My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Terhipnotis



Setelah membaca balasan pesan dari Ayra, Arga langsung menghubunginya. Ia ingin tahu kenapa Ayra tak mau keluar makan malam dengannya, namun Ayra tak mengangkat panggilan di ponselnya, bahkan Arga mencoba berulang kali namun tetap tak ada jawaban.


Ayra memang sengaja tak mau menerima panggilan tersebut, ia beranjak ke ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan langsung berdiam di kamarnya tak keluar lagi. Hingga akhirnya ia terlelap tidur, dan baru membuka matanya lagi ketika alarm jam nya berbunyi nyaring.


Pagi itu Ayra segera bersiap ingin berangkat ke kantor lebih pagi, ia ingin bicara lagi pada Tristan. Bahkan tanpa sarapan dulu ia langsung berangkat begitu selesai bersiap. Se tiba di kantor bukannya Tristan yang ia temui duluan tapi Arga, yang ternyata juga datang lebih pagi.


"Ayra, kamu juga datang lebih pagi, rupanya kita punya ikatan batin yang kuat..." ucap Arga tersenyum bahagia saat melihat Ayra datang


"Biasa aja, aku cuma nggak ingin kena macet di jalan." sahut Ayra tenang


"Kita sarapan di kantin dulu yuk,... kamu belum sarapan kan." ajak Arga langsung menggandeng tangan Ayra


"Tapi, Ga...aku lagi nggak selera makan..." ucap Ayra berusaha menolak karena ingin menunggu Tristan


"Ayolah Ayra, temani aku...semalam kamu sudah menolak ajakan ku, jadi harus diganti sekarang." ucap Arga sedikit memaksa dan mulai melangkah menuju kantin sambil menggandeng yang Ayra


"Kamu mau makan apa?" tanya Arga begitu tiba dan telah duduk di sudut kantin


"Kamu saja , sudah aku bilang tadi bahwa aku lagi nggak selera...." jawab Ayra pelan


"Aku pesan porsi besar, biar kita bisa sharing....kamu harus makan meski cuma sedikit." sahut Arga kemudian memesan makanan


"Ayo makan, Ayra...buka mulut mu. " ucap Arga lembut abul menyuap makanan ke mulut Ayra


"Arga..." lirih Ayra masih menutup mulutnya dan merasa salah tingkah karena Arga berusaha menyuapinya


"Ayra, buka mulutnya...sedikit saja, agar kamu tidak sakit. Boleh sedih tapi perut harus tetep di isi." bujuk Arga dengan sabar hingga akhirnya Ayra sedikit membuka mulutnya


Sebenarnya Ayra merasa nggak enak dengan sikap Arga yang dengan begitu sabar menyuapinya, apalagi tiap orang yang ada di sana memperhatikan nya dengan tatapan aneh. Mungkin mereka berfikir jika Ayra sedang selingkuh dengan atasannya, karena hampir semua karyawan tahu jika Ayra sudah menikah dengan Tristan.


"Tristan...." lirih Ayra saat tak sengaja menoleh ke arah Tristan yang ternyata sedang melihatnya


Ayra spontan hendak bangkit dari duduknya dan ingin menghampiri Tristan, namun dengan cepat Arga menahan tangan Ayra. Arga menatap wajah Ayra yang tampak begitu tegang, dan menggelengkan kepalanya.


"Duduklah lagi, percuma kamu menghampiri dan bicara dengannya sekarang, dia tak akan mendengar mu ...bisa-bisa kalian bertengkar di sini, apa kau tak malu di lihat banyak orang." ucap Arga pelan berusaha menenangkan Ayra


"Tapi, Ga...aku nggak mau dia semakin salah paham pada kita." sahut Ayra pelan juga


"Salah paham tentang apa?" tanya Arga berusaha memancing Ayra untuk mengakui perasaannya


"Tristan berfikir kalo kita berdua punya hubungan spesial, dia berfikir kalo aku..." ucapan Ayra segera dipotong Arga


"Bukankah itu benar, ....mulailah menjelaskan padanya tentang perasaan kita." sahut Arga memotong ucapan Ayra


"Arga, ...." pekik Ayra kaget dan tak menyangka dengan apa yang barusan dia dengar


"Tapi, Ga...aku masih belum yakin dengan apa yang aku rasakan saat ini...." sahut Ayra pelan dan ragu-ragu


"Kalo begitu yakinkan lah,...mulai bicarakan padanya tentang hubungan kita dan bukankah kamu ingin berpisah darinya." ucap Arga menatap dalam mata Ayra


"Tanpa kamu bicara, aku sudah tahu dan bisa mengerti tentang bagaimana sebenarnya hubungan kalian, aku juga tahu jika kecurigaan ku dulu adalah benar." sekali lagi ucapan Arga membuat Ayra tersentak kaget


Ayra hanya terdiam mendengar semua ucapan Arga, entah bagaimana Arga bisa tahu. Lidahnya menjadi kelu dan dapat berkata apapun, ia tak membantah ucapan Arga namun juga tak membenarkan nya. Kini ia merasakan matanya mulai basah dan hatinya terasa sangat bimbang dan bingung dengan perasaannya kini.


"Jangan menangis, ayo makan lagi...." ucap lembut Arga sambil mengusap air mata di pipi Ayra


"Tidak, cukup..." lirih Ayra sambil menggelengkan kepala


"Ayra, aku ingin mulai sekarang kamu jangan pernah bersedih atau menangis lagi, aku ingin selalu melihat mu tersenyum..." kata Arga tenang sambil tersenyum kecil


"Selesaikan semua masalah mu dengan Tristan, akhiri semuanya dengan baik-baik....bagaimanapun juga ia telah menjaga mu dengan baik selama ini." ucap Arga masih menggenggam erat tangan Ayra


"Setelah itu kita akan mulai melangkah menuju hubungan yang lebih serius, aku ingin menikah dengan mu, Ayra...aku ingin kamu menjadi ibu dari anak-anak ku nanti." lanjut Arga begitu manis dan romantis hingga membuat Ayra tak mampu berkata-kata lagi, seperti terhipnotis dengan semua tutur kata Arga


Sementara itu Tristan yang hatinya remuk dan hancur berkeping-keping setelah melihat kemesraan mereka berdua, merasa tak sanggup lagi untuk tetap berada di kantor apa lagi jika harus melihat keduanya. Ia memutuskan untuk pergi dari kantor dan tak jadi bekerja, ia ingin sendiri dan meratapi sakit di hatinya.


"Dini, tolong sampaikan pada pak Arga , aku ijin hari ini. " ucap Tristan saat bertemu dengan Dini


"Lhah, sudah sampai di kantor kok balik lagi, memang ada apa ?" tanya Dini yang merasa sangat heran


"Aku merasa nggak enak badan, kepalaku pusing....tolong ya." jawab Tristan buru-buru melangkah


"Iya-iya, istirahatlah semoga cepat sembuh..." sahut Dini cukup keras karena Tristan telah berlalu


"Pagi, Dini..." sapa Ayra tak lama setelah Tristan berlalu


"Ayra, kamu...." sahut Dini bengong dan merasa bingung


"Hei...kamu kenapa Din, malah bengong..." ucap Ayra menepuk pelan pundak Dini


"Aku bingung, sebenarnya ada apa dengan kalian...." sahut Dini mengedipkan matanya


"Maksud kamu apa, bicara yang jelas?" tanya Ayra kemudian


"Tadi Tristan sudah datang sendirian tak bareng kamu, tapi tiba-tiba ia pergi lagi... dia bilang nggak enak badan, trus baru saja Tristan pergi kamu datang, seperti main petak umpet. Apa kalian sedang bertengkar, apa kalian baik-baik saja?" tanya Dini yang hadi penasaran dengan hubungan keduanya


"Apa,...Tristan sakit, kapan perginya?" tanya balik Ayra ikut bingung


"Tuh kan, ....kamu ini istrinya dan tinggal serumah dengannya, kenapa nggak tahu kalo suami mu sakit." ucap Dini penuh selidik dan mulai curiga