My Enemy Is My True Love

My Enemy Is My True Love
Perjuangkan



Ayra yang merasa cemas setelah diberi tahu Dini, langsung menghubungi ponsel Tristan tapi tidak di angkat. Setelah mencoba berulang kali namun tetap tak diangkat, kemudian Ayra mengirim pesan tapi tidak juga di balas. Ayra kini yakin jika Tristan sedang sangat kecewa padanya, seharian ini meski tubuhnya berada di kantor, namun pikiran Ayra selalu pada Tristan.


Sementara itu Tristan hanya berdiam di kamar kos nya, ia tampak begitu sedih dan meratapi nasib cintanya pada Ayra. Saat Ayra menghubunginya melalui ponsel, ia sengaja tak mengangkatnya atau pun membalas pesannya. Namun tak lama kemudian ponselnya berdering lagi, dan kali ini kakak yang menghubunginya.


"Ya, kak..." sahut Tristan mengangkat panggilan di ponselnya


"Suaramu terdengar sangat lemah, apa kau masih sakit?" tanya kakak kemudian


"Cuma sedikit pusing, kak." jawab Tristan singkat


"Kamu tidak ke kantor?" tanya kakak lagi


"Tidak kak, aku ijin hari ini." jawab Tristan pelan


"Tris, kakak ke rumah ya?" tanya kakak meminta persetujuan


"Kapan kak?" singkat Tristan


"Ya, sekarang lah...kebetulan kakak sedang di luar dan nggak begitu jauh dari rumah mu, jadi sekalian aja kakak mampir." ucap kakaknya


"Ya, kak." sahut Tristan pelan kemudian mematikan ponselnya


Tristan dengan malas segera bangkit dan bersiap untuk pulang ke rumahnya, ia tak mau keduluan kakaknya sampai dirumah. Untung jarak tempat kos nya tidak terlalu jauh, namun demikian saat tiba di rumahnya ternyata sang kakak sudah menunggu di teras depan.


"Kamu ini dari mana, katanya di rumah sedang sakit?" tanya kakak begitu melihat Tristan datang


"Keluar sebentar kak, ngopi..." sahut Tristan beralasan


Tristan segera turun dari motor dan mengambil kunci ditempat biasa, untung saja Ayra tak lupa meletakkan kunci disana. Setelah pintu terbuka Tristan langsung mempersilahkan kakaknya untuk duduk.


"Duduk kak, mau minum apa?" tanya Tristan


"Nggak usah, kakak tadi habis minum...nanti kalo haus biar kakak ambil sendiri. Kemarilah, duduk...ada yang ingin kakak tanyakan." ucap kakak kemudian


"Ada apa?" sahut Tristan singkat setelah duduk di sebelah kakaknya


"Kamu beneran masih sakit?" tanya kakak sambil memegang kening adiknya


"Sudah nggak demam, cuma sedikit pusing. " sahut Tristan pelan


"Kenapa kamu jadi selemah ini, mana Tristan yang kuat dan nggak gampang sakit.... sepertinya kamu sedang banyak pikiran, katakan pada kakak ada apa sebenarnya?" tanya kakak menatap dalam mata Tristan


"Jangan bohong, mata mu mengatakan lain...sebenarnya sejak kemarin kakak melihat ada yang aneh dengan sikap kalian berdua. Jujurlah pada kakak, bukannya aku ingin mencampuri urusan rumah tangga kalian, siapa tahu aku bisa memberi saran dan masukan." ucap kakak berusaha mencari tahu tentang masalah adiknya


Tristan yang tak bisa mengelak dari tatapan dalam kakaknya, akhirnya memutuskan untuk berkata jujur, dan ia mulai menceritakan tentang hubungannya dengan Ayra. Semuanya, sejak awal mereka memutuskan untuk pura-pura menikah hingga saat kini ia telah benar-benar jatuh cinta pada Ayra, namun ternyata Ayra tidak bisa menerimanya dan malah mulai dekat dengan Arga.


"Kalian ini benar-benar sudah gila, menikah kok buat main-main." sahut kakak setelah mendengar cerita Tristan


"Saat itu Ayra begitu takut dengan sifat agresif Arga,....tapi tak disangka sekarang justru Arga yang berhasil mengambil hati Ayra." ucap Tristan pelan sambil menata hatinya


"Jadi sampai sekarang Ayra masih membenci mu, apa sedikit pun ia tak menyukai mu?" tanya kakak penasaran


"Jika melihat dari sikapnya begitu, tapi dia bilang masih belum yakin dengan perasaannya saat ini. " jawab Tristan pelan


"Itu berarti masih ada kemungkinan dia mulai mencintai mu, kenapa kau tak berusaha bertahan bersama dulu, kenapa harus tinggal terpisah?" tanya kakak menginterogasi Tristan


"Akhir-akhir ini aku melihatnya semakin dekat dengan Arga, jika masih berada di dekatnya akan semakin membuat ku sakit dan tersiksa." jawab Tristan sedih


"Tapi hubungan kalian sudah ...kamu mengerti kan maksudku atau kau sama sekali belum menyentuh nya?" tanya kakak lagi


"Sudah, sebelumnya hubungan kami sudah seperti suami istri pada umumnya meski di awal dia begitu kecewa dan marah, namun sekali lagi karena kedekatan nya dan perasaan nya pada Arga, dia menjadi ragu untuk terus mempertahankan pernikahan yang pada awalnya hanya pura-pura ini." jawab Tristan menjelaskan


"Saran kakak, sebaiknya kamu bertahan dan berjuang untuk mendapatkan hatinya, itu jika kamu memang mencintai dan menginginkan nya. Jangan mengalah pada Arga, bersainglah untuk mendapat cinta Ayra." ucap kakak memberi saran


"Sebelumnya kami memang telah sepakat untuk memberi waktu tiga bulan untuk memutuskan apakah hubungan ini masih bisa bertahan, namun kemudian ia tampak semakin dekat dengan Arga hingga membuat aku merasa ingin melepasnya jika memang ia bisa bahagia bersama Arga, aku mencoba untuk ikhlas dan menerimanya." ucap Tristan mulai berkaca-kaca dan bersandar di bahu kakak nya


"Aku sangat mencintai nya, kak....aku hanya ingin dia bahagia, jika bersamaku membuatnya tak nyaman biarlah aku yang mundur." lanjut Tristan dengan suara bergetar menahan air matanya menetes


"Tris, aku mengerti dengan perasaan mu saat ini,.... tapi menurut kakak, jangan menyerah begitu saja, posisi mu sudah satu level di atas Arga. Kamu suami sah nya dan kamu juga sudah memiliki Ayra seutuhnya, jadi seharusnya kesempatan mu untuk mendapatkan hati Ayra jauh lebih besar darinya. Kuatkan hati mu dan berjuanglah untuk mendapatkan cinta mu...Ayra itu wanita yang baik, dia pantas di pertahankan, Tris. Jangan sampai kelak kau menyesalinya..." ucap kakak berusaha memberi pengertian sambil mengusap pelan kepala adiknya itu


"Tapi kak, bagaimana jika dia tetap membenci ku dan lebih memilih Arga?" tanya Tristan terdengar begitu pilu


"Yang penting perjuangkan dulu cinta mu, jika pada akhirnya ia lebih memilihnya maka itu berarti takdir. Mungkin kamu bukan cinta sejati dan bukan belahan jiwa Ayra, dan mungkin kamu memang tak di kirim Tuhan untuk menjadi pendamping hidup Ayra. Namun sekali lagi perjuangkan dulu..." lanjut kakak berusaha menenangkan dan menguatkan hati Tristan


"Apa aku sanggup untuk merasakan sakit dan tersiksa saat melihatnya jalan bareng Arga, ..." sahut Tristan pelan


"Harus kuat, tunjukkan pada Ayra ketulusan dan ketangguhan hati mu...kakak yakin Ayra meski baru sedikit tapi ia mulai membuka hati pada mu, yakin kan hatinya untuk memilih mu. Jangan mudah menyerah, pria sejati tak akan pernah melepaskan cintanya begitu saja tanpa perjuangan." ucap kakak menyemangati Tristan sambil tersenyum kecil


"Terima kasih kak, karena telah mendukung ku....aku akan berusaha sekuat mungkin, tapi tolong jangan cerita kan pada ayah dan ibu ataupun orang tua Ayra tentang semua ini, hanya aku, Ayra dan kakak saja yang tahu." kata Tristan kemudian


"Baiklah, ayo semangat....beri kabar baik untuk kita semua nanti." sahut kakak tersenyum bahagia menatap wajah Tristan yang mulai hangat