My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Hamil?



Tristan menepati janjinya, hari ini ia pulang ke rumah. Ayra sengaja tak masuk kerja, meski besok weekend. Hari ini ia ingin menyelesaikan semuanya, semalam ia sudah memikirkan apa yang seharusnya dilakukan. Nasehat dan saran kakak telah membantunya untuk mengambil keputusan.


"Tris, kenapa kau terlihat canggung di rumah mu sendiri?" tanya kakak saat membuka pintu untuk Tristan dan melihatnya langsung duduk di ruang tamu


"Biasa saja, kak..." sahut Tristan cepat


"Kamu tak ingin makan dulu?" tanya kakak menawarkan dan Tristan hanya menggelengkan kepala


Tak berapa lama kemudian nampak Ayra berjalan mendekati mereka, dan ia pun ikut duduk di sana. Ayra sengaja duduk di sebelah Tristan, ia menatap lembut wajah suaminya meski Tristan hanya menundukkan wajahnya. Kakak memperhatikan sikap dan ekspresi wajah keduanya, tampak sekali jika Tristan benar-benar sedang merasakan sakit dan kecewa.


"Tris, semalam kamu tidur di mana?" tanya Ayra mencoba mencairkan suasana


"Tristan, kenapa kau hanya diam....Ayra sedang bertanya pada mu." ucap kakak sambil menatap adiknya


"Kak, langsung saja pada inti masalah....aku ingin semuanya segera selesai dan jelas." kata Tristan pelan menatap kakaknya


"Kalo begitu, katakan apa yang kau inginkan?" tanya kakak tegas


"Aku hanya ingin dia bahagia, terserah padanya...." jawab Tristan pelan


"Aku ingin kita bisa bersama selamanya..." ucap Ayra lirih sambil menatap Tristan membuat Tristan kaget dan refleks menatap istrinya


"Apa kau yakin, apa kau tak salah dengan ucapan mu, jangan sampai kau menyesalinya nanti..." kata Tristan pelan


"Tristan, aku telah meyakinkan hati untuk mu....aku ingin kita selalu bersama dan belajar untuk menjadi istri yang baik untuk mu. " ucap Ayra pelan


Ayra menatap lembut wajah Tristan dan berusaha meraih tangannya, namun saat itu juga Tristan menarik tangannya. Ia juga segera memalingkan wajahnya karena tak mampu beradu pandang dengan Ayra. Kakak yang terus memperhatikan keduanya, sangat mengerti jika saat ini hati Tristan sedang sangat hancur.


"Tris, kenapa....apa kau tak ingin hidup bahagia bersama selamanya dengan Ayra ?" tanya kakak saat melihat sikap adiknya


"Kak, aku sangat ingin....aku mencintainya dan tentu saja aku ingin hidup bersamanya hingga akhir hidupku, tapi aku tak mau egois....jika hidup bersamaku hanya membuatnya tertekan dan tak nyaman, hanya membuat air matanya terus mengalir dan hatinya terasa pedih karena harus mengorbankan perasaannya pada orang yang sebenarnya ia cintai, untuk apa...." ucap Tristan pelan


"Tris, aku mencintaimu....aku tak ingin berpisah dengan mu." sahut Ayra tegas


"Benarkah, apa kau sudah bertanya pada hati mu...." tanya Tristan sambil menatap tajam wajah Ayra


"Tris, aku sudah mempertimbangkannya...aku memilih mu." ucap Ayra lirih sambil membalas tatapan mata Tristan


"Kalo memang begitu, selesaikan urusan mu dengan Arga....sebelum itu aku tak akan pulang ke rumah." sahut Tristan cepat sambil bangkit dari duduknya


"Tris, kamu mau kemana...tidak kah lebih baik jika kalian tetap tinggal bersama. " kakak menahan tangan Tristan yang hendak beranjak


"Tidak kak, aku tak sanggup...." sahut Tristan cepat


"Tristan, aku mohon tetaplah di sini...." pinta Ayra dengan suara serak menahan air mata


Tristan sama sekali tak mendengarkan ucapan Ayra, ia segera bergegas keluar dari rumah dan menyalakan motornya. Ayra segera mengejar Tristan dan memeluk erat lengannya, tak ingin membiarkan Tristan pergi.


"Tris, aku akan melakukan apapun yang kau minta, tapi tolong tetaplah di sini bersamaku." pinta Ayra pelan


"Aku akan kembali jika kau telah benar-benar mengakhiri hubungan mu dengan Arga, dan satu lagi....berhentilah bekerja di sana." ucap Tristan sambil melepaskan tangan Ayra dari lengannya


"Tristan, kenapa kau tega meninggalkan aku sendiri...." kata Ayra lirih


Ayra hanya terdiam tak mampu menjawabnya, ia memang merasa sangat bersalah. Ia telah mengkhianati kepercayaan dan cinta Tristan, kini air matanya mengalir deras sembari menatap kepergian Tristan. Tiba-tiba ia merasa sangat pusing dan tubuhnya terasa lemas hingga hampir pingsan, segera kakak membantunya masuk ke kamar dan berbaring.


"Ayra, kamu kenapa?" tanya kakak penuh perhatian


"Kepalaku pusing kak, tubuhku juga terasa begitu lemas dan ..." belum sempat Ayra berkata


Ayra segera bergegas ke kamar mandi dan muntah-muntah, kini wajahnya menjadi pucat pasi. Kakak yang menyusulnya menjadi heran dengan kondisi Ayra, ia hanya menatap Ayra dari depan pintu kamar mandi.


"Ayra, apa....apa kau hamil?" tanya kakak ragu tapi merasa curiga dengan kondisinya


"Apa kak, hamil...." sahut Ayra lirih sambil mendekati kakak yang berdiri di pintu kamar mandi


"Untuk memastikannya kita ke dokter, ya..." ajak kakak


"Tapi kak, bagaimana jika aku memang benar-benar hamil, sedang hubungan ku dengan Tristan sedang seperti ini." kata Ayra yang menjadi cemas


"Itu bagus kan, Tristan pasti akan kembali ke rumah begitu tahu kondisi mu, kita ke dokter sekarang." ajak kakak antusias


"Kak, biar aku tes sendiri dulu saja...." sahut Ayra cepat


"Kalo itu mau mu terserah, kakak belikan tespack untuk mu dulu sebelum pulang." ucap kakak


"Tak perlu kak, biar nanti aku membelinya sendiri....aku nggak apa-apa kok, jika kakak ingin pulang." kata Ayra meyakinkan


"Kamu yakin nggak apa-apa sendirian di rumah?" tanya kakak memastikan lagi


"Iya kak, ..." lirih Ayra


"Baiklah kalo begitu aku pulang dulu, kalo kamu ada apa-apa langsung hubungi kakak ya." ucap kakak berpamitan


"Iya kak, pasti....terima kasih untuk apa yang telah kakak lakukan untuk ku, dan sekali lagi maafkan aku yang telah bertindak bodoh." ucap Ayra sambil memeluk kakak iparnya itu


"Iya-iya, jangan menangis lagi dan segera kabari kakak tentang hasil tes nya nanti...." ucap kakak tersenyum menatap lembut wajah Ayra


Setelah kakak iparnya pulang, Ayra merebahkan tubuhnya ke ranjang dan mencoba menata hatinya. Ia mengusap pelan perutnya, sambil tersenyum kecil dan berharap agar dia memang benar-benar hamil. Ia pun bergegas bangkit dan melangkah keluar, ia akan pergi ke apotik untuk membeli tespack.


"Ayra, kamu sakit?" tanya Arga yang tiba-tiba sudah berdiri di sebelahnya saat sedang berada di apotik


"Ar...Arga..., kamu di sini..." sahut Ayra terbata karena kaget dan tak menyangka bertemu dengan Arga


"Kamu mau beli obat apa, kamu sakit apa, mau aku antar ke dokter saja?" tanya Arga beruntun karena merasa sangat khawatir


"Nggak usah, aku cuma pusing saja." jawab Ayra singkat


"Ini pesanan dan uang kembalinya." ucap kasir apotik pada Ayra


"Iya, terima kasih." Ayra segera menerimanya dan hendak bergegas pergi


"Ayra tunggu....boleh aku melihatnya?" tanya Arga sambil menatap bungkusan yang diterima Ayra dari kasir apotik