
"Apa itu tak semakin menyakiti hatimu kelak?" tanya Ayra lirih
"Aku akan menerimanya, tapi aku sangat yakin bisa membuatmu jatuh cinta padaku, bahkan tergila-gila padaku..." ucap Tristan tersenyum simpul
"Jangan terlalu percaya diri, bila kecewa sakit rasanya..." sahut Ayra mulai ketus
"Aku tak peduli, kini berjanjilah padaku..." ucap Tristan pelan menatap dalam mata Ayra diikuti dengan anggukan kepala Ayra
"Baiklah , kita sudah deal ya....jadi boleh dong nambah lagi..." sahut Tristan sambil tersenyum genit
"Tris, ini sudah terlalu sore...." ucap Ayra sambil membekap bibir Tristan yang hendak melu mat nya lagi
"Sekali lagi, dan berlanjut lagi nanti malam..." sahut Tristan melepas tangan Ayra yang membekap bibirnya
"Jangan aji mumpung ya..." sungut Ayra jutek
"Biarin, anggap saja ini yang di maksud bapak mu dengan sesuatu yang tertunda akan indah pada waktunya..." kata Tristan mulai men ci umi wajah Ayra
"Tertunda apa, terus waktu kamu menjebol gawang ku...." gumam Ayra pelan diikuti dengan suara de sah an nya yang tak bisa ditahan seiring kenikmatan yang mulai diberikan Tristan
"Ini salah satu cara ku untuk membuatmu jatuh cinta padaku...." sahut Tristan terus memberikan se sap an ke seluruh tubuh Ayra hingga membuatnya menggeliat dan men de sah
Meski sudah terlalu sore, sekali lagi mereka bermain panas hingga bermandikan keringat pada keduanya. Walau hatinya mengaku belum bisa mencintai Tristan, namun tubuhnya terus menggeliat menikmati permainan Tristan yang begitu agresif.
Kali ini Tristan menepati ucapannya hanya bermain satu ronde, kemudian mereka membersihkan diri dan Ayra mulai menyiapkan makan malam meski tubuhnya masih terasa lemas. Setelah makanan siap keduanya pun makan bersama, Tristan yang merasa sudah sangat sehat makan dengan lahapnya.
"Kamu makan atau kesurupan?" tanya ketus Ayra saat melihat Tristan makan
"Habis lapar berat ini, semua tenaga ku sudah kau kuras habis." jawab Tristan cuek sambil terus makan
"Aku?.... bukannya kamu yang serakah..." sahut Ayra ketus
"Sudah diam dan makan juga yang banyak, karena setelah ini aku tak akan melepas mu semalaman..." ucapan Tristan yang terasa mengerikan di dengar Ayra
"Nggak, aku capek...." sahut Ayra cemberut
"Istri yang baik tak akan membantah keinginan suaminya...." ucap Tristan pelan menatap genit wajah Ayra
Ayra hanya terdiam dan melanjutkan makan, sementara Tristan tersenyum simpul penuh kemenangan. Meski terkesan menolak namun hati Ayra merasa senang, hingga membuat wajahnya merona dan Tristan terus tersenyum melihat ekspresi wajah Ayra.
Setelah selesai makan Ayra lalu membersihkan meja sekalian mencuci piring dan gelas kotor, ia memang sangat risih melihat sesuatu yang kotor dan berantakan. Tristan yang duduk sambil menonton Tv melirik ke arah Ayra yang masih sibuk di dapur.
"Kenapa nggak besok saja, ..." ucap Tristan yang tiba-tiba memeluk Ayra dari belakang saat sedang mencuci piring
"Aku risih melihat sesuatu yang kotor dan berantakan, semuanya harus bersih dan rapi..." sahut Ayra cuek
"Duh, rajin banget ya..." lirih Tristan yang masih memeluk erat tubuh Ayra dari belakang dan mulai mengecup leher belakang Ayra
"Jangan ganggu, dasar maniak...." umpat Ayra kesal sambil melenguh geli
"Tapi kamu menikmatinya kan..." Tristan tak berhenti malah tambah semakin nakal
"Tristan..." pekik Ayra ketika tiba-tiba Tristan membopong tubuhnya dan membawanya masuk ke kamar
Matahari telah bersinar cukup terik saat Ayra lebih dulu membuka matanya, itupun karena mendengar suara dering ponsel Tristan. Kemudian ia meraih ponsel tersebut dan ternyata kakak Tristan telah menghubungi berulang kali, sedang si empunya masih terlelap tidur.
"Tris,... bangun, kakak menelpon mu berulangkali, cepat bangun..." ucap Ayra menggoyang goyang tubuh Tristan
"Apaan sih, masih ngantuk nih ..." sahut Tristan belum membuka matanya
"Kakak telpon berulang kali, apa kau lupa kalo hari ini kita harus ke rumahnya..." ucap Ayra mengingatkan
"Ah iya, aku lupa...kamu sih nggak bangunin aku dari tadi." sahut Tristan sambil meraih ponselnya
"Aduh firasat ini, bakal kena omelan...." gumam Tristan saat membaca beberapa pesan dari kakaknya
Tristan segera membalas pesan tersebut, sementara Ayra sudah lebih dulu pergi ke kamar mandi. Tristan menyusul Ayra yang masih di dalam kamar mandi, saat ia menyadari ternyata sudah hampir siang, padahal kakaknya sudah berpesan agar datang pagi-pagi.
"Ayra, cepatlah sedikit..."ucap Tristan mengetuk pintu kamar mandi
"Iya sabar..." sahut Ayra dari dalam
"Kalo begitu buka pintunya, kita mandi bareng..." ucap Tristan terus mengetuk pintu
"Dasar maniak, nggak ada puasnya ya..." umpat ketus Ayra yang kemudian ke luar dari kamar mandi
"Kok sewot, kan kamu yang mandinya kelamaan..." sahut Tristan gantian masuk ke kamar mandi
Setelah di bumbui dengan perdebatan dan ribut kecil, akhirnya mereka berdua siap berangkat ke rumah kakaknya. Tristan memacu motornya cukup kencang agar cepat sampai, hingga membuat Ayra mendekap erat tubuh Tristan.
"Dasar kalian ini, tidur apa pingsan sih ...matahari saja sudah terik baru bangun...." omel kakak saat keduanya telah sampai
"Maklum kak, habis lembur..." sahut Tristan tersenyum simpul
"Weekend kok lembur,....lembur bikin anak maksud mu?" ucap kakak menatap tajam wajah Tristan dan Ayra bergantian
"Itu tahu,...jadi harap maklum saja, jangan ngomel terus." sahut Tristan
"Sudah-sudah jangan ribut, ayo kita ke halaman belakang, ayah dan ipar mu sudah menunggu di sana." ajak ibu pada ketiganya
Suasana piknik kecil ala keluarga Tristan memang terlihat sederhana, namun terasa begitu hangat penuh dengan senyum dan tawa. Halaman belakang yang lumayan luas dengan beberapa pohon rindang membuat suasana sangat nyaman.
"Bagaimana Tris, apa sudah ada kabar baik buat ayah dan ibu?" tanya ayah membuat Tristan tersipu sedangkan Ayra hampir saja tersedak mendengar pertanyaan mertuanya
"Kok diem,...katanya semalam habis lembur, Yah ...makanya bangun kesiangan. " sahut kakak duluan
"Sabar, rejeki sudah diatur oleh Tuhan....yang penting terus berusaha dan berdoa." ucap ibu tersenyum pada Ayra
"Iya bu, doa kan saja baby nya cepat jadi....ya kan sayang..." sahut Tristan memeluk pundak Ayra yang duduk di sebelahnya, membuat Ayra merona
"Amin...semoga ayah cepet nambah cucu." ucap ayah tersenyum bahagia
"Mau nambah lagi dari aku nggak, Yah...mumpung suami ku pulang." ucap kakak sambil memeluk manja suaminya
"Dasar yang sudah lama nganggur, gas terus...." sahut Tristan sambil tertawa di ikuti oleh semua yang ada disana kecuali bocil