapak dan ibu tak pernah mengajarkan mu sikap tidak sopan begitu." nasehat bapak pada Ayra
" Iya pak maaf, Ayra salah." ucap Ayra tak ingin memperpanjang lagi
"Kok minta maaf sama bapak, minta maaflah sama nak Tristan. " sahut bapak cepat
"Iya maafkan aku." ucap Ayra menatap tajam ke arah Tristan diikuti senyuman dan anggukan kepala Tristan
"Antarkan Tristan ke kamar tamu, biar dia istirahat dulu, dia pasti capek setelah berkendara jauh dan lagi katanya semalam dia habis lembur." perintah bapak pada Ayra
"Dasar manja..." gumam Ayra saat mengantar Tristan ke kamar tamu
"Ayra, bicara apa kamu..." sahut bapak yang mendengar gumaman Ayra
Ayra hanya nyengir mendengar ucapan bapaknya, kemudian bergegas menuju kamar tamu diikuti Tristan di belakang nya. Tristan tersenyum penuh kemenangan, ia merasa puas saat Ayra dinasehati bapaknya.
" Nih kamarnya, tidurlah anak manja..." ucap Ayra masuk ke dalam sebuah kamar dan hendak berbalik meninggalkan Tristan
"Sopanlah pada calon suami mu." lirih Tristan menahan tangan Ayra dan menatap lembut wajahnya
"Hahh, jangan berharap ya...jangan terlalu senang karena bapak membela mu." sewot Ayra berusaha melepas tangan Tristan
Namun pegangan tangan Tristan begitu kuat, ia malah menariknya mendekat hingga wajah mereka berdua berhadapan sangat dekat. Ia bisa merasakan desah nafas Ayra, dan tanpa di sadari bibirnya mendekat dan mencoba men ci um bibir Ayra .
"Hahh, mau apa kamu...jangan berani coba-coba ya." Ayra menarik wajahnya ke belakang dan mendorong tubuh Tristan
"Ahh, maaf..." singkat Tristan spontan
"Aku tegaskan sekali lagi, semua ini hanya terpaksa kita lakukan jadi jangan mencoba melewati batas. Sampai kapan pun kamu tetap seteru ku, aku benci sama kamu. " ucap Ayra nampak begitu marah namun bicara cukup pelan karena tak ingin di dengar orang tuanya
" Maaf,...namun kenapa kamu begitu membenci ku, jika aku punya salah tolong maafkanlah aku. Jika memang tidak ada cinta, setidaknya jangan juga kamu benci padaku. " kata Tristan pelan menatap wajah Ayra penuh harap
"Sudah jangan banyak omong, tidur saja. Nanti malam kamu harus bersiap untuk bicara sama bapak tentang pernikahan ini." ucap Ayra memalingkan wajahnya dan berjalan keluar dari kamar tersebut
"Ayra, aku harap kamu bisa berhenti membenci ku dan belajar mencintai ku..." lirih Tristan setelah Ayra berlalu