
Akhirnya Ayra naik ke boncengan motor tanpa menunggu persetujuan dari Tristan. Tangannya spontan memeluk erat pinggang Tristan saat tiba-tiba Tristan menarik tuas gas motornya. Mereka berdua hanya terdiam selama perjalanan, tanpa sepatah katapun hingga tiba di rumah.
Ayra segera turun dari motor dan segera membuka pintu, ia sama sekali tak menunggu Tristan dan langsung bergegas ke kamarnya. Sementara Tristan hanya menggelengkan kepalanya saja saat melihat sikap Ayra.
"Mana tangan mu?" singkat Ayra menghampiri Tristan yang duduk di sofa ruang tengah
"Tak perlu, hanya luka kecil." sahut Tristan cuek saat Ayra mencoba mengobati luka di tangannya
"Jangan berdebat..." ucap Ayra yang duduk bersimpuh di depan Tristan dan langsung menarik tangannya
Ayra mulai membersihkan luka di tangan Tristan dan mengobatinya dengan pelan. Tristan tampak tertegun namun hanya terdiam saat melihat Ayra yang bersimpuh di depannya sambil mengobati lukanya.
"Auw...pelan-pelan Ayra..." ucap Tristan meringis kesakitan
"Ini juga sudah pelan, dasar manja..." sahut Ayra ketus
Tristan kembali terdiam dan terus menatap wajah isterinya yang kini berada dekat di depannya, hatinya berdesir. Andai saja Ayra bisa merasakan apa yang sedang dirasakan oleh Tristan, namun tiba-tiba lamunan Tristan buyar.
"Sudah selesai....kamu kenapa?" ucap Ayra menatap Tristan sekilas yang nampak bengong sambil membereskan kotak obatnya
"Apa yang kau inginkan dari ku sekarang , Ayra?" tanya Tristan pelan sambil terus menatap wajah Ayra
"Dengar ya, aku nggak suka sikap berlebihan kamu pada Arga tadi." ucap Ayra menatap Tristan dan duduk di sebelahnya
"Katakan padaku, ...apa menurutmu Arga lebih baik dari aku, hingga kau mulai menyukainya?" tanya Tristan kemudian
"Aku, ...aku tak tahu apa maksud omongan mu, jangan ngaco..." sahut Ayra salah tingkah
"Apa selamanya hanya rasa benci yang pantas kau berikan untuk ku, tak ada sedikit kah celah di hatimu untuk mencintai ku?" tanya Tristan terdengar begitu pilu
"Cukup, jangan bicara yang aneh-aneh...aku akan siapkan makan malam." sahut Ayra berusaha bangkit
"Ayra, maafkan aku....jika kau anggap aku telah merampas harta paling berharga mu, jujur aku melakukannya dengan cinta tapi jika itu tidak bisa kau terima, tolong maafkan aku..." kata Tristan menahan tangan Ayra agar tidak berlalu
"Kamu keterlaluan..." lirih Ayra terduduk kembali karena tarikan tangan Tristan
"Maafkan aku, jika memang kehadiran ku disisi mu sama sekali tak berarti, aku relakan apapun keputusan mu." ucap Tristan pelan
"Jadi setelah kau mengambil semua dari ku, kau mau meninggalkan aku..." lirih Ayra menatap Tristan sambil berkaca-kaca
"Sejujurnya, dari lubuk hatiku yang paling dalam aku ingin selamanya menjadi pendamping hidup mu, aku mencintaimu ....namun jika kau tak menghendakinya aku terima apapun keputusan mu. " ucap Tristan menatap mata basah Ayra
"Apa kau masih begitu membenci ku, Ayra?" lanjut tanya Tristan lirih
"Aku, aku tidak tahu...." lirih Ayra kini telah menetes air matanya
"Aku mencintaimu Ayra, aku menginginkan mu..." ucap lembut Tristan mengusap air mata di kedua pipi Ayra
Wajahnya kini yang begitu dekat dengan Ayra, ditambah perasaan yang ia rasakan, membuat Tristan tak dapat menahan diri dan mengecup lembut bibir Ayra. Mata Ayra membulat sempurna menerima perlakuan suaminya itu, ia pun memejamkan matanya merasakan kehangatan bibir Tristan, meski dalam hatinya ia masih bimbang dengan apa yang sebenarnya ia rasakan pada Tristan.
Tristan yang tidak mendapat penolakan dari Ayra melanjutkan kecupannya menjadi se sap an dan lu mat an lembut. Nafasnya semakin memburu saat ia merasakan Ayra mulai membalasnya meski pelan, Tristan pun mengimbangi dengan lembut dan pelan juga, slow motion kiss diiringi dengan detak jantung yang berdegup kencang.
Keduanya memejamkan matanya, menikmati sensasi aneh yang kini juga dirasakan Ayra, Tristan memeluk pinggang Ayra dan menariknya merapat ke tubuhnya, dan Ayra perlahan melingkarkan kedua tangannya di leher Tristan.
"Tris,..." lirih Ayra saat mereka melepaskan tautan bibir untuk mengambil nafas
"Aku akan berhenti jika kau tak menginginkan nya..." sahut pelan Tristan dengan suara serak menahan hasratnya
Ayra hanya terdiam tak menjawab ucapan Tristan, hingga membuat Tristan mengartikan jika Ayra juga menginginkannya. Tanpa melepas tautan bibirnya, Tristan mendorong pelan tubuh Ayra hingga terbaring di sofa, kini tubuhnya telah menindih tubuh Ayra, dan keduanya mulai melampiaskan hasratnya yang telah memuncak dan aktifitas pun menjadi semakin panas.
"Auwww...." pekik Tristan saat tak sengaja tangan Ayra meremas tangannya yang terluka
"Ah, maaf....sakit ya." sahut Ayra spontan hingga kini keduanya duduk saling berhadapan dan Ayra melihat darah keluar kembali dari luka ditangan Tristan
"Nggak apa-apa." singkat Tristan menatap wajah Ayra
"Maafkan aku, lain kali tampar saja aku jika lepas kendali lagi." ucap Tristan sambil memundurkan tubuhnya dengan terus menatap wajah Ayra
"Tris, ... apa sebaiknya kita berpisah saja..." sahut Ayra tiba-tiba membuat Tristan tersentak
"Jika memang itu yang kau inginkan dan membuat mu nyaman, aku akan mencoba menerimanya...aku hanya ingin melihat mu bahagia." ucap Tristan pelan
"Jujur aku tak tahu dengan apa yang aku rasakan, aku tak ingin kita saling menyakiti....aku sadar sikap ku selama ini telah menyakiti hatimu." kata Ayra menundukkan wajahnya
"Ayra, apa kau masih membenci ku, apa sedikit pun tak ada cinta untuk ku, apa kehadiran ku disisi mu selama ini tak berarti untuk mu?" tanya Tristan dengan suara bergetar dan mengangkat wajah Ayra yang tertunduk
"Entahlah, aku tak tahu..." sahut Ayra tak kuasa membalas tatapan mata Tristan
"Baiklah, istirahatlah....tak usah masak biar aku membeli makan untuk mu, kamu mau makan apa?" ucap lembut Tristan tak mau membuat Ayra tertekan
"Delivery aja, tangan mu masih berdarah..." sahut Ayra melihat tangan Tristan
"Terserah kamu, pesen saja kalo begitu...malam ini aku akan tidur di sofa, kamu tidur saja di kamar." kata Tristan pelan
"Kamu tidak mau makan?" tanya Ayra
"Tidak, aku mau tidur..." singkat Tristan
"Maafkan aku, ..." lirih Ayra bangkit dari duduknya
"Lupakan saja yang tadi, aku janji akan menahan diri dan tak akan pernah terulang lagi, aku akan berusaha menjaga jarak dengan mu sampai saatnya kita berpisah nanti." ucap pelan Tristan sambil membaringkan tubuhnya di sofa
Ayra menatap Tristan yang terbaring di sofa dan mulai memejamkan matanya, sejujurnya hati nya terasa pedih mendengar ucapan Tristan barusan. Ia tak jadi memesan makanan dan memutuskan untuk langsung ke kamarnya, dan mulai berbaring juga.
"Maafkan aku Tris, aku sendiri juga tak mengerti dengan perasaan ku....apa aku masih membenci mu atau mungkin mulai mencintai mu." lirih Ayra bergumam sendiri sebelum terlelap